MENKEH: MASYARAKAT KOTA JUSTRU BERUPAYA CARI KELEMAHAN UU

MENKEH: MASYARAKAT KOTA JUSTRU BERUPAYA CARI KELEMAHAN UU[1]

 

Jakarta, Antara

Sebuah hasil penelitian mengungkapkan masyarakat perkotaan yang lebih memahami materi peraturan perundangan justru sering berusaha mencari celah-celah kelemahan peraturan, kata Menteri Kehakiman Oetojo Oesman.

“Sementara itu, masyarakat pedesaan lebih taat terhadap berbagai peraturan perundangan walaupun mereka tidak mengetahui secara persis materi peraturan itu.” katanya kepada pers di Bina Graha, Rabu.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto mengenai upaya-upaya pemerintah meningkatkan kesadaran hukum, Oetojo menyebutkan Depkeh akan terus berusaha memasyarakatkan berbagai peraturan sehingga rakyat benar-benar patuh.

Kepada Kepala Negara, juga dilaporkan bahwa pada tahun anggaran 1997/98, akan dibahas lagi 50 peraturan perundangan peninggalan kolonial. Selama ini, ada 288 peraturan Belanda.

Namun kemudian secara bertahap angka 288 itu berkurang antara lain karena telah dibuatnya berbagai undang-undang sehingga peraturan yang lama itu secara otomatis menjadi gugur.

Oetojo membenarkan bahwa di kalangan masyarakat masih muncul pendapat bahwa karena masih adanya undang-undang peninggalan kolonial itu, maka semangat kolonialisme masih berlaku di tanah air.

“Pendapat itu tidak benar karena di dunia terdapat asas bahwa dalam berlakunya undang-undang, maka penafsirannya disesuaikan dengan struktur kenegaraan yang berlaku saat itu.” kata Oetojo.”

Ketika menjelaskan kerusuhan yang terjadi di Rutan Medaeng, Sidoardjo baru­baru ini, Menkeh mengatakan hal itu terjadi antara lain karena sikap petugas yang disebutnya sebagai “pengelola”

“Pengelola kurang responsif. Sementara itu ada oknum (tahanan, red) yang cari gara-gara.” katanya. Khusus mengenai petugas, ia menyebutkan terdapat dilema karena jika terlalu keras maka para penghuni rutan menjadi sering berani melawan.

Sementara itu, jika petugas terlalu baik atau “lembek” maka akhirnya para tahanan berusaha melarikan diri. (T/euOl/DN-03/B/25/06/97/15:14)

Sumber: ANTARA (25/06/1997)

_______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 501-502.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.