MENSESNEG : PEMBANGUNAN PESAT, ORANG MISKIN BERKURANG

MENSESNEG : PEMBANGUNAN PESAT, ORANG MISKIN BERKURANG[1]

 

Denpasar, Antara

Menteri Sekretaris Negara Moerdiono menegaskan, pembangunan di Indonesia berkembang pesat dan mampu mengurangi jumlah penduduk miskin dari 60 orang menjadi 14 orang untuk setiap 100 orang penduduk dalam kurun waktu 25 tahun pembangunan jangka panjang tahap pertama.

Keberhasilan itu berkat stabilitas nasional yang mantap dan diimbangi dengan keinginan masyarakat untuk membangun, kata Mensesneg Moerdiono ketika meresmikan proyek di lingkungan Kanwil Departemen Pekerjaan Umum di Tampaksiring, 60 km timur Denpasar, Senin.

Di hadapan ribuan masyarakat setempat, Moerdiono menjelaskan secara keseluruhan penduduk miskin di dunia bertambah, namun Indonesia mampu menekan sekecil mungkin.

Awal Orde Baru penduduk miskin di Indonesia mencapai 60 orang dari setiap 100 penduduk, sekarang berhasil ditekan menjadi 14 orang untuk setiap 100 penduduk.

Penduduk miskin dengan persentase yang sangat kecil itu pun masih terus diupayakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan pada suatu saat nanti diharapkan berhasil.

Kondisi itu jauh berbeda dengan negara di kawasan Asia maupun Afrika, dimana masyarakat masih hidup dalam kesusahan bahkan terjadi pertengkaran satu sama lainnya Moerdiono menilai, banyak negara yang masyarakatnya ingin hidup modern dengan melupakan agama dan kebiasaannya justru mengalami kehancuran. Bali sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia yang banyak menerima kunjungan wisatawan manca negara maupun nusantara justru tetap menjunjung tinggi agama, melestarikan adat-istiadat dan budaya yang diwarisi.

“Upaya memegang teguh kebiasaan dalam sehari-hari termasuk kehidupan gotong royong justru lebih menambah kejayaan Bali.” kata Moerdiono dengan menambahkan tidak ada negara lain di dunia seperti Bali yang memegang teguh adat-istiadat dan agama.

Kondisi ini berpengaruh terhadap ketenangan dan ketentraman Pulau Dewata, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama dan ketenangan ini diharapkan bisa dijaga pada masa-masa mendatang.

Bali dengan modal kesenian, kebudayaan didukung suasana tenang dan tentram menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara, bahkan daerah Pulau Seribu Pura ini di manca negara lebih dikenal ketimbang Indonesia.

Bahkan Presiden Soeharto setiap menerima tamu-tamu negara selalu menanyakan apakah selama di Indonesia akan mengunjungi Bali, katanya.

“Sebagian besar tamu negara dalam lawatannya ke Indonesia menyempatkan diri berkunjung ke Bali.” kata Moerdiono dengan mengingatkan masyarakat untuk tetap melestarikan nilai budaya dan keagamaan serta menjaga suasana ketenangan dan ketentraman yang mantap selama ini.

Kemudahan

Gubernur Bali Ida Bagus Oka mengatakan penduduk Bali yang berjumlah hampir tiga juta jiwa menikmati pembangunan berupa berbagai kemudahan dalam bidang transportasi, listrik, air dan aspek kehidupan sehari-hari lainnya.

Masyarakat yang menikmati air bersih untuk perkotaan kini mencapai 83,79 persen dan pedesaan 66,9 persen diharapkan bisa ditingkatkan menjadi 90 persen untuk perkotaan serta 80 persen bagi pedesaan pada akhir Pelita VI.

Demikian pula sarana dan prasarana pendukung lainnya terus ditingkatkan, bahkan mulai 1 April 1997, kedelapan Kabupaten dan satu kodya di Bali melaksanakan otonomi daerah.

Semua Kabupaten dan Kodya di Bali melaksanakan otonomi secara penuh, salah satu dari tiga propinsi lainnya di Indonesia yakni Kalimantan timur dan Jambi, kata Gubernur Oka.

Mensesneg Moerdiono pada kesempatan itu menandatangani prasasti peresmian proyek air bersih di lingkungan Pekerjaan Umum seluruhnya menelan dana Rp.15,1 miliar.

Biaya tersebut bersumber dari pemerintah pusat Rp.8,63 miliar dan APBD Bali Rp.6,56 miliar yang dibangun mulai tahun anggaran 1991/1992 hingga 1996/1997.

Proyek air bersih untuk masyarakat pedesaan, ibukota kecamatan dan kabupaten di seluruh Bali, peresmiannya dipusatkan di Kecamatan Tampaksiring, sekitar 1,5 km dari Istana Negara Tampaksiring.

Sumber : ANTARA (31/03/1997)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 786-787.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.