MENEG LH : MASIH BANYAK TERDAPAT “PUNGUTAN ANEH” DAN SEMENA-MENA

MENEG LH : MASIH BANYAK TERDAPAT “PUNGUTAN ANEH” DAN SEMENA-MENA[1]

 

Palangka Raya, Antara

Meneg Lingkungan Hidup, Ir. Sarwono Kusumaatmadja, mengatakan, pada beberapa daerah di Indonesia hingga kini masih terdapat berbagai macam bentuk “pungutan aneh” dan semena-mena.

“Masih banyak dijumpai adanya pungutan aneh dan semena-mena di beberapa daerah di Indonesia.” katanya kepada wartawan usai menyerahkan DIP-Nas Kalteng TA 1997/1998 di Palangka Raya, Selasa.

Menteri Sarwono menjelaskan tentang masalah pungutan itu ketika dimintai komentarnya sehubungan dengan amanat tertulis Presiden Soeharto pada penyerahan Dipnas TA 1997/98 secara serentak se Indonesia pada 1 April 1997, yang menekankan agar tidak ada lagi pungutan-pungutan tambahan yang dapat memberatkan masyarakat.

“Penegasan Presiden Soeharto tersebut merupakan yang kesekian kali, karena ternyata masih terdapat pungutan-pungutan aneh dan semena-mena yang dilakukan daerah atau instansi pemerintah pusat yang ada di daerah.” katanya.

Sebagai contoh, pada suatu daerah terdapat sebuah perusahaan air meneral yang berkembang cukup pesat namun secara tiba-tiba pemda setempat menaikkan retribusi air yang cukup tinggi.

Hal seperti itu sama halnya dengan mengusir orang, karena perusahaan yang keberatan atas kenaikan retribusi sepihak itu tentu akan merelokasi usahanya ke tempat lain.

Lebih jauh Sarwono mengatakan di negara maju, investor banyak mendapat kemudahan, tetapi di Indonesia investor justru dianggap sebagai orang yang memiliki uang berlebihan.

“Sehingga ramai-ramai uangnya diminta.” katanya.

Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat orang tidak ingin melakukan investasi di Indonesia, demikian Sarwono Kusumaatmadja.

Sumber : ANTARA (01/04/1997)

_____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 297-298.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.