MEMASUKI TAHUN KEDUA PELITA IV

MEMASUKI TAHUN KEDUA PELITA IV

Dua hari menjelang dimulainya tahun anggaran 1985/86 yang tahun kedua Pelita IV, Sabtu pekan lalu, Presiden Soeharto menyerahkan DIP proyek-proyek pembangunan nasional yang ada di daerah-daerah kepada para Gubernur Kepala Daerah seluruh provinsi di Indonesia.

Dengan penyerahan itu, tahun kedua Pelita IV yang dimulai 1 April ini akan dimasuki dengan perencanaan tahunan yang didukung alokasi dana yang dijamin pengeluarannya.

Penyerahan DIP secara serentak bukan hal baru. Namun, dengan latar pengalaman cukup pahit, terutama selama tahun pertama Pelita IV, dimulainya tahun anggaran 1985/86 agaknya membawa harapan yang sekaligus dibayangi keprihatinan.

Dalam sambutan tertulisnya dibacakan para Menteri yang khusus diutus menyampaikan DIP itu, Presiden Soeharto mengingatkan kembali, apa saja yang kita capai dengan pembangunan selama 16 tahun sejak Pelita I.

Antara lain ditegaskan, dari negeri pengimpor beras terbesar, kini Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan. Dari keadaan industri yang terus merosot, sekarang Indonesia ikut menggunakan teknologi tinggi.

Dari prasarana yang terbengkelai, kini Indonesia merasakan manfaat listrik, dan jalar-jalan memasuki desa. Dari bangsa dengan GNP per kepala yang tergolong terendah di dunia, kini menjadi bangsa yang termasuk golongan berpendapatan sedang.

Kemajuan-kemajuan yang dikutip Presiden itu jelas membawa harapan. Sebab, bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang yang lain, apa yang dicapai Indonesia boleh dikatakan tidak kecil.

Di tahun 1972, misalnya, GNP per kepala Indonesia masih 90 Dollar AS. India waktu itu 110 Dollar AS, dan Pakistan 130 Dollar AS.

Dibandingkan dengan dua negara Asia sedang berkembang yang berpenduduk di atas 60 juta (waktu itu), maka dalam waktu hanya 10 tahun, GNP per kepala Indonesia meningkat menjadi 580 Dollar AS di tahun 1982. Sedang India hanya 260 Dollar, dan Pakistan 380 Dollar AS.

Tetapi, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang lain Indonesia masih tetap di tingkat terbawah. Dalam 10 tahun (1972-1982) GNP per kepala Singapura naik dari 1.300 Dollar AS menjadi 5.910 Dolar, atau meningkat menjadi 4,56 kali.

Malaysia dari 430 Dollar AS menjadi 1.860 Dollar, atau meningkat menjadi 4,33 kali. Philipina dari 220 Dollar menjadi 820 Dollar, atau meningkat menjadi 3,73 kali dan Muangthai dari 220 Dollar menjadi 790 Dollar, atau meningkat menjadi 3,6 kali. Sedang, Indonesia dari 90 Dollar menjadi 580 Dollar, atau meningkat menjadi 6,44 kali.

Dengan angka-angka perbandingan itu agaknya dapat dilihat, sekali pun dari jumlah GNP per kepala Indonesia masih tetap di tingkat paling bawah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang lain, namun kelipatan peningkatannya justru lebih tinggi.

Padahal penduduk Indonesia yang di tahun 1982 berjumlah 152 6 juta adalah 61,04 kali lipat penduduk Singapura, 10,52 kali lipat penduduk Malaysia, 3,0 kali lipat penduduk Pilipina, dan 3,5 kali lipat penduduk Muangthai.

Dengan angka-angka perbandingan itu agaknya tanpa disadari, apa yang dicapai selama 10 tahun (1972-1982) merupakan prestasi yang tidak bisa dikatakan kecil. Oleh sebab itu, rasanya memang wajar bila kita bersyukur sedalam-dalamnya, seperti ditegaskan Presiden Soeharto dalam sambutan tertulisnya.

Namun, kemajuan itu sama sekali belum boleh menjadikan kita berpuas diri. Perjalanan masih akan jauh dan berat, kata Presiden Sekalipun GNP per kepala Indonesia sudah digolongkan tingkat sedang menurut istilah Bank Dunia “menengah rendah” atau “lower middle income”, namun sebagian atau sekitar 20-25 persen rakyat Indonesia diperkirakan masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Ini jelas tantangan tidak kecil. Dengan tahun kedua Pelita IV yang masih akan tetap berat, tantangan akan terasa lebih berat pula.

Situasi ekonomi yang masih berat itu, berhadapan dengan tuntutan penyediaan lapangan kerja yang makin banyak, sebagai hasil laju pertumbuhan angkatan kerja/penduduk yang masih tetap besar.

Angka-angka statistik menunjukkan program keluarga berencana cukup berhasil. Tetapi, jumlah pencari kerja makin merisaukan karena pertumbuhan angkatan kerja yang belum terimbangi oleh laju penyediaan lapangan kerja.

Dalam suasana yang dilatari kemajuan-kemajuan cukup menggembirakan seperti disinggung tadi, dan tekanan-tekanan berat yang masih dihadapi itulah kita masuki tahun kedua Pelita IV.

Sebagai bangsa yang tumbuh dalam kancah perjuangan penuh aneka kesulitan, mestinya kita sedetikpun tidak boleh melepaskan sikap optimis. Kita sudah melampaui setengah perjalanan pertama kurun waktu 30 tahun pembangunan jangka panjang.

Berhasil tidaknya kita menyelesaikan “etappe kedua” amat tergantung dari mampu tidaknya kita mengatasi kesulitan yang masih menghadang.

Dalam tahun kedua Pelita IV kesulitan itu akan terasa makin berat karena perubahan cukup mendasar dalam struktur penerimaan negara, dan perdagangan luar negeri.

Minyak bumi yang selama ini menjadi unggulan teratas dalam menunjang penerimaan negara dan devisa, mau tidak mau, lambat laun harus melepaskan keunggulan. Padahal, penggantinya pajak dari ekspor non migas belum sempat berkembang sebagai alternatif yang bisa diandalkan.

Terus terang, dengan latar semua itu tahun kedua Pelita IV benar-benar memprihatinkan. Tetapi, keprihatinan saja tidak pernah berhasil mengatasi tantangan tanpa kerja keras.

Sejarah mengisyaratkan, bangsa ini hanya bisa dipacu untuk bekerja keras bila persatuan dan kesatuan yang dilandasi rasa kebersamaan berhasil dibina dan dipertahankan terus.

Oleh sebab itu, bagaimana pun beratnya tahun kedua Pelita IV kita yakin pelbagai tantangan akan dapat diatasi, selama rasa kebersamaan berhasil dibina terus dengan penjabaran yang makin memperkuat persatuan dan kesatuan. (RA)

 

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (11/05/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 39-41.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.