MENAG : DUNIA PENUH KONFLIK POLITIK BERNUANSA AGAMA

MENAG : DUNIA PENUH KONFLIK POLITIK BERNUANSA AGAMA[1]

 

Jakarta, Antara

Menteri Agama Tarmizi Taher mengatakan, kerukunan antar-umat beragama hendaknya tidak dianggap akan terjadi dengan sendirinya, karena dunia maju dan negara berkembang penuh dengan konflik politik bernuansa agama atau menggunakan agama sebagai bensin pembakar untuk meningkatkan eskalasi konflik.

Hal itu diungkapkan Menag dalam sambutannnya pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yang dihadiri Presiden Soeharto beserta tidak kurang 2.000 umat Islam ibukota dan sekitarnya, di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu.

“Umat beragama seharusnya malu ketika kelompok agama menimbulkan keonaran, membuat kerugian atas harta danjiwa, karena agama diberi Yang Maha Suci justru untuk menyejahterakan dan menghormati manusia.” katanya.

“Kita merasa sedih dan kecewa kalau masih saja ada kekerasan oleh kelompok agama di dunia, sebab hal itu bertentangan dengan nilai dasar setiap agama yang membawa pesan cinta kasih.” ujarnya.

Bingkai teologis dan sosio-kultur tentang kerukunan perlu terus digali dan disebarkan, sehingga kerukunan itu dihayati, tidak sekedar bersifat politis dan sementara, tetapi juga menjadi bagian dari keimanan, ujarnya.

Pada kesempatan itu, Menag mengungkapkan program rencana jangka pendek dan menengah berupa tiga tahap untuk memantapkan kerukunan beragama.

Tahap pertama adalah menyelesaikan masalah kerukunan antar umat masing­masing, yakni umat Islam, Kristen (Protestan dan Katolik) serta Hindu dan Budha.

Tahap kedua adalah menyelesaikan masalah kecurigaan dan syak wasangka Islam dengan Kristen atau sebaliknya.

Tahap ketiga adalah integrasi nasional yang makin meningkatkan peranan umat beragama demi kokohnya persatuan dan kesatuan nasional.

Sementara itu, Burhanuddin Daja, ketua Lembaga Pengkajian Kerukunan Umat Beragama Indonesia, dalam ceramah yang berjudul “Bingkai Teologi Kerukunan Beragama, Kembali Kepada Kitab Suci” menilai kerukunan hidup umat beragama merupakan kondisi sangat berpengaruh terhadap berbagai segi kehidupan.

“Agama melibatkan manusia seutuhnya, kerukunan umat manusia, perorangan maupun kelompok.” tegasnya.

Sebagai sebuah konsep, kerukunan hidup umat beragama lebih sekadar sikap dan pandangan toleran dalam menghadapi berbagai keyakinan dan ajaran agama yang berbeda.

Konsep itu merupakan implikasi dari tindakan aktif dalam menjamin hubungan dan kerjasama serasi dan penuh pengertian antar pemeluk sesuatu agama, antar para pemeluk agama yang berbeda dan antara para pemeluk agama dengan pemerintah.

Sumber : ANTARA (11/12/1996)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 648-649.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.