MELAWAN KEMISKINAN

MELAWAN KEMISKINAN[1]

 

Jakarta, Republika

Dunia Internasonal kembali memberikan pengakuan atas keberhasilan pembangunan Indonesia kemarin (8/9), Presiden Soeharto menerima penghargaan dari United Nations Development Program (UNDP) atas keberhasilannya menjalankan program pengentasan kemiskinan (PPK) di Indonesia. Penghargaan diberikan karena menurut lembaga di bawah naungan PBB itu, Indonesia memperlihatkan,

“Komitmen amat besar dalam memerangi kemiskinan dengan upaya yang berkelanjutan.”

Penghargaan UNDP ini menambah daftar pengakuan Internasonal atas sukses pembangunan Indonesia. Sebelumnya Presiden juga telah menerima penghargaan FAO atas keberhasilan swasembada pangan (1985), penghargaan United Nation Population Award atas keberhasilan menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program Keluarga Berencana (1989), dan medali emas-emas Avicena dari United for Economic, Social and Cultural Organization (UNESCO) atas dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan dunia pendidikan menerima penghargaan dari United Nations Development Programme (UNDP) atas keberhasilannya menjalankan program pengentasan kemiskinan (PPK) di Indonesia. Penghargaan diberikan karena menurut lembaga di bawah naungan PBB itu, Indonesia memperlihatkan, komitmen amat besar dalam memerangi kemiskinan dengan upaya yang berkelanjutan.

Di tengah keinginan masyarakat agar pemerintah semakin mengefektifkan PPK, penghargaan UNDP ini sangat produktif. Terlebih-lebih dunia saat ini menjadikan pengentasan kemiskinan sebagai salah satu agenda kemanusiaan terpenting.

Menurut data UNDP, jumlah penduduk miskin di seluruh dunia mencapai 1,3 miliar orang, Mereka tersebar di Asia Selatan (560 juta), Asia Timur, Tenggara, Pasifik, dan Sahara (170 juta), Amerika Latin dan Karibia (110 juta), Arab (73 juta), dan di belahan dunia lain (117 juta). Dalam kerangka itu, sejak Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Sosial di Copenhagen, Maret 1995, UNDP telah mengangkat tema memerangi kemiskinan sebagai tugas nomor satu.

Penghargaan kepada Indonesia tentu menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian dunia yang kian ditunggu proyek-proyek percontohannya. Indonesia, sebagaimana dipahami UNDP, layak dijadikan pusat percontohan itu. Melalui PPK yang sudah dirintis sejak pertengahan 1970 an, Indonesia dapat menekan jumlah penduduk miskin dari 40,1 persen penduduk (54,2 juta jiwa) di tahun 1976 menjadi “hanya” 11 persen (21,5 juta) pada akhir 1996.

Penghargaan UNDP yang diberikan kepada Indonesia di tengah eskalasi perhatian dunia akan produktif jika dijadikan cambuk untuk makin mengefektifkan PPK. Baik Inpres Desa Tertinggal (IDT), Kelompok Belajar Usaha (KBU), Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPK), Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra), Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra), Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS), Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K), Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG), Pembangunan Kawasan Terpadu (PKT), maupun program kemitraan usaha besar menengah kecil.

Sumber : REPUBLIKA (09/09/97)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 432-433.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.