MENPERTAM PERSIAPAN SIDANG OPEC 1987 DI WINA

MENPERTAM PERSIAPAN SIDANG OPEC 1987 DI WINA

Jakarta, Antara

OPEC sangat berkepentingan mengajak kembali Irak ikut dalam kesepakatan mengenai batas produksi karena kalau tetap lepas seperti sekarang, produksi minyak negara itu bisa membumbung sampai empat juta barel/hari, kata Menteri Pertambangan dan Energi Prof. Dr. Subroto.

Menteri Subroto melapor kepada Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta Senin mengenai persiapan menghadapi sidang OPEC di Wina mulai 9 Desember mendatang.

Selesai melapor, ia menjelaskan kepada wartawan bahwa sejak Irak tidak ikut dalam kesepakatan OPEC Desember 1986 produksinya melonjak menjadi 2,7 juta barel/hari, berarti jauh di atas kuota yang ditolaknya 1,5 juta barel.

Menurut Subroto, produksi Irak akan mencapai tiga juta barel/hari pada akhir tahun ini. Bahkan apabila jalur pipa minyaknya yang melalui Turki sudah terbuka maka produksi negara itu bisa digenjot sampai empat juta barel.

Irak berusaha meningkatkakan produksi minyaknya setinggi mungkin karena perlu dana bagi perangnya dengan Iran yang sudah berlangsung tujuh tahun.

Mengingat bahwa peningkatan produksi di luar kontrol dapat merusak tingkat harga, maka penting bagi OPEC untuk menarik kembali Irak ke perjanjian.

Tapi repotnya, ujar Subroto, untuk itu diperkirakan Irak akan minta syarat diberikan kuota (jatah produksi) yang sama dengan kuota Iran, yaitu sekarang 2,36 juta barel/hari.

“Kita bisa maklum kalau nanti Iran berkeberatan atas syarat itu.”

Masalah Irak disebut Subroto akan menjadi salah satu masalah rumit yang dibahas sidang OPEC mendatang. Masalah rumit lainnya adalah menyangkut harga minyak dan batas produksi tertinggi OPEC.

Kepada Subroto, Presiden berpesan agar dalam sidang OPEC mendatang itu diusahakan semaksimal mungkin tercapai suatu kesepakatan yang utuh, sebab kalau tidak maka akan timbul bahaya yakni merosotnya kembali harga-harga minyak bumi di pasaran dunia.

Mengenai harga, Subroto mengungkapkan adanya dua pendapat diantara 13 negara anggota OPEC. Satu pihak menginginkan dipertahankannya tingkat harga 18 dolar AS/barel secara nominal sampai tahun 1988.

Namun ada pihak yang menghendaki dinaikkannya harga nominal 18 dolar, dengan alasan bahwa harga 18 dolar sekarang secara nyata lebih rendah akibat inflasi dan depresiasi dolar AS.

Mengenai batas produksi tertinggi OPEC untuk tahun depan, Subroto berpendapat harus ditetapkan dengan pempertimbangkan keadaan pasaran dan penawaran serta memperhatikan simpanan (stock) minyak yang ada di negara-negara industri.

Untuk menetapkan apakah produksi tertinggi 16,6 juta barel/hari perlu ditingkatkan atau dipertahankan atau diturunkan, itu tidak bisa dilepaskan dari ukuran­-ukuran pasar, kata Subroto.

Atas pertanyaan wartawan, ia memperkirakan permintaan minyak dunia sampai akhir tahun ini sekitar 48,8 juta barel/hari berarti turun sedikit dibandingkan permintaan tahun lalu, yaitu 48,7 juta barel.

Sumber: ANTARA (23/11/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 568-569

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.