MEDIA MASSA IKUT PERCEPAT PENGUNDURAN DIRI PAK HARTO

MEDIA MASSA IKUT PERCEPAT PENGUNDURAN DIRI PAK HARTO[1]

 

 

Kairo, Antara

Seorang pengamat masalah Asia menilai, pemberitaan-pemberitaan media massa menyangkut krisis ekonomi dan politik di Indonesia belakangan ini, senantiasa memberikan kontribusi dalam mempercepat kejatuhan Soeharto dari kursi ke Presidenan.

“Tidak bisa dipungkiri, peranan pers baik edisi dalam negeri (Indonesia) maupun internasional tentang situasi di Indonesia cukup besar dalam mendorong jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya.” kata pengamat sosial dan politik Abdel Hamid El-hijazy di Kairo, Senin.

Dalam wawancara khusus dengan Antara Perwakilan Kairo, pemerhati masalah Asia kelahiran Mesir yang bermukim di London itu mengemukakan, berita-berita yang bernada miring tentang absolutisme kepemimpinan Soeharto di negeri berpenduduk 200 juta jiwa ini, merupakan nuansa lain dari upaya mendongkel tokoh senior yang cukup disegani para pemimpin negara Dunia Ketiga itu.

El-hijazy juga menilai, media massa Indonesia belakangan ini cukup terbuka mengeritik tindak-tanduk Soeharto dan berbagai kebijakan pemerintahnya yang dianggap kurang beres. Dikatakannya, tajuk rencana hampir semua media massa nasional sejak kemelut moneter melanda Indonesia tahun lalu, tanpa tedeng aling-aling amat bebas mengungkapkan opininya.

Peran Kata ‘Mundur’

Sebagai ilustrasi, El-Hijazy, menggaris bawahi kata ‘mundur’ yang dilansir media massa Indonesia sebagai kutipan dari pidato Presiden Soeharto di depan masyarakat Indonesia di Mesir hari Rahu, dua pekan lewat.

“Kata ‘mundur ‘ sebagaimana ditafsirkan pers dalam ungkapan pidato Soeharto di Kairo itu, riaknya cukup tajam dan bisa dikatakan merupakan awal dari tuntutan masyarakat secara terang-terangan agar Presiden segera turun.” katanya.

Dalam pidato di Kairo, Soeharto menyebutkan,

“Bila rakyat tidak menghendaki lagi (kepemimpinan Soeharto), ya, tidak apa.” Kalimat yang terkandung dalam pidato tanpa teks itu kemudian ditafsirkan oleh pers dengan,

“Soeharto siap mundur, bila rakyat mengkhedakinya.”

Menurut El-Hijazy, penafsiran kata ‘mundur’ yang terkesan bernda miring itu cukup memperkeruh suasana di Indonesia, yang pada gilirannya kalangan yang kontra kepemimpinan Soeharto secara terang-terangan mendesak Presiden untuk menepati janji yang diucapkannya di Kairo,

“Penafsiran saya,” kata El-Hijazy,

“Tuan Soeharto mengucapkan kalimat ‘Iya, tidak apa’ tersebut tampaknya dimaksudkan untuk Pemilihan Presiden RI pada tahun 2003 sebagaimana ditetapkan pada Sidang Umum MPR Maret lalu. Dan bukanlah kemauan dia (Soeharto) untuk mundur sekarang seperti dilansir media massa.”

Kendati demikian El-Hijazy mengakui, memang sudah menjadi suratan takdir bahwa Pak Harto sudah saatnya turun dari jabatan sebagai Kepala Negara RI yang telah dipegangnya lebih dari tiga dekade.

“Bagaimanapun Soeharto sudah saatnya lengser keprabon (turun tahta) untuk mempersegar kembali kehidupan ekonomi, politik dan sosial di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu.” tambahnya. (J-3)

Sumber : SUARA KARYA (26/05/1998)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 594-596.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.