MENAG: ULAMA PENYELAMAT PERADABAN MANUSIA YANG SAKIT

MENAG: ULAMA PENYELAMAT PERADABAN MANUSIA YANG SAKIT[1]

 

Jakarta, Antara

Menteri Agama Tarmizi Taher memandang tokoh agama dan ulama sebagai penyelamat peradaban manusia yang kini tengah dilanda kesakitan, termasuk degradasi moral, kecemasan, konflik dan kekerasan sosial.

“Para ulama merupakan unsur penyejuk yang membawa peringatan di tengah masyarakat yang kini cenderung kehilangan kredibilitas terhadap nilai agama dan kemanusiaan.” kata Menag dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Kamis malam.

Menurut Menag, masyarakat modern dewasa ini tengah sakit dengan mencoba merumuskan sistern moral dengan parameter kekayaan, kenikmatan dan kebebasan tanpa batas.

“Akibatnya, dunia kini tengah dilanda berbagai bentuk penyakit sosial seperti penyebaran HIV dan AIDS, kejahatan terorganisir, meluasnya lalu lintas narkotika, obat bius dan pornografi.” katanya.

Untuk mengatasi itu, Menag menyatakan keyakinan bahwa hanya para ahli dan tokoh agama yang mampu menyelamatkan peradaban manusia agar terhindar dari kehancuran.

Sejalan dengan itu, Ketua MUI KH. Hasan Basri dalam sambutannya menekankan peran ulama yang memiliki tanggung jawab moral terhadap aspek kehidupan dan perkembangan sosial.

“Sebagai ulama, kita tentu mempunyai perhatian atas keselamatan dan kesinambungan bangsa dan negara.” katanya.

 

Strategis

Dalam sambutannya Kiai menyatakan, rakernas kali ini memiliki nilai strategis yang tersendiri, mengingat waktu pelaksanaannya menjelang Pemilu dan SU-MPR 1998.

Selain itu, rakernas yang berlangsung hingga tanggal 22 Maret 1997, diadakan setelah serangkaian peristiwa kerusuhan sosial yang terjadi di beberapa kota di Indonesia beberapa waktu lalu.

Sehubungan dengan itu, rakernas diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang lebih berarti dan berbobot menjelang masa depan dengan mengambil pengalaman yang terjadi di masa lalu.

“Rakernas ini akan membahas masalah konsolidasi organisasi, pemantapan program kerja, sukses Pemilu dan SU-MPR 1998, ditambah rekomendasi MUI menghadapi hal tersebut.” katanya.

Rakernas yang dihadiri sekitar 150 ulama dari berbagai cabang MUI daerah, mengambil tema meningkatkan kerjasama ulama-umaro untuk mewujudkan ketentraman umat dan mensukseskan Pemilu 1997 dan SU MPR 1998.

Para ulama sebelum membicarakan berbagai masalah pada rakernas kali ini, akan mengadakan silaturrahmi dengan Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Try Sutrisno.

Dijadwalkan sebagai pembicara dalam rakernas antara lain Pangab ABRI Feisal Tanjung dan Mendagri Yogie SM.

(T.PU02/B/SBY-002/23:07/RU2)

Sumber: ANTARA  (20/03/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 519-520.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.