Menjenguk Anak Yatim

Menjenguk Anak Yatim[1]

Sebagai mantan Panglima Komando Operasi Mandala, Pak Harto
sangat peduli dengan nasib keluarga anak buahnya.

Terlebih di antara anak buahnya banyak yang gugur selama melaksanakan amanat Tri Komando Rakyat (Trikora) yang dikumandangkan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961.

Ada ratusan anak menjadi yatim karena ayah ibu mereka gugur di medan perjuangan dalam mengembalikan Irian Barat (kini wilayah Papua) ke pangkuan NKRI. Inilah yang mendorong Pak Harto pada 1963 mendirikan Yayasan Trikora. Yayasan yang didedikasikan untuk memberikan beasiswa bagi anak-anak yatim putera dan menyantuni janda pejuang Trikora. Tak hanya itu, Pak Harto juga memerintahkan TNI – AU membangun asrama yang menampung anak yatim itu agar mendapat perhatian dan pendidikan yang cukup dari Pemerintah. Asrama didirikan di dalam kompleks Lapangan Udara Darurat Jatiwangi (kini dikenal dengan nama Lapangan Udara Sukani), Jawa Barat.

Andreas Pedro Parera saat itu sedang berdinas sebagai Prajurit Angkatan Udara RI ketika Pak Harto singgah di Asrama Yatim Trikora di Lanud Darurat Jatiwangi dalam perjalanan Incognito pada 07 April 1970. Pedro menjadi bagian dari tim yang mengamankan kedatangan Presiden Soeharto untuk berjumpa dengan anak-anak yatim yang sedang mengikuti serangkaian pendidikan di sana.

Asrama itu kini sudah tidak ada lagi. Beberapa tahun setelah kunjungan Pak Harto ke asrama ini, Pemerintah membangun asrama yang lebih baik di lingkungan Komplek Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Namun demikian, bangunan bekas asrama itu masih ada, dibiarkan kosong untuk sementara waktu. Meski ada beberapa perubahan tapi bagian dalam bangunan masih meninggalkan jejak sebagai asrama.

Pedro ingat bagaimana Pak Harto memberikan bingkisan kepada anak-anak yatim di sana, terlihat bercakap-cakap dengan mereka. Sambil menitikkan air mata Pedro berkata :

“Beliau sangat peduli dengan anak-anak yatim, berkat Pak Harto mereka yang kehilangan orangtuanya di medan pertempuran bisa tetap tabah, kuat dan mampu melanjutkan cita- citanya.”

Masih menurut Pedro, sejumlah anak yatim itu kini banyak yang sukses, berkarir di dunia militer seperti orang tua mereka, atau menjadi pegawai dan pengusaha di seluruh Indonesia.**

_______________________________________________

[1]Mahpudi, “Incognito PAK HARTO, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya”, Jakarta : Yayasan Harapan Kita, hlm 24-25.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.