MENGIKUTI KUNJUNGAN PRESIDEN KE AS (2) NEW YORK, TAK SEINDAH BAYANGAN

MENGIKUTI KUNJUNGAN PRESIDEN KE AS (2) NEW YORK, TAK SEINDAH BAYANGAN

 

 

Jakarta, Pelita

BERBEDA dengan Jenewa yang cantik dan kalem, kota New York, di Amerika Serikat, menampilkan suasana yang semrawut. Padahal sebelumnya terbayangkan kota yang penuh dengan gedung pencakar langit dan menjulang tinggi itu menampilkan suatu yang apik.

Ternyata dugaan itu meleset sama sekali. Satu hal yang menonjol di kota besar dunia itu adalah pelayanan terhadap umumnya.

Setiba di bandara John F. Kennedy setelah menempuh penerbangan selama 8 jam lebih, Presiden Soeharto dan rombongan disambut oleh kabut tebal dan gerimis yang membasahi landasan.

Di bandara itu, Kepala Negara disambut oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI pada PBB, Nana Sutresna, Dubes RI untuk AS , A.R. Ramly, serta pejabat teras lainnya.

Perjalanan menuju New York di pulau Manhattan, ditempuh sekitar 1 jam di tengah suasana macet dan rusaknya beberapa jalan.

Jika di beberapa tempat terjadi macet akibat rusaknya jalan-jalan, ternyata terowongan (tune) yang menembus di bawah sungai East kendaraan berjalan lancar. Dengan melemparkan koin sebesar 2 dolar AS ke dalam suatu keranjang di mulut terowongan, kendaraan bisa melalui jalan di bawah sungai sepanjang kurang lebih 2,5 km.

Berbagai petunjuk mengenai keselamatan pengendara terpampang di dalam terowongan berwama krem itu. Larnpu-lampu mercury berderet di dalam terowongan, yang membuat jalan di bawah tanah itu terang benderang.

 

Tak Kelihatan

Kota New York di siang hari itu terasa cukup dingin, apalagi sejak pagi hari hujan terus menerus turun yang menyebabkan kabut tebal turun ke permukaan bumi.

Bunyi klakson kendaraan dan kehingarbingaran mobil yang lalu lalang kian pas membuat kota berpenduduk lebih dari 8 juta jiwa itu mendapat sebutan kota metropolitan.

Melihat kota New York, seakan pula tergambarkan lorong-lorong besar yang pada tengahnya penuh dengan kendaraan. Bukan saja kendaraan mewah yang lalu­ lalang dijalan-jalan itu, melainkan kendaraan penyok ikut meramaikan suasana kota tersebut.

Gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di kiri·kanan jalan tersebut, banyak yang tidak kelihatan ujungnya karena tertutup kabut. Saking tingginya.

“Bagaimana orang yang di ujung itu bisa bernafas dalam kabut,” lagi-lagi terdengar seloroh seorang rekan wartawan.

Satu hal yang cukup membuat getir bagi pendatan g di kota itu adalah ancaman para penjahat. Sebab hampir setiap saat kejahatan di kota itu bisa terjadi.

Para pengemudi taksi yang berwarna kuning pun, tampak enggan untuk menerima penumpang lebih dari 3 orang. Menjawab pertanyaan Pelita seorang pengemudi taksi mengatakan, mereka khawatir jika penumpangnya berjurnlah 4 orang atau lebih. Sebab, seperti kejadian-kejadian yang sering dialami, pengemudi ditodong oleh penumpang yang ada di sebelahnya. Salah satu upaya untuk mengatasi itu adalah membuat semacam teralis antara penumpang di belakang dengan pengemudi.

Tapi kadang kala mereka juga mau menaikkan penumpang lebih dari 3 orang, jika pengemudi itu yakin melihat calon penumpangnya tidak akan melakukan kejahatan.

“As you my friends,” ucap seorang pengemudi taksi yang mendapat penumpang 4 orang wartawan Indonesia.

