MENKO KESRA TUTUP SEA GAMES XIX DALAM SUASANA KHIDMAT

MENKO KESRA TUTUP SEA GAMES XIX DALAM SUASANA KHIDMAT[1]

 

Jakarta, Antara

Menko Kesra Azwar Anas menutup pesta olahraga Asia Tenggara (SEA Games) XIX dalam suasana khidmat yang kemudian dimeriahkan dengan pesta kembang api dan beberapa acara menruik lainnya sementara para atlet di beberapa tempat kelihatan saling berpelukan dengan rasa haru.

“Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillahi Robbil Alamin, pesta olahraga negara Asia Tenggara XIX 1997 secara resmi saya nyatakan ditutup.” kata Menko Kesra Azwar Anas disambut tepuk tangan meriah dan kemudian Azwar bersalaman dengan Menpora Hayono Isman dan Ketua Umum KONI Pusat Wismoyo Arismunandar yang mendampinginya.

Pertandingan 34 cabang olahraga berlangsung di berbagai tempat di wilayah Jakarta dan Jawa Barat dan dibuka resmi oleh Presiden Soeharto 11 Oktober dan berakhir Minggu (19/10), dimana tuan rumah tampil sebagai juara umum dengan meraih 194 medali emas, 101 dan 115.

Sebelumnya, Wismoyo Arismunandar selaku Ketua Umum Federasi SEA Games menyerahkan bendera SEA Games kepada Duli Yang Teramat Mulia Paduka Sri Pangiran Bendahara Sri Permaisuri Haji Supri Bolkiah pertanda Brunei Darussalam telah ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games XX dua tahun mendatang.

Acara penutupan Minggu petang, diawali dengan sajian lagu-lagu Korps Musik ABRI dan paduan suara Gita Nusa pimpinan Isti Soedibyo yang sekaligus sebagai ucapan selamat bagi para atlet, ofisial dan tamu-tamu lainnya.

Mereka melantunkan lagu-lagu ceria seperti Rek Ayo Rek, Sinanggartulo, Apuse, Ampar-Ampar Pisang, Kopi Dangdut dan Bujangan. Irama ceria itu disambut tepuk tangan para penonton dan menurut pengamatan ANTARA di beberapa pojok tempat atlet menunggu defile kelihatan para atlet turut bergoyang, ada yang menggeleng-geleng sembari malahap santapan ringan.

Gemuru marching band merupakan sajian lainnya setelah penampilan korps musik, kemudian Gita Nusa kembali mendendangkan beberapa lagu.

Marching band ini khusus didatangkan dari Jambi, Fak Fak serta dari Polwan Metro Jaya yang jumlah seluruhnya berjumlah 465 orang. Mereka kelihatan dengan gerakan cepat mampu membentuk konfigurasi tulisan SEA Games XIX Jakarta, Till We Meet Again sembari melantunkan irama Keroncong Kemayoran, Jali-Jali dan berbagai Jagu lainnya.

Defile per Cabang

Menko Kesra bersama Ny Azwar Anas tiba di Stadion Utama tempat sehari sebelumnya dipadati manusia yang menyaksikan pertandingan final sepakbola antara Indonesia dan Thailand yang dimenangi Thailand melalui adu pinalti tepat pukul 19:00 WIB.

Menko Kesra menempati panggung kehormatan didampingi Menpora Hayono Isman sementara lagu Patriot Olahraga menggema di seputar stadion dan tak lama kemudian acara beralih amat atraktip ketika para seniman Gendang Rampak menunjukkan kekompakan mereka bergerak dengan penuh irama.

Setelah itu, pukul 19:55 WIB, para atlet memasuki stadion dengan berdefile. Tidak seperti yang terjadi pada acara pembukaan dimana 5.000 atlet lebih defile berdasar negara, maka dalam acara penutupan itu defile berdasar cabang yang ditandingkan.

Para atlet yang melewati tribun kehormatan terus melambai-lambaikan tangan ke panggung kehormatan, dibalas Menko Kesra Azwar Anas yang kelihatan berdiri serta juga lambaian tangan dari Menpora Hayono Isman yang duduk di sebelah kiri Menko Kesra.

“Ini memang kita sengaja, karena kita bermaksud supaya para atlet semakin akrab dan lebih leluasa berbincang-bincang setelah saling bersaing selama berlangsung SEA Games XIX.” Kata Ketua Bidang  Upacara SEA Games XIX, Putra Astaman.

Defile atlet itu diawali dengan abjad A, mulai dari archery (panahan), athletic (atletik) dan seterusnya hingga abjad terakhir dari 34 cabang yang ditandingkan.

Maaf

Wismoyo Arismunandar dalam laporannya kepada Menko Kesra Azwar Anas mengatakan, ia bersyukur pesta olahraga yang menandingkan 34 cabang dengan 348 nomor dan cukup melelahkan para atlet itu selesai sudah.

“Dalam pesta olahraga ini sudah dipecahkan rekor SEA Games sebanyak 79, rekor dunia junior tiga dan rekor dunia satu.” kata Wismoyo.

Ia juga meminta para atlet dan ofisial memaafkan jika ada kesalahan.

“Kita menyadari banyak kesalahan dan saya memohon kebesaran hati peserta SEA Games untuk memaafkannya. Selamat jalan para kontingen negara sahabat dan sampai bertemu di SEA Games XX 1999 di Brunei Darussalam.” kata Wismoyo.

