MELAWAT KE ASIA TENGAH (BAG III-HABIS) BERDERAK MENUJU KAPITALISME

MELAWAT KE ASIA TENGAH (BAG III-HABIS) BERDERAK MENUJU KAPITALISME [1]

Pengantar Redaksi :

Pada 31 Maret-13 April lalu, di samping mengunjungi Republik Federal Jerman, Presiden Soeharto melakukan lawatan ke tiga negara di Asia Tengah : yakni Kazakstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan. Wartawan Republika Hersubeno Arief yang ikut dalam rombongan menuliskan beberapa catatannya tentang negara-negara di Asia Tengah itu :

Jakarta, Republika

Sore baru saja bergulir ke rembang petang ketika seorang pria menghampiri saya di lobi Hotel Kazakstan di Almaty, Kazakstan. Jasnya sedikit kumal tanpa dasi. Sepatu hak rendah yang dipakainya nampak aus.

“Indonesia …. Presiden Soekarno … Jenderal Soeharto.”

Hanya kata-kata itu yang dapat saya tangkap dari mulut lelaki yang berbahasa Rusia itu. Meski tak mengerti apa yang dibicarakannya saya menjabat erat tangannya. Saya pikir setidaknya, ia tahu bahwa saya merupakan anggota rombongan Presiden Soeharto yang sore itu baru saja tiba di Kazakstan.

Obrolan yang tak karuan juntrungnya akhipuya berlangsung. Saya mencoba mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris, tapi yang keluar hanya berupa gelengan kepala dan kata-kata Nyet atau Da disertai anggukan kepala.

Pembicaraan makin seru ketika saya sebutkan bahwa saya seorang muslim dan memberinya salam. Dijabatnya erat-erat tangan saya dan kemudian ia menunjuk dirinya sendiri.

“Moslem-Moslem..” Katanya.

Untunglah pembicaraan yang rada ngawur ini segera terselamatkan, ketika Ny. Galina dari Kedutaan besar RI di Moskow datang menghampiri. Wanita Ukraina yang bersuamikan pria Manado itu dengan sukarela menjadi penterjemah kami.

Lelaki paruh baya itu bernama Tilektesh I Ishemkulov : Duta Besar Kirgistan untuk Kazakstan. Kirgistan adalah bekas republik Soviet di Asia Tengah pula. Ketika Soviet masih bersatu, Ishemkulov berdinas di Angkatan Darat dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Sebagai seorang purnawirawan perwira tinggi dan juga sebagai duta besar, penampilan Ishemkulov jauh dari bayangan kita tentang diplomat di negeri asing. Untuk mewakili kepentingan 4,4 juta bangsanya, ia hanya dibantu oleh dua orang staf. Kantornya ada di lantai delapan Hotel Kazakstan tempat kami mengobrol tadi.

Jangan bayangkan hotel tadi sebagai tempat yang mewah. Meskipun gedungnya bertingkat 26 dan mencakar langit, tapi bangunan itu tak lebih seperti raksasa kumal yang renta. Lobynya yang besar terkesan sangat suram dengan penerangan alakadarnya. Di salah satu sudut terdapat puluhan pesawat TV yang berjajar tapi tak pernah dihidupkan.

Kamarnya? Jangan bandingkan dengan hotel berbintang di Jakarta. Kalau toh mau terpaksa dibandingkan, maka mungkin hanya dapat disejajarkan dengan sebuah losmen. Memang kamar tersebut dilengkapi dengan peruanas dan juga lemari es. Tapi lemari es buatan Rusia itu telah berkarat dan tak berisi apa-apa. Melompong, hanya sebagai pajangan.

Dalam kamar seperti itulah lshemkulov menjalankan aktifitas diplomatiknya. Kamar sekaligus kantor kedutaan.

Pembicaraan terus bergulir, ia bercerita tentang kehidupan beragama di negaranya, termasuk kehidupan beragama pribadinya. Ia mengaku kini telah Shalat Jumat, tapi tidak begitu dengan ketiga anak lelakinya yang masih di tinggal di Beshkek, Ibu Kota Kirgistan.

