MEMBELA PANCASILA BERMAKNA POSITIF & KREATIF

MEMBELA PANCASILA BERMAKNA POSITIF & KREATIF

PRESIDEN SOEHARTO

Presiden Soeharto menegaskan, ABRI adalah kekuatan perjuangan bangsa yang ikut melahirkan dan meletakkan dasar cita-cita kemerdekaan.

Sebagai pejuang, tiap prajurit ABRI dan purnawirawan ABRI dalam keadaan apa pun akan selalu setia sebulat-bulatnya dan membela Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 tanpa mengenal menyerah.

Penegasan seperti itu dikemukakan Kepala Negara dalam sambutan tertulisnya, yang dibacakan Ketua Umum Pepabri (Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Makmun Murod, pada pembukaan Rapat Kerja Pusat Pepabri, di Cibubur, Jakarta, Senin.

Lebih Ianjut Presiden mengatakan, membela Pancasila memberikan makna positif dan kreatif. Ini berarti, di satu pihak harus dihilangkan sisa akar yang di masa lampau membahayakan Pancasila dan di lain pihak pandangan ke depan melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila, seperti yang baru-baru ini telah ditegaskan dalam GBHN sebagai basil SU MPR, bulan Maret 1983.

Mengenai Keputusan Munas Pepabri sebelumnya, yang bertekad bahwa Pepabri akan menuntaskan tugas suci melaksanakan jiwa dan isi Proklamasi Kemerdekaan 45 dalam wadah negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD ’45, dikatakan bahwa keputusan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa para purnawirawan ABRI mempunyai tekad yang bulat untuk tetap setia kepada Pancasila dan UUD 45 serta bertekad untuk terus ikut berjuang mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan.

Tahap Yang Sulit

Mengemukakan proses pembangunan, Kepala Negara mengatakan, Indonesia akan memasuki tahap-tahap yang menentukan, sekaligus merupakan tahap yang sulit, karena tahun depan pembangunan bangsa memasuki Repelita IV, tahap pembangunan industri dengan tetap memperkuat dukungan pertanian.

"Dalam Repelita IV itu kita bertekad untuk meletakkan kerangka landasan, yang akan kita mantapkan dalam Repelita V, sehingga dalam Repelita VI nanti bangsa kita bisa tinggal landas menuju pembangunan Masyarakat Pancasila dengan sepenuh­penuh kekuatan sendiri," kata Presiden.

Menurut Kepala Negara, pembangunan dalam Repelita IV akan bertambah sulit dan berat. Tantangan yang dihadapi pada tahap itu disebutkan seperti kelesuan akibat resesi yang berkepanjangan, makin mendekati rampungnya peralihan generasi yang dikatakan disamping mengandung harapan juga kerawanan. Selain itu juga adanya bahaya yang mengancam kestabilan dan malahan bahaya peperangan.

Untuk melampaui tantangan tersebut, Presiden Soeharto mengingatkan, perlunya terus menerus memperbaharui semangat sebagai pejuang bangsa. "Kita juga perlu memperbaharui dan memperkuat motivasi," tambahnya.

Dikatakan, pembaharuan semangat dan motivasi tidak akan pernah kering­keringnya jika digali dari dasar negara, pandangan hidup dan ideologi nasional bangsa Pancasila.

"Itulah sebabnya, juga dalam rangka melaksanakan GBHN yang menegaskan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila," kata Kepala Negara.

Kepada seluruh pimpinan purnawirawan ABRI yang telah ikut menegakkan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 45, Presiden Soeharto mengharapkan, untuk tetap merasa lega bahwa apa yang diperjuangkan dahulu masih tetap dipegang teguh.

"Sebagai pejuang saudara-saudara akan dapat terus menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi perjuangan bangsa secara lebih mantap," ucapnya.

Akhirnya, Kepala Negara mengatakan, dalam menyongsong tugas pembangunan harus selalu diingat pelajaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

"Tegaknya negara kita yang berdasarkan Pancasila dan UUD ’45 ini dahulu kita capai dengan semangat perjuangan dan persatuan. Karena itu sekarang dan seterusnya pembangunan kita pun harus kita gerakkan dengan semangat perjuangan dan persatuan," katanya.

Kepala negara juga mengajak seluruh anggota Pepabri untuk terus memelihara dan membesarkan api semangat perjuangan dan persatuan dalam zaman pembangunan sekarang ini.

Tidak Akan Pernah Berhenti

Menhankam Poniman dalam pada itu menegaskan, walaupun seorang prajurit ABRI telah memasuki tahap purnawirawan, namun perjuangannya untuk mempertahankan dan melaksanakan Pancasila tetap tidak akan pernah berhenti.

"Kesetiaan tiap prajurit ABRI kepada Pancasila tidak pernah akan berhenti," katanya.

Mengenai perjuangan, dikatakan bukan profesi atau pekerjaan. Perjuangan adalah panggilan dan pengabdian. Perjuangan adalah amal bakti kepada Tanah Air yang tidak mengenal akhir, ucap Menhankam lebih Ianjut.

Sebagai pejuang, kata Menhankam Poniman, ABRI selalu bercermin pada sejarah bangsa Indonesia yang terus menerus menghadapi tantangan. Karenanya, ABRI merasa selalu terpanggil untuk bersikap waspada dan siap menghadapi tantangan yang muncul.

"Demikian pula tiap prajurit ABRI sekalipun telah purnawirawan, hendaknya tetap bersumpah untuk mempertahankan Pancasila tanpa mengenal menyerah. Karena pengorbanan seorang pejuang tidak pernah berhenti," kata Menhankam pula.

Jiwa Kejuangan dan Profesionalisme

Pangab Jenderal TNI LB Moerdani dalam pada itu mengatakan, bagi Pepabri tidaklah sulit menjadi stabilisator dan dinamisator, karena jiwa kejuangan dan profesionalisme yang dimiliki sejak dalam jajaran ABRI.

"Saya yakin perananABRI akan selalu mantap karena tolak ukur ketangguhan bangsa Indonesia adalah ketangguhan yang bertumpu kepada perpaduan serasi antara jiwa kejuangan dan profesionalisme," tambahnya.

Menurut Pangab, purnawirawan ABRI tidak sama dengan pensiunan profesi lain. Purnawirawan ABRI memiliki antara lain nilai kejiwaan yang hakiki dalam sejarah lahirnya bangsa, dan nasionalisme yang tinggi.

Dikatakan, hadirnya purnawirawan di tengah-tengah masyarakat merupakan bantuan Pepabri kepada ABRI. Oleh karenanya, ia mengharapkan di antara anggota Pepabri tetap saling membina hubungan demi keutuhan organisasi Pepabri.

Rapat kerja Pusat Pepabri tersebut berlangsung hingga Selasa ini, diikuti utusan Pepabri dari 26 propinsi. (RA)

Jakarta, Suara karya

Sumber : SUARA KARYA (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 247-250.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.