Menghidupkan Produksi Sendiri

Menghidupkan Produksi Sendiri[1]

Menjelang perayaan Agustusan yang ke-40 saya buka Pameran Produksi Indonesia yang diadakan di lapangan Monas di depan Istana. Ini dalam rangka menghidupkan produksi sendiri.

Saya sungguh senang menyaksikannya. Pameran itu menggambarkan diri kita sendiri dan kemampuan kita sendiri setelah kita sebagai bangsa berusia empat puluh tahun. Kita lihat di sana apa yang dapat kita produksi sendiri, termasuk produksi jasa, hasil-hasil penelitian, rancang bangun dan perekayasaan. Semuanya merupakan cermin dari tekad kita untuk membangun, seperti yang menjadi cita­cita kemerdekaan.

Dahulu, banyak orang yang menyangsikan apakah Indonesia dapat merdeka. Sejarah membuktikan bahwa kesangsian itu bukan saja tidak beralasan, melainkan salah sama sekali. Setelah Indonesia merdeka, orang masih juga meniup-niupkan kesangsian, apakah kita mampu berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan apakah kita mampu mengurus diri sendiri. Sejarah lagi membuktikan bahwa kita sebagai bangsa bukan saja dapat bertahan dan mengatasi setiap pergolakan yang timbul, melainkan terutama, setelah kita membangun Orde Baru, kita dapat mengurus kehidupan bangsa dan negara kita secara tertib dan teratur berdasarkan Pancasila dan UUD ’45.

Dalam zaman pembangunan sekarang pun masih juga ada yang meniupkan-niupkan kesangsian, apakah kita dapat membangun masyarakat modern dengan mengerahkan pikiran, tenaga, kemampuan dan kemauan kita sendiri. Untuk kesekian kalinya sejarah membuktikan lagi bahwa kita dapat mencapai kemajuan-kemajuan yang berarti sejak kita melaksanakan pembangunan mulai dari Repelita I sampai Repelita IV sekarang ini (1987). Ke majuan itu tersebar di mana-mana di seluruh wilayah tanah air kita yang luas ini. Dan sebagian dan kemajuan itu dapat kita saksikan sendiri dari dekat pada Pameran Produksi Indonesia itu.

Siapa yang tidak gembira dengan apa yang telah kita capai itu? Tetapi, seperti sering saya tandaskan, dalam suasana kegembiraan seperti ini, dalam merasakan kepercayaan pada diri sendiri yang kuat ini, jangan sekali-kali kita lengah. Tidak sedikit tantangan yang masin membentang di depan kita. Kita tidak boleh lekas puas diri karena apa yang telah dapat kita capai sampai sekarang, masih jauh dari apa yang kita cita-citakan. Kelengahan dan puas diri akan merupakan bahaya yang dapat menggagalkan pembangunan.

Saya menyadari, dan hendaknya semua menyadari juga, bahwa kemajuan-kemajuan yang kita capai itu tetap masih dalam tahap awal. Kita masih harus meningkatkannya di waktu-waktu yang akan datang.

***


[1] Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta tahun 1982, hlm 415-416.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.