Mayor Jenderal Soeharto

Mayor Jenderal Soeharto[1]

 

SESUAI dengan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), ada satu poin yang tidak dilaksanakan dan menjadi kerikil dalam sepatu bagi Indonesia, yakni soal Irian Barat.

Satu poin dalam keputusan KMB itu adalah; dalam jangka waktu satu tahun sesudah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS), 27 Desember 1949, masalah status Irian Barat akan diselesaikan melalui perundingan.

Satu tahun berlalu tidak ada perundingan, hingga pada tahun 1954, Indonesia membawa persoalan ini ke sidang PBB, namun pihak Belanda bukan saja tidak mau merundingkannya, malah nampak usaha Belanda akan mendirikan “Negara Papua”, negara boneka di bawah mantel Belanda.

Menyikapi sikap Belanda yang ngeyel ini, pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta, Presiden Soekarno mengumandangkan “Tri Komando Rakyat” (Trikora), dan sebagai pelaksana Trikora dibentuk “Komando Mandala Pembebasan Irian Barat”.

Kemudian Presiden Soekarno meminta kepada KSAD Jenderal AH Nasution untuk mengajukan nama-nama jenderal Angkatan Darat yang layak mengemban tugas sebagai Panglima Komando Mandala.

Selaku KSAD, Nasution mengajukan tiga nama yaitu, Brigadir Jenderal Ahmad Yani, Brigadir Jenderal Sarbini, dan Brigadir Jenderal Soeharto. Dari tiga jenderal yang diajukan itu, Presiden Soekarno memilih Brigadir Jenderal Soeharto, tentu setelah berdiskusi Nasution.

Sebagai Panglima Komando Mandala, pangkat Soeharto dinaikkan menjadi Mayor Jenderal, pada Januari 1962. Tentu Bung Karno tidak lupa pada Opsir Koppig yang menyelamatkan negara dari kudeta Jenderal Mayor Soedarsono, 3 Juli 1946.

Operasi militer pembebasan Irian Barat yang disebut dengan “Operasi Jayawijaya”, dilakukan oleh Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala.

Operasi Jayawijaya adalah operasi militer terbesar yang pernah dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia.

Disebut sebagai operasi militer terbesar karena melibatkan 40 ribu prajurit berasal dari matra laut, darat, udara, dan kepolisian, didukung dua squadron pesawat angkut berat, tiga squadron pemburu supersonic, satu squadron pesawat pembom, puluhan helikopter, tiga kapal selam dan satu kapal penjelajah berat, puluhan korvet, plus puluhan tank dan meriam.

Dengan peralatan perang tersebut, menjadikan Indonesia pada waktu itu sebagai negara terkuat dalam bidang militer di dunia belahan selatan khatulistiwa.

Tentu Belanda menyadari bahwa akan terjadi per-tempuran besar jika Operasi Jayawijaya dilakukan. Sebagai Panglima Komando Mandala, Mayor Jenderal Soeharto sudah melakukan operasi penyusupan untuk mempersiapkan invasi. Penyusupan diantaranya dilakukan oleh Mayor Benny Murdani (kemudian Panglima ABRI), dengan sandi Operasi Naga, Mayor Benny dan pasukannya diterjunkan ke Irian Barat.

Menyadari Indonesia benar-benar akan menyerang kedudukan Belanda di Irian Barat, Amerika yang membantu Belanda dalam program Marshal Plan setelah negeri ini hancur akibat perang dunia kedua, melalui saluran politik diplomatik, meminta Belanda menyelesaikan status Irian Barat melalui perundingan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tanggal 16 Agustus 1962, tercapai “Persetujuan New York” tentang penyerahan Irian Barat ke Indonesia.

Andai saja Operasi Jayawijaya jadi dilakukan, dunia Barat akan benar-benar terpukul. Akan terjadi satu peristiwa seperti tahun 1905 di Wladiwostok, Jepang mengalahkan Rusia. Timur mengalahkan Barat.

Dalam biografinya yang ditulis oleh Ramadhan KH, Soeharto mengatakan;

“Saya panjatkan syukur ke hadirat Yang Mahakuasa, bahwa Operasi Jayawijaya tidak perlu kita jalankan. Saya tahu, operasi ini akan meminta korban jiwa dan harta yang amat besar.”

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 65-67.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.