Ketika pembicaraan menyangkut masalah misi diplomatik dan prasarana yang akan melengkapinya. Ishemkulov tertegun sejenak. Masalah kemampuan ekonomi negaranya jadi satu persoalan yang terus mengganggu.

Secara umum kondisi ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tengah paska Uni Soviet memang belum begitu menggembirakan. Jika hanya berdasar dengan melihat data statistik yang ada, pendapatan perkapita mereka cukup tinggi. Uzbekistan misalnya 1.350 do1ar AS, Kazakstan 2.470 dolar, Kirgistan 1.550 do1ar, Tajikistan 1.050 dolar dan Turkmenistan 1.700 dolar. Bandingkan dengan Indonesia yang baru mencapai angka 700 dolar.

Tapi itu semua baru berdasarkan data statistik. Fakta yang ada di lapangan menunjukkan kenyataan yang berbeda. Tingkat rata-rata pendapatan pada masyarakat jauh di bawah itu. Ini bisa dimaklumi karena mekanisme pasar mereka belum sepenuhnya bebas. Masih banyak sektor yang dikuasai oleh pemerintah dan rakyat menjadi pekerja kolektif.

Anna Ravydova (19), seorang mahasiswi Universitas Negara Kazakstan, mengeluhkan kondisi yang kian sulit.

“Sekarang kondisinya tambah sulit, karena apa-apa harus bayar.” Kata Anna.

Memang setelah melepaskan diri dan menjadi negara merdeka, fenomena yang sama terjadi pada semua negara bekas Uni Soviet. Jika selama ini apa-apa ditentukan oleh negara dan hampir semua fasilitas dan kepentingan umum diberikan oleh negara dengan gratis, maka kini mereka harus membayarnya.

Bapak Anna adalah seorang akuntan. Gajinya setiap bulan sekitar 6.000 tenge atau sekitar 97 dolar. Jumlah ini cukup tinggi jika dibanding rata-rata pendapatan riil penduduk yang sekitar 50 dolar. Angka yang hampir sama juga diperoleh pekerja di Uzbekistan, sedang di Turkmenistan seorang pekerja hotel misalnya mengaku mendapat gaji sekitar 15 dolar perbulan.

Masih untung meskipun kondisi memprihatinkan, tapi kota-kota di kawasan Asia Tengah itu relatif aman dan tidak muncul gejolak. Orang-orang masih bisa dengan tenang melenggang di tengah malam.

Menurut Igor I Kashmadze seorang wartawan dari Suara Rusia, pengaruh liberalisasi sangat terasa di Moskow, Ibu Kota Rusia. Kejahatan makin merajalela dan kota Moskow kini bisa dimasukkan dalam kategori kota tidak teraman di dunia.

“Harga-harga bisa naik sepuluh ribu kali, sedang gaji hanya naik seribu kali.” Kata lelaki yang pernah lama tinggal di Jakarta dan sangat fasih berbahasa Indonesia itu.

Ia menunjuk contoh roti yang dulu hanya berharga 250 rubbel kini bisa menjadi 7.500 rubbel. Demikian pula halnya dengan angkutan kendaraan umum dan berbagai kebutuhan pokok.

“Payah” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Igor yang oleh teman-teman wartawan Indonesia sering dipanggil dengan Pak Tigor. Bukan bermaksud membela Rusia dari tanggung jawab terhadap buruknya kondisi negara-negara di kawasan Asia Tengah itu. Ia ingin menunjukkan munculnya mekanisme pasar bebas yang dengan catatan juga belum sepenuhnya itu, ternyata tidak dibarengi oleh kesiapan masyarakat.

Anna misalnya, kini lebih menyukai lagu-lagu dari Barat dengan alasan antara lain untuk memperlancar bahasa inggrisnya.

“Tapi harga kaset cukup mahal tak terjangkau kantong mahasiswa.” Kata gadis yang ketika bertemu saya mengenakan tas usang dengan retsluiting yang telah jebol itu.

