MASYARAKAT DKI SAMBUT GEMBIRA BERHENTINYA SOEHARTO

MASYARAKAT DKI SAMBUT GEMBIRA BERHENTINYA SOEHARTO[1]

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Berhentinya Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden, Kamis (21/5) disambut masyarakat DKI dengan perasaan gembira, dengan harapan keadaan ekonomi akan lebih baik.

Berbagai komentar dilontarkan warga ibu kota sesaat setelah pengumuman pengunduran diri lewat TVRI. Sebagian warga langsung bersorak sorai. Kegembiraan itu dilontarkan Drs. Bambang, staf forensik FKUI RSCM. Dia menyatakan sangat bergembira seraya berharap agar segala krisis yang selama ini melanda bangsa Indonesia segera selesai. Krisis yang bermuara pada terpusatnya kekuasaan telah menimbulkan berbagai malapetaka. Di masa mendatang hendaknya krisis ini tidak terulang lagi. Komentar lain dilontarkan Wahyu Nugroho karyawan Bappepam yang menyatakan kemunduran Soeharto akibat perjuangan keras mahasiswa yang menuntut reformasi termasuk turunnya Soeharto. Oleh karenanya dia mengingatkan agar pengorbanan 4 mahasiswa Tri Sakti yang gugur dalam memperjuangkan refomasi harus menjadi tonggak dan selalu dikenang.

“Perjuangan ini bernama Angkatan 1998. Dengan demikian akan ada pemilihan presiden secara konstitusional,” ujar Wahyu.

Sementara penjual teh botol di depan RSCM, Wahid, mengatakan,

“Siapa pun yang menjabat presiden agar mampu mengembalikan ke suasana normal khususnya yang menyangkut kebutuhan rakyat kecil. Misalnya kebutuhan pokok harus segera turun..”

Masyarakat Jakarta khususnya golongan menengah ke bawah yang ditemui Pembaruan Kamis pagi di sekitar gedung DPR RI meluapkan kegembiraannya atas pernyataan HM Soeharto turun dari jabatannya. Sebagian besar di antara mereka tidak mempermasalahkan siapa pengganti Soeharto yang penting mereka bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik setelah reformasi dilakukan. Artinya, sembako lebih murah, bisa terjangkau masyarakat dan mereka berhak memperoleh hidup yang lebih layak.

Tuti, penjaga pintu tol Cawang mengatakan,

“Saya sudah mendengar kabar itu, ya senang aja, sebab aspirasi masyarakat ditanggapi Pak Harto..”

Tukang Sayur

Sementara itu Suhadi tukang kebon berharap agar situasi yang tidak menentu selama ini segera normal.

“Ketakutan warga segera hilang. Dengan turunnya Pak Harto orang kecil dan golongan masyarakat terbawah seperti saya, agar bisa hidup lebih layak.” ujar Suhadi.

Sementara Ranti penjual sayur keliling di sekitar Cawang, mengharapkan agar siapapun yang berkuasa lebih memperhatikan sektor informal.

“Janganlah hanya orang tertentu yang bisa maju. Semua lapisan harus bisa bekerja sama sehingga terwujud keadilan,” ujar Ranti yang pernah duduk di bangku SMU.

Kalau suasana terus menerus begini orang kecil lah yang sangat menderita. Karena berjualan juga tidak bisa tenang, tambahnya, Suhadi si tukang kebun maupun Ranti si penjual sayur juga menyambut gembira atas turunnya Soeharto. Pedagang Asongan Gadang, pedagang asongan teh botol mengaku biasa-biasa saja mendengar kabar turunnya Soeharto.

“Saya sih hanya ikut mahasiswa saja, yang penting saya bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik.” Bubun seorang pedagang rokok di halaman gedung DPR, mengaku senang dengan perkembangan pagi ini.