Ketidaknyamaan kota New York itu, juga tercermin adanya peringatan para pedagang atau pemilik toko di beberapa tempat di kota itu. Mereka senantiasa mengingatkan agar hati-hati dengan uang yang berada di dalam kantung kalau perlu, dompet yang berada di dalam kantung itu selalu dipegang tangan.

Para penjahat itu tidak segan-segan merampas dompet yang berada di dalam kantung, “dan bukan hanya melakukan pencopetan,” ujar mereka.

Kejadian itu juga nyaris terbukti, ketika Pelita bersama dua orang rekan berjalan di suatu penyeberangan jalan. Secara tiba-tiba seorang lelaki berbadan besar dan kulit warna hitam legam menarik dengan paksa kamera yang sedang disandang rekan itu. Setelah terjadi saling tarik menarik, akhimya si hitam itu melepaskan pegangannya dan berlalu.

 

Persiapan

Persiapan untuk menerima kunjungan Presiden Soeharto ke PBB New York guna menerima “United Nations Populations Award” betul-betul dilakukan secara prima oleh Perutusan Tetap RI pada PBB di New York.

Panitia penerima kunjungan itu dibentuk berdasarkan SK Wakil Tetap RI pada PBB tertanggal 23 Mei 1989 yang ditandatangani oleh Nana Sutresna.

Di gedung yang menjulang tinggi, Presiden Soeharto menerima piagam penghargaan tingkat dunia. Dan bukan saja para undangan yang hadir di dalam ruang Trusteeship Council yang menyak sikan peristiwa penting itu, tapijuga mata dunia memandang peristiwa itu.

Apalagi ketika Kepala Negara membacakan pidato setebal 16 halaman, keheningan mencekam di dalam gedung itu. Tepuk tangan riuh rendah terus terdengar ketika Presiden Soeharto memasuki ruangan, ketika Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar memberikan piagam penghargaan dan ketika presiden mengakhiri pidatonya.

Dalam buku “Selamat datang di PBB” yang dicetak panitia penerima kunjungan Presiden RIke PBB antara lain disebutkan, pada tahun 1967, beberapa bulan setelah memangku jabatan Presiden Soeharto bersama dengan 26 Kepala Negara lainnya menandatangani Deklarasi Para Pemimpin Dunia yang amat bersejarah tentang kependudukan.

Pada tahun 1968 presiden menandatangani instruksi yang meletakkan dasar kuat bagi program kependudukan nasional yang intensif. Program KB telah menjadi primadona setiap Rencana Pembangunan Lima Tahun dan setiap departemen, provinsi, dan desa melakukan partisipasi aktif dalam program itu.

Minat dan perhatian dan kepemimpinan Presiden Soeharto sangat menonjol dalam pelaksanaan program KB. Kepala Negara terlibat langsung dalam usaha-usaha memberikan hadiah kelapa hibrida kepada peserta program KB yang berhasil, setiap tahun mendatangkan 300 pasangan keluarga yang telah berhasil melaksanakan KB selama 10 tahun atau lebih serta memberikan kepada mereka pengakuan dan medali serta kegiatan lain yang kian memacu pelaksanaan program KB di Indonesia.

Penganugerahan UN Population Award tahun ini kepada Presiden Soeharto, mempunyai arti tersendiri dengan latar belakang keberhasilan PBB akhir-akhir ini dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah intemasional penting telah menyebabkan PBB kembali menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat dunia internasional.

Usai menerima piagam penghargaan Presiden yang didampingi Ibu Tien Soeharto dan diantar oleh Sekjen PBB dan Ny. levier Perez de Cuellar menghadiri resepsi di Markas Besar PBB tersebut.

Malam harinya, tanpa merasa Ielah, Presiden melakukan pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di New York serta memberikan wejangan hingga larut malam.

Tapi berbeda dengan persiapan kunjungan ke Markas Besar PBB , dalam pertemuan di Wisma Indonesia terjadi sedikit “gangguan teknis”, karena lampu di tempat kediaman Nana Sutresna tiba-tiba saja byar-pet. (bersambung)

 

 

Sumber : PELITA(17/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 244-247.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.