MENKOP PRIHATIN MASIH ADA SARJANA MENGANGGUR

MENKOP PRIHATIN MASIH ADA SARJANA MENGANGGUR[1]

 

Bandar Lampung, Antara

Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (Menkop-PPK) Subiakto Tjakrawerdaya menyatakan prihatin, mendapati masih adanya sarjana lulusan perguruan tinggi menganggur dan tidak mendapatkan lapangan kerja.

“Masak sarjana malah menganggur, wong yang sekolahnya tidak tinggi-tinggi juga bisa jadi konglomerat,” kata Menkop-PPK dalam ceramah umum kepada mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) di Kampus Gedongmeneng Bandar Lampung, Senin.

Menkop-PPK Subiakto mengemukakan kenyataan seperti itu pernah dilaporkan Menaker kepada Presiden Soeharto, bahwa saat ini di Indonesia masih ada sekitar 200.000 orang sarjana dan lulusan perguruan tinggi yang tiap tahun tidak mendapatkan pekerjaan dan terpaksa menganggur setelah lulus.

“Ternyata kok ya memang ada sarjana yang kenyataannya masih menganggur,” ujar Menkop-PPK pula.

Subiakto mengaku tak habis pikir kenapa sampai begitu, padahal di masyarakat ada yang sekolahnya cuma lulus SD dan tidak sampai menyelesaikan pendidikan tinggi ternyata bisa menjadi pengusaha sukses bahkan konglomerat yang disegani.

Kepada para mahasiswa Unila dalam ceramah ‘Peluang Kewirausahaan Bagi Mahasiswa’ yang dipandu Rektor Unila Alhusniduki Harnim didampingi Gubernur Poedjono Pran yoto, Menkop-PPK mengharapkan sebagai manusia yang menguasai iptek, para sarjana sudah seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Kalau memang tak memenuhi syarat dan sulit menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta karena ketatnya persaingan, dengan penguasaan iptek yang dimiliki lulusan sarjana itu hendaknya bisa menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja sendiri,” katanya.

Namun diingatkan, merintis usaha seperti itu memang harus bersusah payah lebih dulu dan harus didukung dengan disiplin dan etos kerja yang tinggi disertai keuletan dan sikap pantang menyerah, dipastikan usaha yang dirintis akan memiliki peluang bersaing dan dapat berkembang optimal.

“Kalau maunya setelah lulus, bisa enak mendapatkan pekerjaan di kantor besar, bergaji tinggi, bergaya serba ‘wah’ ya…repot kalau maunya serba enak melulu,” kata Menkop-PPK lagi.

Ia berharap adanya sarjana yang menganggur tidak terjadi di daerah Lampung karena lulusan perguruan tingginya seharusnya sudah memiliki bekal mencukupi untuk menciptakan pekerjaan sendiri (wirausaha).

Tapi data Depnaker Lampung sampai saat ini justru mencatat adanya kecenderungan lulusan perguruan tinggi di daerahnya yang semakin banyak tak tertampung oleh lapangan kerja tersedia karena lebih banyak menyediakan peluang bagi lulusan SLTA ke bawah.

Akibatnya puluhan ribu orang sarjana (sekitar 30.000 orang) dari sedikitnya 150.000 angkatan kerja baru tiap tahun tak mendapatkan lapangan kerja yang memadai.

Rektor Unila Alhusniduki Hamim, SE, MSc kepada Menkop-PPK dan Gubernur Lampung serta beberapa konglomerat yang diajak Menkop-PPK (Sudwikatmono dan Sofyan Wanandi) merinci seluruh mahasiswa Unila berjumlah

11.000 orang, 1.900 diantaranya adalah mahasiswa baru yang mengikuti Penataran dan Orientasi (Prodikti).

“Alhamdulillah, Unila sudah mulai diminati lulusan SLTA dari luar Lampung khususnya terbanyak dari Jabar, Jateng, dan DKl Jakarta,” kata Rektor Unila.

Menkop-PPK Subiakto Tjakrawerdaya ke Lampung selain menyampaikan ceramah pada mahasiswa baru Unila juga mengikuti gelar kemitraan usaha dari Kelompok Jimbaran yang mengucurkan dana bantuan usaha kecil di Lampung mencapai puluhan miliar rupiah.

(U. BDL-004/221/BDL-001/RPS2/RF1

Sumber: ANTARA (04/09/1997)

_________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 806-807.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.