MENTAN : PRODUKSI PADI TAHUN 1997 TURUN

MENTAN : PRODUKSI PADI TAHUN 1997 TURUN[1]

 

Jakarta, Antara

Menteri Pertanian Syarifuddin Baharsjah mengatakan, produksi padi tahun 1997 mencapai 49,13 juta ton gabah kering giling (GKG) yang berarti turun dibandingkan tahun 1996 yang mencapai 51,3 juta ton GKG, akibat kekeringan tahun ini.

Namun, penurunan itu tetap melebihi kebutuhan masyarakat yang mencapai sekitar 31juta ton lebih/tahun dengan rata-rata konsumsi per kapita 130kg/tahun, kata Mentan setelah melapor kepada Presiden Soeharto, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat.

Mentan juga mengatakan bahwa tidak ada alasan produksi padi tahun 1998 menurun dibandingkan tahun 1997. Hal itu didasarkan atas pengalaman produksi pada masa paceklik tahun 1991 dan 1992 serta 1994 dan 1995.

Ia juga menjelaskan, ada kemungkinan bahwa ramalan turunnya hujan mengalami revisi. Sebelumnya, BMG meramalkan bahwa November ini hujan turun, namun direvisi kembali mengenai kemungkinan akhir Desember ini hujan baru turun.

Oleh karena itu, Mentan bersama dengan Menteri PU Radinal Moochtar telah meninjau Waduk Jatiluhur, Jabar guna mempelajari lebih lanjut masalah itu. Mentan dan Menteri PU kemudian melakukan perhitungan atas dua asumsi yaitu pertama,jika hujan turun November dan kedua,jika hujan turun akhir Desember. Setelah mengkaji dengan cermat disimpulkan bahwa jika hujan turun November, tidak akan ada masalah yang terlalu besar karena kebutuhan air petani baik golongan 1,11, III dan IV masih bisa dipenuhi.

Jika hujan turun akhir Desember, maka kemungkinan petani golongan IV yang terkena pengaruhnya walaupun dampaknya tidakkelewat buruk, katanya.

Waduk itu mampu mengairi 238 ribu hektare sawah untuk beberapa daerah di Jabar serta sebagai pembangkit tenaga listrik untuk kawasan Jakarta dan Jabar.

Menurut Mentan, kekeringan ini juga memberikan hikmah berupa kenaikan otomatis produksi lahan kering.

Untuk itu, pemerintah melakukan intervensi berupa peningkatan mutu bibit dan pemupukan. Dengan demikian, produksi lahan kering itujuga akan meningkat.

Tanaman perkebunan

Menjawab pertanyaan, Mentan mengatakan, musim kering saat ini juga akan menurunkan produksi tanaman perkebunan seperti kopi, teh dan kelapa sawit.

Teh diperkirakan turun sekitar 30 persen, kopi sekitar 40 persen dan kelapa sawit sekitar 30 persen. Demikian pula produksi palawija juga akan menurun. Khusus untuk penurunan produksi kelapa sawit berkaitan pula dengan masalah kebakaran yang menghanguskan lahannya.

Menurut Mentan, Biro Hukum Deptan pada saat ini menyelidiki sejumlah 11 perusahaan perkebunan yang diduga melanggar peraturan hukum.

“Ada UU Budi Daya tahun 1992 yang melarang pembukaan laban dengan cara­ cara yang merugikan masyarakat. Berdasarkan hal itu memang perusahaan perkebunan yang membakar laban bisa dituntut ke pengadilan.” katanya.

Dari 11 perusabaan itu terdapat dua perusabaan BUMN, demikian Mentan.

Sumber : ANTARA (24/10/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 449-451.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.