MASYARAKAT LAMPUNG BUAT DEKLARASI

MASYARAKAT LAMPUNG BUAT DEKLARASI[1]

 

 

Bandar Lampung, Bisnis

Setelah mendengarkan pernyataan diri Jenderal Besar (purn) Soeharto dari jabatan Presiden RI 1998-2003, Kamis (21/5) Gubernur Lampung Oemarsono dan Ketua DPRD Tk I Lampung Katyotomo menandatangani Deklarasi Rakyat Lampung (DRI).

Salah satu butir DLR itu berbunyi menuntut Jenderal Besar (purn) Soeharto untuk mempertanggungjawabkan masa kepemimpinannya di depan pengadilan rakyat yang konstitusional.

Berdasarkan pemantauan Bisnis, penandatanganan DRI oleh Gubernur Lampung. Oemarsono dan Ketua DPKD Tk I Lampung Karyotomo itu dilakukan di halaman gedung DPRD yang juga disaksikan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seLampung yang berada di gedung DPRD sejak Rabu(20/5).

Gubernur Lampung, Oemarsono yang tiba di gedung DPRD sekitar Pukul 10.00 WIB langsung meneriakkan yel….yel,

“Hidup Reformasi. Hidup mahasiswa…..”

Bahkan Oemarsono yang saat itu disaksikan Rektor Universitas Lampung (Unila), Alhusniduki Hamim, S.E, M.Sc serta para dosen berbagai perguruan tinggi di sini langsung duduk bersama kerumunan ribuan mahasiswa di tangga gedung DPRD Lampung dan kemudian mengeluarkan dompet dan mengeluarkan uang secara spontan senilai Rp.540.000 untuk menambah dana ‘reformasi’ dalam wadah yang sudah disediakan mahasiswa tersebut.

Kemudian Oemarsono bersama Ketua DPRD Lampung, Karyotomo saling berganti membacakan dan menandatangani DRI, yang isi lengkapnya adalah berawal dari krisis ekonomi yang berdampak pada krisis politik dan krisis kepercayaan rakyat kepada pemerintah Orde Baru sehingga pemerintah rezim Soeharto kehilangan legimitasinya di depan rakyat.

Apapun yang akan dilakukan Soeharto saat ini tidak lagi mendapat dukungan rakyat bahkan sebaliknya tetap menuntut Soeharto untuk turun sebagai Presiden RI.

Kondisi ini sebagai akibat dari ditinggalkannya rakyat yang berdaulat sehingga sistem politik, ekonomi dan hukum yang rapuh dan berwatak korup, kolusi dan nepotisme serta hanya menguntungkan segelintir orang saja ternyata tidak bisa dipertahankan lagi. (mk).

Sumber : BISNIS INDONESIA ( 22/05/1998)

_______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 506.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.