MEMBANGUN CITRA BANGSA

MEMBANGUN CITRA BANGSA[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Banyak cara mengungkapkan rasa terima kasih. Dengan bersalaman, mencium tangan, lewat kartu ucapan selamat maupun menyampaikan setangkai atau sebuah karangan bunga. Tapi Yayasan Tiara Indonesia dan Yayasan Tiara Indah pimpinan Ny. Siti Hardiyanti Rukmana memilih menggelar misi kebudayaan. “Faces Of Indonesia ’95” (Wajah-wajah Indonesia) ke mancanegara, untuk mensyukuri perayaan emas kemerdekaan 50 tahun Indonesia merdeka.

Safari yang ikut disponsori maskapai penerbangan nasional Garuda itu, dimaksudkan sebagai wahana untuk turut mempromosikan potensi dan khasanah kekayaan nilai budaya bangsa Indonesia. Menggelarnya di peta pergaulan intemasional sehingga pada akhirnya ikut mendongkrak citra bangsa.

Misi Mbak Tutut tentu relevan jika menyimak kenyataan betapa mayoritas masyarakat internasional amat buta tentang Indonesia. Promosi tentang bangsa tercinta ini di luar masih saja minim sekali. Buktinya (maafini cerita basi), mereka paling­ paling baru mengenal Bali.

Padahal itu hanya secuil dari Indonesia yang punya 17 ribu pulau, aneka ragam budaya dari sekitar 360-an suku bangsa, berpenduduk sekitar 180 juta yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Tak heran jika Tia Mariadi, selaku MC delegasi duta budaya bangsa itu, setiap pementasan seperti mengingatkan penonton, bahwa Indonesia bukan hanya Bali. Hadirin yang budiman, kami tegaskan bahwa Indonesia bukan hanya Bali.

“Kami di sini ingin meluruskan, bahwa Bali adalah salah satu provinsi dari 27 provinsi di negara Indonesia.”

Mbak Tutut pun dalam sambutannya di setiap acara ramah tamah dengan staf KBRI atau masyarakat Indonesia di luar negeri, selalu menekankan betapa terasa masih kurang pengetahuan masyarakat mancanegara tentang negeri kita.

“Salah satu misi rombongan kami untuk ikut berpartisipasi menjawab permasalahan tersebut.” ucapnya. “Jadi ‘Faces Of lndonesia‘ kita harapkan, akhirnya akan dapat meningkatkan citra bangsa Indonesia yang sudah baik dan memperbaiki citra yang belum baik.”

Urgensi dari ungkapan tersebut makin relevan jika kita kutip sejumlah catatan ‘buram’ menyangkut citra Indonesia di mancanegara belakangan ini.

Misalnya, betapa masalah Timtim, kasus perburuhan, dan sejumlah isu politik menyangkut kehidupan kenegaraan yang dilandasi budaya politik kita yang berpedoman pada dasar negara Pancasila, belum begitu dipahami oleh masyarakat internasional dalam peraturan hubungan antar bangsa.

Wartawan ‘Pembaruan’ Putu Suarthama yang ikut diundang meliput ‘Faces of Indonesia”, menulis laporan untuk sorotan budaya hari ini.

Sumber : SUARA PEMBARUAN ( 24/05/1995)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 683-684.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.