Kemudian, bersamaan dengan padamnya secara perlahan-lahan api di kouldron, maskot raksasa bergambar Hanoman tertutup tirai hitam.

Setelah api padam, diturunkan bendera SEA Games oleh 10 anggota Paskibra diiringi Himne SEA Games, membuat suasan berubah khidmat dan mengharukan.

Bendera itu dibawa Nurfitriana yang pernah meraih medali perak di Olimpiade Seoul dan mantan pejudo Ferry Pantow yang selanjutnya diserahkan Ketua Bidang Acara Putera Astaman.

Putera Astaman menyerahkan bendera itu kepada Ketua Umum OC SEA Games XIX Wismoyo Arismunandar yang turun ke lapangan dan kemudian Wismoyo menyerahkannya kepada H. Supri Bolkiah.

Acara kemudian menampilkan sekilas budaya Brunei berupa jalinan Muhibbah, berupa tari-tarian sebagai perkenalan kepada para anggota kontingen negara tetangga yang akan bertemu dan tampil lagi di Brunei Darussalam dua tahun kemudian.

Senayan terang dan bergetar

Acara yang dinanti-nantikan penonton pada penutupan event akbar untuk tingkat Asia Tenggara itu adalah pesta kembang api, yang sudah disiapkan sebanyak 15ton, lebih banyak dari acara pembukaan yang hanya 10ton.

Senayan terang benderang setiap kembang api itu meletup menimbulkan cahaya

Warna-warni. Letupan-letupan cukup keras pun menggema dan terasa getaran sampai ke Posko liputan SEA Games ANTARA di lantai II Istora Senayan.

Peluncuran acara kembang api itu ditangani langsung teknisi andal asal Australia, Andrew Howard dari “Howard&Sons Pyrotechnics”, perusahaan swasta milik keluarga yang sudah turun temurun selama 75 tahun.

Perusahaan besar yang sudah dikenal di seantero dunia itu, pernah pula meresmikan jembatan Sydney yang terkenal pada 1932, pesta penobatan 25 tahun Ratu Elizabeth dan berbagai pesta kembang api lain nya di seluruh dunia. Untuk menyambut dan membuka resmi Olimpiade 2000 di Sydney, perusahaan ini sudah dipesan jauh-jauh hari menanganinya.

Andrew Howard, cicit dari pendiri perusahaan kembang api itu mengatakan, ia memang berusaha keras menampilkan hiburan kembang api itu di hadapan masyarakat Indonesia termasuk kontingen olahraga dari 10 negara yang mengikuti acara olahraga itu.

“Saya berusaha keras menunjukkan yang terbaik.” Kata Andrew yang dibantu 14 teknisi dalam penampilan kembang api itu.

Dalam permainan kembang api itu, ditampilkan kata-kata

“See You in Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam” serta “Till We Meet Again.”

Sebelum acara itu, permainan Rampak Gendang ditampilkan sekitar 400 mahasiswa dan pelajar asal Jakarta dan Bandung, dipadu dengan gendang dan rebana serta bedug, ditangani Rinto Harahap dan Tamam Husein.

Sorakan pentonton seperti tak putus-putusnya menyambut gerak lincah para penari yang seperti mengalir mengikuti irama musik yang didominasi musik etnis Aceh dan Jawa Barat itu. Seluruh penampilan Rampak Gadang itu, menurut Rinto Harahap, menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang senantiasa hidup bergotong-royong.

Rampak Gendang itu kelihatan lebih mengetengahkan gerakan teateral yang membentuk formasi serta bloking yang memakan semua bidang lapangan. Pembawa bendera berupa umbul-umbul memagari sekitar tepi lapangan sedangkan para penari tampil dengan kostum warna-warni serta disinari tata lampu, membuat suasana semarak.

Pelangi Jawa Timur sebagai sambungan Rampak Gadang, merupakan dominasi tarian khas Jawa Timur yang dengan mengesankan bersambung terus dan tarian ini konon menggambarkan budaya masyarakat Jawa Timur yang bercirikan tegas, terbuka, jujur dan sportip.

Beberapa jenis tari dimunculkan seperti Tari Kasomber, Kuntulan, Pencak Pamur dan Reog Ponorogo yang disertai para warok, jatilan, dadak merak termasuk pelukisan Prabu Singabarong yang terkenal di daerah Jawa Timur itu. Tata warna dari kostum dan lampu juga memegang peranan dalam penampilan para penari yang menjadikan stadion sebagai panggung itu.

Meriahnya acara penutupan yang menghabiskan dana sekitar tiga miliar rupiah itu, terkesan semakin semarak dengan bermunculannya artis Ibukota seperti Iis Dahlia, Ikke Nurjannah, Krisdayanti, Cici Paramita, Dessy Fitri dan Tamara Blezinsky serta sederetan lainnya.

Mereka mengajak para atlet, ofisial dan masyarakat untuk berjoget di panggung. Untuk lebih menyemarakkan goyang pinggul itu, muncul pula penyanyi bertubuh tambun Farid Harja dan Victor Hutabarat, yang membuat para atlet Vietnam, Malaysia, Singapura dan beberapa dari Thailand dan Filipina kelihatan ikut berjoget ria.

Sumber : ANTARA (30/10/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 629-632.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.