Selama ini dia mengaku sudah bekerja dengan sangat keras namun tidak mendapat upah yang memadai. Sementara ia melihat beberapa orang hanya mengandalkan kedudukan bapaknya dan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Ini tidak bagus, katanya. Dia minta supaya di masa depan masyarakat Indonesia bisa bekerja dengan baik mendapatkan nafkah yang pantas dan bisa bekerja lebih tenang tidak seperti saat ini yang selalu dikejar-kejar petugas keamanan. Sementara pekerjaan alternatif sulit didapatkan. Kalsum dan Naca, petugas cleaning service gedung DPR mengatakan hal yang sama, mereka berpendapat siapa saja yang memimpin bangsa ini harus bisa mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat. Terutama masyarakat kecil. Harga sembako jangan terlalu mahal sehingga kebutuhan rakyat bisa terpenuhi.

Komentar Satpam

Anggota satuan pengaman (satpam), Sanusi Sardjan menyambut gembira mundurmya Presiden Soeharto. Dengan mundurnya Soeharto berarti hidup rakyat semakin tenang karena selama berkuasa selalu bersikap tidak adil kepada rakyat kecil. Menurut dia, kebebasan rakyat untuk menyatakan pendapat sangat dibatasi. Kalau ada anggota masyarakat yang cukup kritis terhadap pemerintah dinilai subversif.

Sejumlah pengojek di Jalan Dewi Sartika mengatakan sangat setuju apabila Pak Harto mundur. Menurut mereka, kalau Presiden Soeharto masih berkuasa maka bangsa Indonesia akan semakin repot karena selama ini yang diuntungkan hanya pihak keluarga dan kalangan tertentu saja. Mereka berharap, setelah Pak Harto mundur muncul seorang pemimpin yang bisa memimpin negeri ini dengan adil.

Pemimpin yang baru diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang terjangkau. Mereka juga menyatakan kalau bisa, Pak Harto diadili karena kepemimpinannya selama ini telah membuat rakyat menjadi sengsara.

“Kami minta Soeharto diadili, kekayaannya bisa digunakan untuk membangun negara.” kata tukang ojek Suhara.

Mahasiswa yang masih berada di kompleks DPR/MPR sangat bergembira setelah mendengar pengumuman pengunduran diri Presiden Seoharto. Namun demikian mahasiswa menganggap turunnya Soeharto tidak berarti perjuangan reformasi selesai. Orasi-orasi reformasi yang disampaikan oleh sejumlah aktivis mahasiswa menuntut supaya seluruh rezim Seoharto mundur. Selain itu mahasiswa tampaknya masih akan tetap bertahan di gedung DPR MPR hingga tuntutan dilangsungkannya sidang istimewa MPR diselenggarakan yang juga menuntut adanya pertanggungjawaban Soeharto sebagai mandataris MPR.

“Kita tetap menuntut supaya MPR mengadakan sidang istimewa dan di dalamnya Pak Harto harus mempertanggungjawabkan mandat yang diberikan. Apabila ada sekelompok orang yang berani meanggung pertanggungjawaban Pak Harto berarti dia berhadapan dengan rakyat.” tegas Taufik, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung.

Sementara itu di tengah orasi reformasi sejumlah mahasiswa meluapkan kegembiraan mereka dengan cara masing-masing. Beberapa di antaranya memanfaatkan kolam yong ada di halaman Gedung DPR, untuk berenang dan menari-nari. Mereka meneriakkan yel yel hidup perjuangan reformasi dan menyanyikan lagu Perjuangan Hari Merdeka. Sejumlah mahasiswa bahkan memanjat tugu yang ada di kolam itu sebagai luapan kegembiraan. Mahasiswa dan mahasiswi saling memercikkan air yang ada di kolam tidak mempedulikan tubuh yang basah kuyup. Momentum yang langka ini tidak disia-siakan oleh sejumlah wartawan foto dan kameramen yang juga ikut terjun ke kolom mengabadikan peristiwa ini.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (21/05/1998)

_______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 909-911.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.