MEMATAHKAN “MATA RANTAI” KEMISKINAN

MEMATAHKAN “MATA RANTAI” KEMISKINAN[1]

 

Jakarta, Merdeka

BAGAIKAN tersiram air yang telah berusia satu windu, Presiden Soeharto sebagai wakil bangsa Indonesia, menerima Piagam Penghargaan dari Administrator United Development Programme (UNDP), James Gustave Speth, pada peresmian pembukaan Konferensi Nasional tentang Perbandingan Pengalaman Pengentasan Kemiskinan di Istana Jakarta, Senin (8/9) lalu.

Kita katakan “disiram air berusia satu windu”, karena piagam penghargaan itu tiba pada saat Indonesia menghadapi cobaan-cobaan berat dalam ekonomi dan keuangan, yang bisa diperkirakan belum bakal usai pada saat memasuki milineum baru mendatang. Lagi pula, di tengah-tengah isu bahwa usaha kemitraan untuk mengentaskan kemiskinan penduduk desa tertinggal yang dipelopori serratus konglomerat Jimbaran kini eliwamai kelesuan dan kemandekan, suatu penilaian dari badan Internasonal sungguh sangat diperlukan. Penilaian yang tidak disangka-sangka itu muncul untuk menenteramkan rasa gundah rakyat Indonesia di saat ekonomi suram.

Diantara sejumlah acungan jempol dunia Internasonal tentang keberhasilan pembangunan Indonesia, ada empat penghargaan yang dinilai sangat penting, yakni penghargaan dari PBB. yaitu pada 21 Juli 1986 berupa penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan Sedunia) di Roma, 8 Juni 1989 dari UNPA (United Population Award) untuk keberhasilan menekan jumlah penduduk, dan 19 Juni 1993 berupa Avicena Golden Medal untuk keberhasilan di bidang pendidikan, dan pada tahun 1996 sekali lagi penghargaan dalam mewujudkan cukup pangan dari FAO. Maka dengan penghargaan yang terakhir ini, Presiden Soeharto telah menerima lima penghargaan dunia yang clinilai sangat berharga.

Marilah kita simak penjelasan Presiden dalam kaitan dengan pemberian penghargaan terakhir ini.

“Tahun 1970 penduduk miskin di Indonesia berjumlah 70 juta orang atau 60 persen dari juml ah penduduk. Tahun 1996, angka itu turun menjadi sekitar 20 juta orang atau 11 persen dari seluruh penduduk. Padahal, dalam kurun waktu itu, yakni 26 tahun, jumlah penduduk Indonesia bertambah dengan 84 juta jiwa, yaitu dari 116 juta orang pada tahun 1970 menjadi 200 juta orang pada tahun 1996.”

Dijelaskan oleh Kepala Negara, inti masalah kemiskinan terletak pada masih rendahnya tingkat kemampuan tertetak pada masih rendahnya tingkat kemampuan mengelola sumber daya yang tersedia. Ketimpangan dan kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat, demikian Presiden, berakar pada perbedaan peluang dan kemampuan menggali dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Harus pula diingat karena hal demikian itu j uga tetjadi pada skala global.

Rendahnya tingkat kemampuan itu disebabkan oleh rendahnya pendapatan yang menyebabkan rendahnya daya beli. Pada gilirannya, keadaan itu akan menyebabkan gizi makanan yang dikonsumsi kurang memadai. Hal ini akan mengganggu kesehatan, mengurangi produktivitas, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan layak.

“Dari sini tertihat mata rantai yang sulit dipatahkan.” demikian Kepala Negara. Dalam kesempatan yang lain, James Gustavo Speth selaku Administrator UNDP mengingatkan, sukses yang tercermin dalam angka statistik hendaknya tidak membuat lengah pernah aman pengambil kebijakan mengenai kemiskinan.

Upaya pengentasan kemiskinan hanya akan berhasil melalui ikhtiar politik pemerintah yang menjadikannya agenda utama pembangunan bangsa. Prof. Mubyarto bahkan mengingatkan, budaya korupsi di Indonesia, yang sudah terkenal di luar negeri bisa dikhawatirkan bahwa dana IDT tidak akan sampai kepada rakyat yang membutuhkann ya. Namun karena jumlah IDT sangat kecil maka dana itu tidak mungkin dikorupsi. Selain itu social control masyarakat dan aparat juga sudah cukup ketat.

Menyimak dengan cermat pernyataan Presiden Soeharto ketika menerima tanda penghargaan terakhir ini, rasa-rasanya pidato itu ditujukan kepada para birokrat pemerintahan yang bertugas “mematahkan rantai” kemiskinan.

Jika pernyataan Presiden Soeharto disambut dengan retorika yang menggelegar tanpa tindakan nyata, maka pada era mendatang,kemiskinan tidak akan beranjak dari bumi tanah air kita.

Sumber : MERDEKA (10/09/1997)

______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 438-440.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.