MASYARAKAT PANCASILA TIDAK LAIN ADALAH MASYARAKAT YANG SOSIALISTIS RELIGIUS

PRESIDEN SOEHARTO:

“MASYARAKAT PANCASILA TIDAK LAIN ADALAH MASYARAKAT YANG SOSIALISTIS RELIGIUS” [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menegaskan di depan pembukaan sidang raya ke-VIII Dewan Gereja2 di Indonesia, hari Kamis, di Salatiga, bahwa masyarakat Pancasila tidak lain adalah masyarakat yang sosialistis religius.

Hal ini benar2 harus kita camkan, harus benar2 kita insyafi, kata Presiden dan harus membimbing kita semua dalam langkah2 selanjutnya justru pada saat2 kita sedang sibuk membangun bangsa dan tanah air kita.

Presiden mengatakan, pada tahap awal pembangunan ini perhatian kita banyak tercurah pada pembangunan ekonomi, akan tetapi pembangunan ekonomi itu pada akhirnya tertuju pada kemajuan lahir dan batin yang seimbang dan selaras.

Keadilan sosial belum terwujud sekarang ini, hal itu tidak berarti bahwa kita telah menyimpang dari cita2 kita semula.

Presiden menegaskan “landasan masyarakat adil dan makmur barulah kita capai setelah kita melaksanakan serangkaian 4-5 kali Repelita yang sambung menyambung”.

Kendati pun demikian justru pada tahap2 awal pembangunan ini kita juga harus telah mulai meletakkan dasar bagi pembangunan yang merata.

Bantuan untuk desa, bantuan untuk kabupaten, bantuan untuk propinsi, juga pembangunan sector pertanian, pembangunan pendidikan dasar, penggarapan industri kecil dan masih banyak lainnya lagi adalah langkah2 nyata untuk melaksanakan pembangunan yang merata dan menuju kepada keadilan sosial.

Presiden mengatakan, memang keadaan sekarang masih belum bebas dari ketimpangan2 sosial, karena kita tidak mungkin menciptakan masyarakat adil dan makmur dalam lima-sepuluh tahun saja.

Akan tetapi salah besar jika orang mengatakan bahwa pembangunan sekarang ini tidak ada hasilnya, lebih2 jika mengira bahwa kehidupan rakyat banyak bertambah buruk.

“Ini sungguh2 melawan kenyataan”, kata Presiden Soeharto.

Dalam hal ini yang perlu selalu kita ingat adalah ketetapan hati kita untuk menjaga dan mengusahakan agar arah pembangunan ini tetap akan lurus menuju cita2 kita sendiri, ialah pembangunan yang membawa kemajuan dan keadilan yang merata, mewujudkan kemajuan lahir dan batin yang selaras.

Dalam rangka itu, kata Presiden dan lebih2 karena masyarakat yang sosialistis religius, maka adalah sangat penting adanya usaha bersama kita, agar agama dapat terus memberi bimbingan dan dorongan kepada pembangunan masyarakat Indonesia.

Dialog

Presiden Soeharto mengatakan “dialog antar ummat berbagai agama sangat penting artinya”.

Dialog adalah suatu proses dimana perorangan dan kelompok belajar untuk menghilan dan saling curiga dan saling takut dan berusaha untuk mengembangkan hubungan2 yang didasarkan percaya mempercayai.

Dialog merupakan hubungan yang dinamis bukan hanya antara berbagai pandangan yang rasioni tetapi hubungan yang dinamis antara hidup dan kehidupan.

Dialog ditujukan untuk hidup bersama berbuat bersama dan mendirikan dunia bam bersama.

Kalau kita amati, kata Presiden, maka dialog inimempakan salah satu ciri penting dalam dasawarsa yang sekarang dan seterusnya.

Dialog ini telah mulai berkembang antara-negara dan antar agama.

“Sungguh membesarkan hati bahwa dewasa ini telah banyak diadakan pertemuan2 antar agama di berbagai tempat di dunia ini,”demikian Presiden Soeharto.

Dewan gereja2 sedunia mengadakan dialog antara ummat beragama di Libanon, di Srilangka dan di Hongkong yang mempunyai tujuan mulia ialah untuk saling memahami antara satu dengan yang lain.

Di Indonesia sendiri maka dialog semacam itu juga diadakan.

Presiden mengatakan, untuk memantapkan kerukunan hidup antara ummat beragama dalam negara kita yang berdasarkan Pancasila inikita pun sedang berusaha untuk membentuk semacam badan atau forum konsultasi antar ummat beragama.

Dalam badan atau forum inilah dibicarakan segala sesuatu untuk kepentingan pembinaan kehidupan yang rukun dan kekeluargaan antara ummat dan berbagai agama.

Dalam pada itu kita menyadari bahwa dialog2 antara ummat beragama bukannya hal yang mudah, walaupun itu tidak berarti dialog tidak dapat diadakan.

”Lebih dari itu dialog2 tadi malahan bermanfaat dan memang dapat berjalan”, kata Presiden.

Penyiaran Agama

Presiden Soeharto mengatakan, kita harus benar2 menjaga dan memperkuat kerukunan hidup antara ummat beragama di Indonesia.

Kita harus saling mempercayai dan saling menghormati. Penyiaran agama harus kita jaga jangan sampai mengganggu ketentraman masyarakat. Usaha untuk memperbanyak pengikut dan usaha untuk mendirikan tempat2 ibadah adalah baik. Tujuan2 yang baik harus pula dijalankan dengan baik, karena itu usaha2 ini harus dijaga jangan sampai menimbulkan kegoncangan2 dalam masyarakat.

Presiden mengatakan lebih lanjut, kerja sama suatu kelompok agama di Indonesia dengan pihak luar negeri dapat bermanfaat untuk pengembangan agama yang bersangkutan di Indonesia, namun hendaknya segala sesuatu dilakukan sesuai dengan ketentuan2 prosedur yang diatur oleh pemerintah.

“Bantuan luar negeri untuk kelompok2 agama hendaknya dilakukan dengan melalui pemerintah. Hal ini perlu untuk menjaga agar bantuan itu dapat digunakan setepat2nya”, demikian Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto mengatakan, pembangunan mustahil akan berhasil jika tidak ada kerukunan dan kegotong-royongan di kalangan masyarakat Indonesia. (DTS)

Sumber : ANTARA(01/07/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 171-174.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.