Menjelmakan Sumpah Gajah Mada

Menjelmakan Sumpah Gajah Mada[1]

Saya memandang perlu, bahkan sangat perlu, suatu sistem komunikasi satelit domestik untuk memperlancar hubungan di Nusantara yang begini luas dan yang sedang bergerak dengan cepat dalam masa pembangunan. Lalu saya ingat pada sejarah Mahapatih Gajah mada dulu yang bersumpah, tidak akan makan buah palapa sebelum persatuan dan kesatuan Kerajaan Majapahit menjadi kenyataan.

Sekarang persatuan dan kesatuan Nusantara telah terwujud. Malahan harus makin kita perkokoh. kekokohan itu akan makin kita perteguh dengan diluncurkannya satelit Palapa itu yang merupakan bagian penting daripada sistem satelit domestik. Dengan sistem ini hubungan komunikasi dari suatu tempat ke tempat lain di seluruh Indonesia menjadi lancar dan cepat. Karena itulah sistem satelit domestik itu kita beri nama “Palapa” sebagai lambang terjelmanya sumpah Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara. Dan kemudian Palapa A disambung dengan Palapa B. Kebutuhan yang mutlak perlu dalam melaksanakan pembangunan ini.

Begitulah pembangunan yang kita lakukan. Dari mulai yang paling elementer sebagai kebutuhan pokok manusia, sampai pada menerapkan penemuan yang mutakhir tetapi sangat kita perlukan dalam rangka memenuhi amanat MPR. Pantas Alvin Toffler, yang disebut tokoh peramal modern dan pembawa nada optimis bicara mengenai apa yang saya perbuat. Tulisannya yang dikutip oleh sebuah majalah di Jakarta, mencatat bahwa “belum lama ini Presiden Soeharto dari Indonesia menekan ujung pedang tradisional pada tombol elektronik dan dengan itu memulai suatu sistem komunikasi satelit dengan maksud menghubungkan wilayah-wilayah kepulauan Indonesia satu sama lain sama seperti rel kereta api yang menghubungkan dua pantai Amerika satu abad yang lalu. Dengan melakukan itu, Presiden Indoensia merupakan simbol danya pilihan baru suguhan Gelombang Ketiga kepada negara-negara yang mengejar perubahan“. Begitu Toffler menulis.

Memang kita sedang mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang ada di depan kita.

Toffler membandingkannya lagi dengan mengatakan, bahwa “semakin besar jumlah pemikir jangka panjang, analis sosial, sarjana, dan ilmuwan yang yakin bahwa justru transformasi seperti itulah yang kini sedang berjalan. Perubahan seperti itu yang membawa kita menuju suatu sistentis baru yang radikal, singkatnya, gandhi dengan satelit.”

Sementara saya sibuk memikirkan soal Palapa itu, kabar duka sampai pada saya, mengenai meninggalnya Bapak M Ng. Prawirowihardjo, ayah angkat saya yang sangat saya hormati. Kabar duka itu bisa cepat sampai pada saya, sekalipun belum mempergunakan Palapa. Cepat saya pergi ke tempat tinggal beliau. Dan sebelum kami makamkan jenazahnya saya sampai melakukan brobosan, kebiasaan yang melekat pada kami. Di tengah dunia seperti ini saya berada.

***


[1]        Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH,  diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1982, hlm 323.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.