MENMUD UPPPP PENYAKIT KEGUGURAN TERNAK SAPI

MENMUD UPPPP PENYAKIT KEGUGURAN TERNAK SAPI

Jakarta, Antara

Menmuda Hutasoit hari Senin di Bina Graha melaporkan kepada Presiden Soeharto tentang bahaya penyakit keluron (keguguran) pada ternak sapi, kerbau dan kambing yang akhir-akhir ini menunjukkan gejala meningkat.

Kepada wartawan Menmuda menjelaskan, penyakit yang dalam bahasa latin disebut “brucellosis” itu sebernarnya sudah dikenal sejak abad XIX di Indonesia, merupakan  penyakit  yang daya tahannya  cukup kuat.

Ternak yang terserang penyakit ini, katanya, tidak sampai mati namun terhambat perkembangan populasinya karena ternak itu tidak bisa melahirkan anak hidup, meskipun bisa bunting.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap ribuan ternak selama ini, diketahui bahwa penyakit itu berjangkit pada sapi perah 10,88 persen (dari jumlah yang diteliti), kerbau 2,08 persen, ternak babi 33,30 persen dan pada kambing/domba 5,35 persen.

“Persentase penyebaran penyakit ini mulai meresahkan kita, lebih-lebih pada saat kita sekarang mengembangkan berbagai proyek peternakan,” katanya.

Cara penanggulangan yang selama ini ditempuh, adalah dengan penyembelihan terbatas pada ternak yang jelas mengidap penyakit tersebut serta melakukan vaksinasi pada ternak-ternak di sekitarnya.

Daging ternak yang terserang penyakit ini tidak berbahaya, asal alat-alat reproduksinya dibuang. Dengan pemotongan terbatas ini 75 persen nilai ternak tersebut dapat terselamatkan, sehingga peternak tidak terlalu rugi, katanya.

Dijelaskan juga bahwa penyakit keluron itu ditularkan melalui perkawinan antar ternak, bahkan juga melalui kontak fisik antar binatang tersebut.

Menmuda juga minta kewaspadaan para peternak dan petugas Dinas Peternakan akan bahaya penyakit darah pada ternak (tripanosoma efansi) yang bisa ditularkan oleh sejenis lalat.

Menmuda juga melaporkan masalah pengembangan peternakan sapi perah melalui PIR ternak di Jawa Tengah yang sudah mulai berjalan dan di Jawa Timur yang sedang direncanakan. Ia mengatakan, berdasarkan proyeksi Repelita IV Indonesia masih perlu mengimpor 50.800 sapi perah.

Namun angka itu menurut pendapatnya perlu ditinjau kembali, mengingat semakin mahalnya harga susu bubuk impor (akibat devaluasi) dan susu segar di dalam negeri, sehingga menyebabkan harga produk susu hasil campuran itu melonjak tinggi.

Oleh karena itu Presiden memberi petunjuk kepada Hutasoit untuk secara cermat menghitung kembali berapa lagi Indonesia perlu mengimpor sapi perah, supaya permintaan dan penawaran di pasaran seimbang dengan harga layak.

Dalam mengembangkan PIR persusuan, Hutasoit berpendapat perlunya digalakkan penerangan dan penyuluhan kepada peternak dan Koperasi Unit Desa (KUD) agar mereka tidak salah paham mengenai pola PIR persususan yang sedang dilakukan di Jateng dan akan diterapkan di Jatim.

Sumber: ANTARA (09/03/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 694-695

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.