MENTAN KEHILANGAN BERAS AKIBAT KEKERINGAN

MENTAN KEHILANGAN BERAS AKIBAT KEKERINGAN

Jakarta, Antara

Musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan 60.969 ha tanaman padi mengalami puso, sedangkan 149.011 ha lainnya terancam kekeringan ataupun sudah menderita kekeringan yang ringan.

Ketika menjelaskan kepada wartawan di Jakarta, Kamis tentang pertemuannya dengan Presiden Soeharto di Istana Merdeka untuk melaporkan pengaruh musim kemarau, Menteri Pertanian mengatakan bahwa kekeringan itu menimbulkan dampak terjadinya kehilangan produksi beras sekitar 208.746 ton.

Pada tahun 1982 area tanaman yang terpengaruh musim kering adalah sekitar 400.000 ton. Kerugian yang diderita akibat sawah mengalami puso (tanaman tidak bisa dipanen 85 persen hingga 100 persen) adalah 167.726 ton dan akibat yang terancam kekeringan ringan adalah sekitar 41.020 ton).

Namun Achmad Affandi mengingatkan bahwa secara nasional situasi tidaklah memprihatinkan. Ia menjelaskan bahwa berbagai langkah sudah dilakukan untuk menanggulangi kemungkinan penurunan produksi antara lain dengan mempercepat masa penanaman padi.

Ketika berbicara tentang program Supra Insus, Mentan mengakui adanya pendapat bahwa program ini agak terburu-buru pelaksanaannya.

“Sasaran area Supra Insus tercapai yaitu 289.416 ton. Saya akui (Supra Insus) agak terburu-buru namun tidak terburu sekali, karena dicetuskannya baru bulan Februari,” demikian Affandi.

Program ini terpaksa dilakukan untuk menanggulangi dampak kekeringan. Sasaran area tercapai namun penerapan paketnya dengan sepuluh jurus tidaklah tercapai.

Menteri Pertanian juga melaporkan kepada Presiden Soeharto tentang pengaruh musim kemarau terhadap produksi gula. Proyeksi pada bulan Oktober tahun 1986 untuk tahun 87 adalah adalah 2,1 juta ton.

Dengan melakukan perbaikan diperkirakan pada bulan Maret dan April tahun ini disusun perkira an produksi 2,2 juta ton.

“Tapi akibat kekeringan ini maka perkiraan itu ditinjau kembali menjadi seperti perkiraan semula sebanyak 2,1 juta ton, “katanya.

Namun untuk produksi tahun 1988 perlu diprihatinkan karena diperkirakan hanya mencapai dua juta ton.

Sumber: ANTARA (03/09/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 842-843

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.