MEMBASMI PENGHAMBAT PEMBANGUNAN

MEMBASMI PENGHAMBAT PEMBANGUNAN [1]

 

Jakarta, Merdeka

Pada waktu peresmian Unit Bedah RS. Gatot Subroto beberapa hari yang lalu Presiden Soeharto telah menyampaikan beberapa buah pikiran yang perlu pula kita pikirkan dan tanggapi secara dinamis dan positif. Ia menyebut bahwa seperti halnya didalam perjuangan kemerdekaan terdapat orang2 yang mengkhianati perjuangan bangsa dan merupakan hambatan terhadap perjuangan tersebut, maka dalam tahap pembangunan untuk mengisi kemerdekaan itu juga terdapat hambatan2 rintangan2 dan halangan2.

Pak Harto menyebut dengan tandas bahwa hambatan2 dalam pembangunan itu berupa adanya pejabat2 yang menyeleweng, organisasi2 yang kurang sempurna, pemborosan2 dan tidak mentaati anjuran hidup sederhana. Disamping itu terdapat juga orang2 yang tidak mau mengakui kenyataan atau memutar balikkan kenyataan dari hasil pembangunan.

Betul sekali Pak Harto, bahwa didalam suatu tahap peljuangan mesti selalu saja ada orang2 yang berkhianat. Orang2 yang merupakan hambatan atau rintangan. Bahkan orang2 yang memutarbalikkannya, bahkan melawannya, adapun orang2 yang disebut itu, memang kebanyakan terdiri dari material atau “bahan2”, bangsa Indonesia sendiri. Yang, dengan mengalihkan perhatiannya kepada kepentingan lain atau bertentangan dengan kepentingan perjuangan dan pembangunan, lalu terlibat mau atau tidak ke dalam tindakan2 pengkhianatan atau menjadi hambatan dan rintangan.

Karena sikap demikian itu adalah sikap yang dianggap selalu ada didalam suatu peri hidup yang penuh dengan kontradiksi2, maka kita selalu melihat situasi yang berproses itu sebagai situasi yang melahirkan orang2 yang menjadi kawan dan menjadi lawan.

Dengan demikian maka keadaan atau pikiran yang menghendaki tidak ada lawan, “semuanya kawan”, adalah semacam idealisme yang tidak rasionil, yang menurut cerita2 didalam buku2, diketemukan didalam gereja2 dan mesjid 2 saja. Dan tidak diketemukan didalam pergaulan hidup sehari2.

Banyak jalan untuk memperkecil jumlah lawan dan meningkatkan jumlah dan kwalitas kecintaan pengikut2. Diantaranya ialah, bahwa didalam pergaulan itu sendiri, harus ada suatu kepemimpinan yang dapat mengerti dan dimengerti secara positif oleh semua pihak.

Jadi ditanah air kita pun kita akan menemukan patriot2 yang mengikuti pendirian hidup Pancasila, yang setia kepada Undang2 Dasar 45 sampai sekecil2nya. Tapi ada juga yang menanggapi sepi, bahkan menyelewengkan Pancasila kemudian tidak menggubris UUD 45. Bahkan menginterpretasikannya dengan macam2 pengertian, selama konstitusi itu belum mampu mereka tiadakan.

Hanya dengan memperkuat barisan pencinta2 Pancasila dan UUD 45, hanya dengan memberikan peringatan berikut perubahan2 dari pendirian orang2 yang mengingkari atau menyelewengkan UUD 45 dan Pancasila, makamayoritas penduduk yang disebut rakyat itu, akan dapat dibawa untuk menyelamatkan pembangunan yang tentunya merupakan pembangunan untukrakyat itu sendiri.

Didalam keadaan Indonesia, memang benar, bahwa harapan penduduk adalah, semoga hendaknya para pejabat yang berwenang dan berkekuasaan harus bersih daripada penyelewengan. Hanya organisasi2 yang sempurna dengan pemimpin2nya yang terpercaya akan dapat hidup bersih memimpin organisasi, yang dapat pula menjamin kebersihan pembangunan. Tanpa ia diselewengkan dikorup ataupun dihalang2i dengan cara2 lain.

Dengan kebersihan organisasi, kepercayaan penuh dari rakyat kepada pemimpin2 organisasi2 itu dan menempatkan dengan bijaksana sikap terhadap kawan dan lawan yang hendak berbuat negatif itu, jalan untuk hidup wajar dan bahagia akan terbuka. Jalan itulah yang dengan wajar pula menjurus kepada kehidupan layak dan mengharamkan pemborosan dan memenuhi anjuran2 hidup sederhana.

Secara rasionil, maka suatu pola yang menunjukkan hasil2 pembangunan yang sudah menjadi kenyataan, tidak lah mungkin diputarbalikkan. Barangsiapa yang toh memutar balikkan hasil2 pembangunan itu, dialah yang merupakan oknum2 yang menentang pembangunan, dialah oknum yang menjadi lawan2nya rakyat!

Apa yang disebut oleh Presiden Soeharto tadi, yaitu manusia2 yang menyeleweng, boros, tidak mau mengakui kenyataan pembangunan yang sudah ada, adalah pula suatu kenyataan pahit dari proses pembangunan yang meraih banyak segi2 kepentingan.

Kepentingan pribadi atau golongan didalam pembangunan yang diperuntukkan bagi rakyat banyak, tentulah tidak dapat ditolereer. Itu harus diberantas. Dan memberantas itu, sudah lama dipercayakan oleh rakyat kepada kepemimpinan nasional yang berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 45.

Dalam hal ini Presiden Soeharto. Kita yakin makin lama keadaan makin memihak kepada kebenaran yang dilakukan oleh pejuang2 pembangunan yang sedia membangun untukrakyat Indonesia seumumnya. Dan bukan untuk konco2 dan sanak keluarga !!!!! (DTS)

Sumber: MERDEKA (02/06/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 61-63.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.