MBAK TUTUT: ALHAMDULILLAH, KITA BISA MENANG

MBAK TUTUT: ALHAMDULILLAH, KITA BISA MENANG[1]

 

Jakarta, Antara

Saya amat senang dan hanya dapat mengucapkan Alhamdulillah karena pemain kita berhasil mengalahkan Thailand, kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PB. PBVSI) Ny. Siti Hardianti Rukmana seusai menyaksikan final bola voli putra antara Indonesia dan Thailand di Istora Senayan, Sabtu malam.

Disaksikan sekitar 13.000 penonton, tim putera Indonesia menundukkan Thailand 3-1 pada pertandingan yang gegap-gempita di tengah-tengah dukungan yang luar biasa dari suporter Indonesia.

Tentang penonton Indonesia, ketua PB. PBVSI yang akrab dipanggil Mbak Tutut itu mengatakan cukup bagus dan bisa menjaga sportivitas.

“Saya berterimakasih atas dukungan yang diberikan, sehingga Indonesia bisa menang,” kata Mbak Tutut yang mengenakan kerudung hijau motif kembang kehitam-hitaman.

Putri tertua Presiden Soeharto itu meninggalkan Istora Senayan tak lama setelah usai pertandingan final bola voli putra, tetapi tidak melalui pintu VIP lantai II karena “ditutup mati” menggunakan lemari besar, setelah kaca pintunya hancur diamuk massa penonton.

Melalui pintu lantai bawah dia buru-buru meninggalkan Istora didampingi beberapa pengurus bola voli termasuk ketua harian Rita Soebowo dengan kawalan ketat petugas berseragam polisi.

“Sudah ya, pokoknya saya amat berterimakasih atas dukungan penonton dan mengucapkan Alhamdulillah atas keberhasilan pemain Indonesia sekalipun sebelumnya hati saya sempat dag-dig-dug juga,” kata Mbak Tutut kepada ANTARA dengan muka berseri-seri merah sambil bergegas menuju kendaraannya, Mercedes Benz S 320 warna hitam yang diparkir dihalaman VIP Istora.

 

Kaca-Kaca Pintu Hancur

Keberhasilan atlet bola voli putra Indonesia diwarnai pecahnya beberapa kaca pintu masuk ke lstora Senayan karena amukkan penonton yang berdesakan ingin masuk ke Istora, kendati jumlah penonton sudah jauh melebihi kapasitas gedung 10.000 tempat duduk.

Diperkirakan tidak kurang dari 13.000 penonton menyaksikan pertandingan itu, termasuk mereka yang hanya bisa berdiri pada gang-gang tribun dan pintu masuk serta melalui pesawat televisi layar lebar yang disediakan panitia di sekitar gedung.

Tercatat empat pintu kaca gelap setebal lima milimeter yang hancur diamuk massa penonton, termasuk pintu A3, A5 dan A8 semuanya di lantai dua. Bahkan pintu VIP di sebelah timur gedung, kacanya juga hancur berantakan.

Untuk pengamanan, petugas memalangkan lemari besar agar penonton tidak bisa keluar-masuk selama pertandingan berlangsung.

Beberapa ofisial Thailand yang hendak meninggalkan tempat “orang-orang penting” itu setelah pertandingan putra berakhir, tidak diizinkan petugas keluar dari tribun VIP Timur.

“Beliau sedang keliling mengiventarisasi berbagai kerusakan yang terjadi,” kata salah seorang stafnya yang berkantor di salah satu sudut gedung Istora.

(T.OKZS/DN02/20:35/Kpg-001118/10/97   21:52/LN03)

Sumber: ANTARA (31/10/1997)

______________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 633-634.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.