MASJID SOEHARTO, ABADIKAN HUBUNGAN RI-BOSNIA

MASJID SOEHARTO, ABADIKAN HUBUNGAN RI-BOSNIA[1]

 

 

Den Haag, Antara

Peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Mesjid Soeharto di Sarajevo, pada hari Senin (22/9) oleh Presiden Bosnia-Herzegovina Alija Izetbegovic, merupakan langkah melanggengkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Bosnia.

“Langkah ini juga dapat mengabadikan nama baik bangsa Indonesia di hati rakyat Bosnia.” kata Ketua Majelis Ulama Urusan Hubungan Luar Negeri, Lukman Harun, kepada ANTARA ketika transit di Belanda menuju ke Sarevo akhir minggu ini.

Bosnia benar-benar hancur setelah dilanda perang saudara dimasa lalu. Ribuan mesjid dan ratusan gedung sekolah Islam diratakan dengan tanah dalam suatu aksi penghapusan muslim Bosnia oleh bangsa dan tentara Serbia.

Dengan semangat solidaritas Islam, rakyat Indonesia mempunyai tanggungjawab moral untuk merehabilitasi kondisi parah yang dialami bangsa Bosnia.

Bantuan Indonesia sudah jelas dengan adanya pengiriman paket bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan uang untuk rakyat Bosnia yang ditindas tentara Serbia sewaktu perang saudara berkecamuk di daerah Balkan ini.

“Setelah perang, tanggungjawab kita adalah bagaimana membantu membangun mesjid dan sekolah yang hancur sesuai kemampuan kita. Dalam kondisi ekonomi sekarang, kita baru mampu membangun sebuah mesjid lengkap dengan sekolah madrasah saja.”

“Yang jelas, mesjid Soeharto yang akan dibangun ini merupakan perhatian dan bantuan yang konkrit dari rakyat Indonesia terhadap saudara-saudaranya di Bosnia.” katanya.

Pembangunan mesjid yang akan menggabungkan seni arsitektur Indonesia dan Bosnia menelan biaya sekitar 3 juta dolar AS,yang nantinya merupakan satu-satunya mesjid yang terbesar di negeri itu.

Mesjid ini dilengkapi dengan dua menara yang menggambarkan hubungan persahabatan antara Bosnia dan Indonesia.

“Kebanyakan mesjid di negeri ini memiliki satu menara yang merupakan ciri khas gaya Turki.” tambah Lukman.

Bersejarah

Permintaan pembangunan mesjid mulanya disampaikan rakyat Bosnia lewat tokoh Islam negara itu Dr Mustafa Ceric, ketika yang bersangkutan berkunjung ke Indonesia menghadiri Festival Istiqlal kedua di Jakarta tahun 1995.

Selama kunjungan itu Cerik bertemu Presiden Soeharto, Menteri Agama Tamrizi Taher dan beberapa tokoh MUI untuk menyampaikan rasa terima kasih rakyat Bosnia kepada pemerintahan dan rakyat Indonesia atas bantuan material dan moral yang diberikan selama perang demi meringankan beban derita rakyat Bosnia.

Pada pertemuan itu Ceric atas nama pemerintah Bosnia juga memohon kepada Indonesia agar membangun sebuah mesjid di negeri itu, mengingat ribuan mesjid dan ratusan gedung sekolah menjadi hancur.

Atas usul tersebut, akhirnya pemerintah Indonesia memenuhinya. Menurut Lukman, pemberian nama Soeharto terhadap mesjid yang akan dibangun adalah keinginan rakyat Bosnia yang akan mempunyai nilai historis tersendiri.

Dimata rakyat Bosnia, satu-satunya kepala negara asing yang berani berkunjung sewaktu perang berkecamuk adalah Presiden Soeharto.

Kunjungan Presiden Soeharto waktu itu memberi kesan tersendiri bagi rakyat Bosnia, dalam arti masih ada kepala negara asing yang berani melihat langsung keadaan mereka dalam kondisi perang.

“Bagi rakyat Bosnia, kunjungan waktu itu merupakan peristiwa bersejarah yang tidak mudah dilupakan begitu saja.” kata Lukman.

Di Bosnia, pemberian nama tokoh pahlawan atau pemimpin yang ternama dan dikenal bagi mesjid atau gedung lainnya adalah sesuatu yang umum dan wajar.

Mengingat Presiden Soeharto adalah tokoh pemimpin negara asing yang cukup dikenal di kalangan rakyat Bosnia, maka nama “Soeharto” bagi mesjid tersebut sangat disetujui oleh pemerintah dan tokoh-tokoh Bosnia, dan sekaligus juga merupakan langkah mengabadikan hubungan persahabatan antara kedua negara.

(U.LDH-01/EL01/22/09/97/16:20/KHl)

Sumber: ANTARA (22/09/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 537-538.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.