Harga kaset yang saya tak tahu apakah rekamannya hasil bajak an atau tidak, berharga rata-rata 250 tenge atau sekitar 2,5 dolar. Makanya ia begitu senang ketika saya minta untuk menemani mencari kaset-kaset album musik lokal dan saya persilahkan untuk memilih sebuah kaset bagi dirinya.

Dengan cepat ia minta kepada pedagang tersebut sebuah album dari Duran­ Duran, sebuah kelompok musik dari Inggris.

“Saya sudah lama ingin memiliki kaset ini. Tapi nggak pernah terbeli. Nanti kalau saya putar lagu ini, saya akan ingat kamu.” Katanya sambil memandang saya.

Beratnya kehidupan juga diakui oleh Gulmira Suleymen (21), mahasiswi jurusan bahasa-bahasa dunia, Universitas Negara Kazakstan . Gadis yang bercita-cita menjadi penerjemah itu mengaku mengajar les bahasa Inggris di tujuh tempat dengan lama sekitar 1jam 30 menit. Pendapatan yang ia terima dari ke tujuh tempat kursus tersebut hanya sebesar 1.000 tenge atau sekitar 16.260 dolar saja per bulan.

“Ini karena saya belum punya diploma. Kalau sudah pendapatan yang saya terima akan lebih besar karena saya bisa menjadi guru.” katanya.

Diploma di Kazakstan sangat penting artinya, karena menentukan besar kecilnya pendapatan seseorang. Ayah Gulmira, Pak Suleymen yang berusia 43 tahun, bekerja di pertan ian negara dengan rata-rata penghasilan 5.000 tenge karena dia hanya mempunyai diploma pertanian. Sedang isterinya yang bekerja sebagai akuntan mempunyai penghasilan sebesar 6.000 tenge. Jumlah yang lebih besar itu diperoleh karena ibu Gulmira mempunyai dua buah diploma yakni teknik dan pertanian .

Dengan penghasilan berdua sebesar 11.000 tenge atau sekitar 179dolar keluarga Suleymen tinggal dalam sebuah apartemen milik sendiri di pinggiran kota Almaty. Dalam apartemen dengan tiga kamar ini suami istri Suleymen, Gulmira dan seorang adiknya mendapat kamar sendiri-sendiri. Dengan pengeluaran untuk listrik, gas dan air sekitar 800 tenge per bulan, menurut Gulya mereka bisa hidup Iayak dan masuk dalam kelas menengah .

Secara umum sekitar 70 persen dari 19 juta penduduk Kazakstan masih hidup di pedesaan yang miskin, dengan petemakan sebagai mata pencaharian. Saat ini pemerintah sedang terus melaksanakan privatisasi. Berbagai lembaga keuangan dunia turut membantu program tersebut. Bank Dunia telah memberikan bantuan teknik sebesar 38 juta dolar, termasuk 1,5 juta dolar bantuan langsung. IMF memberikan kredit lunak sebesar 86juta dolar untuk program anti krisis. Kondisi yang samajuga terjadi di Uzbekistanmaupun Turkmenistan. Kegiatan privatisasi baru di1aksanakan dengan begitu peran negara masih sangat menonjol di berbagai sektor perdagangan berbagai lembaga keuangan negara percaya bahwa perekonomian di kawasan ini akan tumbuh dengan baik dengan catatan bila mendapat penanganan yang tepat. Potensi alam berupa gas,minyak dan berbagai basil pertam bangan lainnya, demikian pula halnya dengan sektor pertanian terutama kapas menjadikan kawasan inisebagai kawasan yang kaya dan potensial.

Negara seperti Turkmeni stan yang hanya berpend uduk sekitar 5 juta jiwa namun mempunyai sumber gas alam dan minyak yang besar misalnya, berambisi menjadi seperti Kuwait. Sebuah  negara di tengah padang pasir namun bergelimang petro-dollar yang kondisi dan potensi alamnya memang tak berbeda jauh dengan Turkmenistan. (Habis)

Sumber : REPUBUKA (27/04/1998)

___________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 659-663.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.