MENTAL RELIGIUS

MENTAL RELIGIUS

Oleh: Moh. Moedasir

MENJELANG peringatan Bari Pahlawan 10 November besok, kiranya penting bagi kita bangsa Indonesia walaupun hanya sejenak saja untuk memperingati, menginsyafi dan menghayati apa yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa pada bangsa Indonesia yaitu tekad bulat untuk berjuang meraih kembali kemerdekaan dan mempertahankannya.

Belakangan ini tumbuh secara serius keinginan untuk memberikan penghargaan pada salah seorang dari pahlawan-pahlawan kita dan kelompok agar Pak Harto:

1. Bersedia dipilih kembali menjadi Presiden RI Periode 1983-1988 dan

2. Mengimbau pada MPR hasil pilihan 1982 untuk mengangkat kembali Jenderal Purnawirawan Soeharto sebagai Presiden RI dan disamping itu untuk mengangkat Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan.

Berkaitan dengan adanya pemikiran tsb, kiranya tidak akan dianggap congkak jika misalnya Almarhum Soetami diangkat sebagai Pahlawan Pembangunan.

Terlepas dari pemikiran2 tsb di atas, dengan mengingat akan tibanya Hari Pahlawan, penulis terkenang pada jasa2 Bung Karno. Tempat peristirahatannya terakhir sekarang sudah dipugar dan layak untuk dijadikan monumen Makam Bung Karno, didatangi banyak peziarah baik terdiri dari bangsa kita sendiri maupun bangsa asing yang ingin menyaksikan betapa besar penghargaan yang dilimpahkan pada Bung Karno.

Penghargaan itu harus tumbuh secara spontan setelah Bung Karno hampir 10 tahun meninggalkan kita.

Pak Harto benar2 dan patut sekali sewaktu masih layaknya diakui dan diangkat sebagai Bapak Pembangunan, karena dengan demikian bukan saja mempunyai arti besar bagi bangsa Indonesia sendiri, tapi yang terpenting yaitu adanya effek yang akan menelusupi hati-sanubari orang2 terutama mereka yang duduk dalam pemerintahan di negara2 lain.

Maka dari itu penulis tak lupa untuk mengenang dan menyajikan pada para pembaca yang budiman apa dan siapa Bung Karno itu.

Pertama-tama Bung Karno merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang gigih.

Kedua sebagai Pelaksana dari itikad mempersatukan suku-bangsa Indonesia dengan selalu mengatakan bahwa Bung Karno sebagai penyambung rakyat.

Ketiga Bung Karno sebagai Penggali dan kemudian menjadi Pemimpin dalam mencetuskan falsafah bangsa Indonesia, Pancasila.

Keempat dengan kekuasaan dan juga takdir Tuhan, Bung Karno dengan ikhlas dapat menyetujui dan mengeluarkan apa yang kita kenal dengan Supersemar itu.

Kelima merintis, menggali dan menyajikan kesenian dan kebudayaan kita dengan cara yang sungguh2 antara lain misalnya sekali atau dua kali dalam sebulan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit.

Repelita ketigalah bangsa Indonesia mulai sekarang dengan giatnya berusaha meningkatkan pendidikan mental dan belakangan ini adanya usaha atau kegiatan penataran P-4 agar Pancasila bukan untuk diketahui dan dipahami saja, akan tetapi yang terpenting agar dapat mendarah daging dan dihayati benar2 oleh bangsa Indonesia.

Perjuangan menuju kemerdekaan secara menyeluruh dapat penulis katakan dimulai pada tahun 1908 dengan berdirinya "Boedi Oetomo". Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928 lahirlah dan berwujud apa yang sejak zaman Gajahmada telah merupakan angan2 yaitu yang kita kenal dengan

"Soempah Pemoeda", satoe tanah air, satoe bangsa, satoe bahasa… Indonesia dan pada saat itulah untuk pertama kali lagu Indonesia Raya dikumandangkan oleh penciptanya sendiri Bapak W.R. Supratman almarhum.

Bangsa Indonesia yang semula dianggap sebagai bangsa yang lemah dan penurut diremehkan oleh tentara Inggris. Dengan mempergunakan kapal perangnya, kapal terbangnya, alat2 dan senjata2 modernnya Inggris menggertak Arek2 Suroboyo.

Tetapi tidak disangka dan tidak dinyana oleh Inggris, Arek2 yang ada di Suroboyo bukannya ber-kelompok2 terpisah sebagai suku2 bangsa, melainkan dengan tekad bulatnya rasa sebagai bangsa Indonesia bersatu-padu menyambut gertakan yang menyakitkan hati itu secara yang benar2 dikatagorikan sebagai sambutan… kepahlawanan.

Dengan adanya perlawanan dari pihak2 pemuda2, maka tidak ayal lagi, pihak kaum ulama secara spontan menggabungkan diri dan berkat kebulatan tekad pahlawan2 bangsa Indonesia, maka sesudah ber-bulan2 lamanya belantara Inggris yang mendapat bantuan dari unsur2 kelicikan dan beberapa orang atau golongan yang licik, barulah dapat masuk kepedalaman secara lamban sekali.

Malahan sampai akhir tahun 1948, baru dapat masuk kekota Kediri, karena semangat kepahlawanan Arek2 yang diperlihatkan di Surabaya itu secara serentak menyebarluaskan ke daerah2 tembus sampai ke daerah2 pedalaman.

