MENPORA HARAPKAN YLKI MENAHAN DIRI

MENPORA HARAPKAN YLKI MENAHAN DIRI[1]

 

 

Jakarta, Antara

Menpora Bayono Isman mengimbau kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk sabar dan menahan diri dengan tidak melontarkan komentar yang menyudutkan Konsorsium dan OC SEA Games sampai ada penjelasan terbuka pada saatnya.

Menurut Menpora yang memberi keterangan di Jakarta, Kamis, pihaknya telah meminta kepada Konsorsium agar menunjuk akuntan publik yang terdaftar untuk mengaudit jumlah pemasukan dana dari penjualan stiker SEA Games XIX.

“Basil audit itu bisa diperoleh masyarakat umum, termasuk YLKI, dan setelah ada laporan audit itu serta penjelasannya dari pihak Konsorsium, silakan YLKI atau pihak lain memberikan komentar,” kata Menpora.

Meskipun Menpora menganggap wajar pernyataan keras dari YLKI tentang penggalangan dana yang tidak transparan oleh Konsorsium OC SEA Games, namun Menpora mengharapkan agar untuk sementara menahan diri dan bersabar.

“Basil audit itu juga akan menjadi bahan penting laporan saya kepada Komisi Vll DPR-RI dalam rapat kerja yang menurut rencana pada bulan November,” kata Bayono. Bari Rabu lalu, YLKI dalam pernyataannya antara lain mengimbau agar masyarakat tidak membeli stiker sukarela SEA Games itu.

YLKI mengkritik peredaran stiker SEA Games yang diperpanjang sampai 31 Desember 1997, padahal SEA Games telah selesai pada 19 Oktober lalu.

Tentang perpanjangan peredaran stiker SEA Games itu sendiri, Bayono berpendapat bahwa hal itu sudah diputuskan berdasarkan SK Menteri Sosial atas petunjuk Presiden Soeharto.

“Namun setelah 31 Desember nanti, sebaiknya tidak diperpanjang lagi, karena bagaimana pun penggalangan dana melalui penjualan stiker yang berkelanjutan sangat tidak tepat, sebaiknya dicari mekanisme lain yang lebih baik,” kata Hayono.

Salah satu alternatif untuk menggalang dana bagi pembinaan olahraga jangka panjang, menurut Hayono, pihaknya telah melakukan pendekatan dengan kantor Menko-Prodis dan masih sedang diteliti berbagai kemungkinannya.

“Yang jelas penggalangan dana itu tidak berdampak judi, tidak merugikan masyarakat tidak mampu dan tidak berbiaya tinggi,” kata Hayono.

 

Rp39 Milyar

Dijelaskan oleh Menpora bahwa dia mendapat laporan hingga Oktober 1997, perolehan dana penjualan stiker melalui pelanggan listrik, telepon, penumpang pesawat dan pemilik kendaraan melalui STNK, adalah sebesar 39 miliar rupiah lebih.

“Ditambah dengan Rp20 milyar dari pihak sponsor dan dari masyarakat perbankan sebesar Rp1,5 milyar, maka dana yang sudah terkumpul Rp60 milyar lebih,” kata Hayono.

Karena kekurangan itulah, maka Konsorsium telah meminjam dana kepada lembaga keuangan sebesar Rp40 milyar dengan bunga 15 persen per-tahun.

“Pembayaran utang Rp40 milyar itu kemungkinan sumbernya dari penggalian dana melalui stiker,” tambahnya.

 

Hotel Mulia

Tentang pernyataan Humas Hotel Mulia, Ira Maya Sopha yang menyatakan bahwa Hotel Mulia adalah hotel untuk umum dan bukan untuk atlet, Menpora menyatakan

“Saya heran, bukan hanya kaget, tapi kaget sekali, kok begitu omongnya,” kata Hayono.

Menurut Hayono, sejak hotel itu belum dibangun, telah ada komitmen dengan Joko Chandra (pemilik Hotel Mulia), bahwa hotel itu akan membantu keringanan bila ada event olahraga nasional dan internasional di Jakarta.

“Jadi bukan hanya SEA Games XIX saja. Tapi biarlah, selama yang omong itu Humasnya, tapi kalau yang berbicara Joko Chandra, maka jelas akan langsung saya panggil,” tegas Menpora.

(T.OK08/23/ 10/97 19:38/0K03/RU1)

Sumber: ANTARA (03/11/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 639-640.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.