MCMULLAN: APEC BUKAN BADAN PENYELESAIAN PERTIKAIAN

MCMULLAN: APEC BUKAN BADAN PENYELESAIAN PERTIKAIAN[1]

 

Jakarta, Antara

Forum Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) bukanlah badan untuk menyelesaikan pertikaian di antara anggotanya, walaupun dalam kasus perselisihan perdagangan Jepang-Amerika Serikat (AS) APEC bisa berperan untuk membantu meredakannya, kata Menteri Perdagangan Australia Bob McMullan.

Dalam konperensi jarak jauh (teleconference) yang menghubungkan Canberra, Bangkok, Manila, Jakarta, Singapura dan Kuala Lumpur, Selasa, McMullan mengemukakan bahwa sebagai salah satu penggagas APEC, Australia melihat perselisihan Jepang-AS dengan keprihatinan. Atas pertanyaan ANTARA bagaimana posisi Australia dalam hal ini, ia menyatakan bahwa Canberra mendukung pandangan agar Jepang membuka lebih lebar pasarnya, namun juga khawatir tentang kemungkinan timbulnya perpecahan jika AS terlalu memaksakan kehendaknya. Ditanya apakah Indonesia sebagai ketua APEC sekarang bisa berperan dalam penyelesaian pertikaian tersebut, McMullan yang barn menyelesaikan kunjungan kerja ke lima dari enam negara ASEAN mengatakan, sebaiknya orang tidak terlalu banyak berharap munculnya suatu formula ajaib.

“Tapi saya juga percaya bahwa di bawah kepemimpinan Indonesia, APEC bisa membantu melicinkan jalan ke arah peredaan ketegangan, “katanya.

Konperensi jarak jauh lewat satelit yang bertema “Australia and the Region in the Post Uruguay and GAIT Environment “(Australia dan Kawasan ASEAN dalam masa Pasca GAIT dan Putaran Uruguay) itu mengambil pola dialog Worldnet yang biasa diadakan Kedubes AS.

Namun, dalam pelaksanaan lapangannya sedikit berbeda karena pertanyaan yang diajukan kepada nara sumber di Canberra hams disampaikan beberapa waktu di muka. John Zubrzycki dari Bagian Penerangan Kedubes Australia mengatakan, kegiatan semacam ini menurut rencana akan diadakan secara reguler dengan berbagai tema. “Dalam tahap awal mungkin baru dua bulan sekali,” katanya.

Redam Friksi

Mengenai pertemuan APEC November mendatang di Indonesia, Bob McMullan mengatakan bahwa Australia tidak pernah menginginkan APEC menjadi sekedar arena pertemuan berbiaya mahal. APEC yang didirikan 1989 kini mencakup 17 negara yang total kawasannya dihuni 2 miliar penduduk dengan “saham” atas 40 persen perdagangan dunia.

Produk Nasional Bruto (GNP) gabungannya tercatat pada angka sekitar 11 triliun dolar AS.

“Yang kami inginkan adalah APEC mampu meredam kemungkinan timbulnya friksi dan menghasilkan usulan-usulan nyata untuk melancarkan arus perdagangan,” Ujarnya.

Dikatakan pula, laju pergerakan APEC akan ditentukan dengan baik oleh Presiden Soeharto dalam pertemuan November nanti. Sebelumnya ia mengemukakan, teleconference yang diprakarsai Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia itu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan diri  ke kawasan ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina) tidak saja secara politik dan keamanan, tapi juga ekonomi dan kultural.

Atas pertanyaan apakah ini artinyaAustralia ingin menjadi satu keluarga dengan Asia, ia mengatakan: “Kami tidak harus diperlakukan sebagai keluarga, cukup jika dianggap sebagai negara yang mempunyai hubungan baik dengan kawasan ini. Bagaimanapun Australia  mempunyai cirinya sendiri.”

McMullan juga menepis kekhawatiran bahwa Australia akan menolak kehadiran Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) yang dicanangkan berlakunya mulai 1993. “Selama tujuannya menghilangkan hambatan perdagangan di ASEAN dan bukan membuat hambatan bagi negara lain di luar kawasan itu, kami menyambutnya dengan senang hati,” tuturnya. Australia, yang merencanakan suatu pameran dagang dan kebudayaan besar­ besaran di Indonesia Juni-Juli mendatang dengan tema “Australia Today Indonesia 94”, mencatat nilai ekspor ke Indon esia 1,7 miliar dolar AS sementara impornya sekitar 1,3 miliar dolar AS pada periode 1992/93.

(T-RI2/29/03/94 11:53/EUOl/29/03/94 12:25/RB2)

Sumber:ANTARA(29/03/1994)

______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 238-239.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.