Jadi, dimana letak kekuatan yang sampai meluluhkan bukan saja hati penyerang, tapi juga hati bangsa2 yang telah mempunyai perwakilan2nya di PBB itu?

Dengan merenungkan hal ini, perhatian dan pemikiran penulis tertumpah pada Bapak Jend. Besar Sudirman Almarhum yang sewaktu memimpin perang gerilya tak membawa perlengkapan perang yang layak. Walaupun demikian dengan kecakapan berstrateginya yang sangat cemerlang, Almarhum yang sewaktu memimpin apalagi sampai menangkap Panglima Besar kita itu.

Dan disinilah dengan takdir Tuhan yang Maha Esa, Pak Harto dilimpahi kesempatan untuk secara jelas dan tegas menunjukkan gigi pada musuh sebagaimana terjadi pada tanggal 11 Maret 1948 dan dengan demikian ber-turut2 terdapat peristiwa2 penting seperti berhasilnya perundingan Roem-van Rooyen dalam bulan Mei 1948, khusus diciptakan untuk kemudian setelah diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) tercapailah pemulihan kembali kedudukan bangsa dan negara Indonesia mulai tahun 1950, walaupun permulaan dengan nama Negara Republik Indonesia Serikat yang tidak tahan lama, akhirnya tahun 1951 berubah untuk selamanya menjadi Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan.

Bertalian dengan hal2 tsb diatas baru2 ini tepat pada hari wukuf di tanah Arafah telah pulang ke rakhmattullah, Bung Tomo, Bapak Biro Perdjoangan Rakjat Indonesia (BPRI).

Selama perjoangan kemerdekaan, Bung Karno dengan gigihnya rnengumandangkan suaranya melalui radio BPRI. Walaupun di-uber2 oleh musuh secara teliti dan terus-menerus, tak pernah sampai dapat dilacak oleh musuh, berkat semangat dan strategisnya.

Siaran yang senantiasa dimulai dengan takbir Allahu Akbar itu, benar2 menghangatkan dan rnenggetarkan sernangat perjoangan seluruh rakyat Indonesia sampai ke pelosok2.

Semoga dalam kita mengenang dan memperingati Hari Pahlawan, adanya perlu kita mendirikan monumen, sehingga tak akan dilupakan dan akan selalu dikenang baik oleh bangsa Indonesia sendiri ataupun diketahui dan diingat oleh bangsa asing, tentang kepahlawanan bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang lembah lembut dan ramah-tamah itu.

Penulis mengemukakan hal ini, karena pahlawan2 kita ataupun tokoh2nya seperti misalnya Bapak Prof. Dr. Moestopo ataupun Bapak Prof. Dr. H. Ruslan Abdulgani telah mendapat penghargaan berupa bintang-jasa Bintang Mahaputra dan sampai sekarang sepanjang pengetahuan penulis, Bung Tomo belum dilimpahi penghargaan sampai saat meninggalnya.

Sekian Kenangan Penulis Mengenai Hari Pahlawan

Kembali penulis pada uraian semula, yaitu mengenai Pak Harto di sini patut kiranya menjadi perhatian, pemikiran dan pertimbangan letak keagungan Tuhan dan kebesarannya serta keadaannya melimpahkan penghargaan pada umat-Nya yang secara tulus-iklas melakukan perjoangan guna kepentingan bangsa dan negaranya.

Kiranya jadi pemikiran, bahwa juga sewaktu Pak Harto masih dalam jayanya tumbuh dan terusik hati-sanubari baik pihak yang senang ataupun pihak yang kurang menaruh simpati, untuk mengangkatnya sebagai Bapak Pembangunan karena memang pembangunan itulah yang mengandung missi yang dilimpahkan oleh Tuhan pada manusia sedang bagi yang menjalankannya missi itu tidak akan luput dari limpahan rakhman dan rakhim Tuhan serta taufik dan hidayah-Nya dan karena dengan hati tulus­iklas yg diridhoi oleh Tuhan, Pak Harto berjuang dari sejak masa revolusi yg penuh aneka-ragam gangguan2nya, maka 2 tahun setelah Pak Harto menduduki jabatan Presiden, telah mulai dengan pelaksanaan hasratnya menyelenggarakan pembangunan.

Demikianlah kehendak Tuhan dengan mengadakan pemimpin2 dari kelompok2 dan dengan melakukan pembangunan, pemimpin2 itu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi (tanah) yang dialaminya itu guna kepentingan (terutama) makhluk manusia. Tuhan telah mentakdirkan manusianya baik lelaki maupun perempuan sebagai khalifah2nya.

Tuhan akan selalu memberikan pelajaran dan petunjuk serta meningkatkan kemampuan pada barang siapa yang dengan tulus ikhlas menjalankan petunjuk Tuhan.

Dalam agama Islam kita mengenal pelajaran atau ilmu tasawuf pada kitab2 yang tersebar sekarang sebagai hasil karya dan aksi pemikiran pada jalan agama. Semoga apa yang terjadi dan terbukti sekarang ini dapat menjadi pemikiran dan dimana mungkin pertimbangan bagi kita untuk mengokohkan iman yang menjadi pokok pangkal atau dasar agama.

Semoga tulisan serba singkat ini menjadi sumbangan pemikiran dan penghayatan tentang apa arti Pahlawan dan Kepahlawanan. (DTS)

Jakarta, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (09/11/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 258-261.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.