MASALAH PANGAN MASIH TETAP MINTA PERHATIAN SUNGGUH-SUNGGUH

MASALAH PANGAN MASIH TETAP MINTA PERHATIAN SUNGGUH-SUNGGUH

Presiden Soeharto mengatakan, masalah pangan masih tetap minta perhatian yang sungguh-sungguh sebab berhasilnya program dibidang pangan merupakan kunci yang penting bagi berhasilnya pembangunan secara keseluruhan.

Masalah pengamanan produksi pangan ini oleh Kepala Negara dinilai demikian penting hingga berhasil tidaknya seorang kepala daerah menjalankan kewajibannya, antara lain juga akan dinilai dari berhasil tidaknya mengamankan produksi pangan di daerahnya.

Presiden mengatakan halitu dalam pesan tertulisnya yang dibacakan oleh Menteri Muda Urusan Pangan Ir.Achmad Affandi dalam rapat koordinasi pangan di Semarang hari Sabtu 17 Maret.

Dalam rapat tersebut hadir para Dirjen yang membidangi produksi pangan, Gubernur Jateng, para Residen/Bupati se-Jateng serta instansi/dinas lain yang terlibat dalam masalah pangan baik tingkat I maupun tingkat ll se-Jateng.

Pada awal pesannya Presiden mengatakan, dalam Repelita Ill usaha peningkatan produksi pangan harus tetap mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, malahan merupakan satu tugas nasional yang teramat penting.

Namun disadari pula bahwa dimasa yang akan datang masalah pangan masih akan mengalami kerawanan-kerawanan karena berbagai faktor baik dalam maupun luar negeri.

Sebagai negara yang sedang membangun keadaan ekonomi dunia yang belum menentu yang sedikit banyakjuga akan mempengaruhi usaha kita untuk memperbesar produksi pangan, kata Kepala Negara.

Di tahun-tahun mendatang kitajuga masih akan menghadapi perbedaan antara permintaan dan penyediaan produksi pangan, karena kebutuhan akan terus meningkat sedang produktivitas belum dapat dicapai secara maksimal.

Disamping itu, iklim juga tidak jarang mengganggu produksi secara keseluruhan. Untuk menghadapi hal-hal tersebut maka penanganan produksi pangan harus selalu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, berkelanjutan dan tuntas.

Semua kekuatan masyarakat baik teknis maupun ekonomis, langsung atau tidak, harus dilibatkan dalam peijuangan besar menaikkan produksi pangan.

Presiden Soeharto mengatakan, masalah pangan masih tetap minta perhatian yang sungguh-sungguh sebab berhasilnya program di bidang pangan merupakan kunci yang penting bagi berhasilnya pembangunan secara keseluruhan.

Masalah pengamanan produksi pangan ini oleh Kepala Negara dinilai demikian penting hingga berhasil tidaknya seorang kepala daerah menjalankankewajibannya; antara lain juga akan dinilai dari berhasil tidaknya mengamankan produksi pangan di daerahnya.

Menurut Presiden, karena kesadaran kita akan pentingnya peningkatan produksi pangan, maka dalam Repelita III kita harus berani mengadakan koreksi-koreksi atas segala yang telah kita lakukan sampai sekarang ini.

Yang belum, kita perbaiki dan yang telah baik kita buat lebih baik lagi. "Usaha yang paling penting ialah adanya tindakan yang nyata dan efektif untuk meningkatkan produk:si pangan secara maksimal" kata Presiden.

Peningkatan 4 persen

Presiden mengatakan, pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan bahwa peningkatan produksi pangan dilakukan melalui intensiflkasi, ekstensiflkasi dan diversifikasi. Khusus mengenai produksi beras, demikian Presiden, harus dapat dicapai peningkatan sebesar 4 persen setahun. Bersamaan dengan itu juga diusahakan peningkatan produksi pangan lainnya, seperti palawija.

Karenanya, setiap jengkal tanah harus dimanfaatkan secara maksimal agar kenaikan produksi dapat tercapai dan agar penghasilan petani bertambah besar.

"Saya tekankan agar peningkatan produksi ini harus disertai dengan peningkatan penghasilan petani, karena perbaikan tingkat hidup petani ini merupakan salah satu tujuan pembangunan yang penting" kata Presiden.

Hal ini menurut Presiden, sekaligus akan membangkitkan kegairahan berproduksi dan membangkitkan prakarsa petani. "Haruslah selalu dipegang teguh bahwa segala usaha pemerintah benar-benar ditujukan untuk kepentingan dan perbaikan jutaan petani itu," kata Presiden.

Agar produksi pangan berhasil, Presiden minta perhatian terhadap lima hal berikut. Pertama penyediaan dan penyaluran saprodi (sarana produksi) harus dijamin tiba ditempat yang diperlukan pada waktu yang tepat dan jumlah yang cukup.

Kedua pemupukan tanaman supaya dilakukan secara optimal disesuaikan dengan kondisi dan keperluan tanah.

Ketiga, perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit harus mendapat perhatian yang sangat tinggi. Musibah serangan hama wereng harus menjadi pelajaran yang sangat diperhatikan, sebab serangan hama wereng bukan bencana yang tidak dapat dilawan. Untuk itu harus dilakukan penanaman VUTW I di daerah bio type wereng I dan VUTW II di daerah bio type wereng II.

Untuk menekan berkembang biaknya hama wereng antara lain dapat dilakukan dengan cara bercocok tanam yang baik, Regu pemberantasan hama hendaknya dikerahkan secara maksimal untuk menanggulanginya.

Keempat, pengalaman masa lampau memberi pelajaran kepada kita bahwa bencana banjir dan kekeringan seringkali menghambat produksi. Karena itu tata air harus selalu diawasi. Dan untuk memenuhi persyaratan tumbuh bagi tanaman, saluran­saluran tertier supaya dibangun dan dipelihara untuk memanfaatkan irigasi yang telah kita bangun dengan biaya tidak kecil. Untuk pengendalian banjir dan menjaga persediaan air, penghijauan di daerah aliran sungai supaya mendapat perhatian besar.

Kelima masalah kelancaran pemberian kredit, pengembalian kredit serta pemasaran, juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mensukseskan peningkatan produksi pangan. Oleh karena itu semua instansi dan pejabat yang menangani masalah ini harus benar-benar lincah agar dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

Jamin Harga Dasar

Presiden mengingatkan, umumnya petani kita telah bekerja keras dan tekun. Karena itu mereka sangat kecewa jika harga produksi sebagai hasil segala jerih payahn yaitu jatuh dibawah harapannya pada musim panen.

“Karena itu saya minta agar semua aparatur benar-benar menjamin bahwa petani menikmati harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah" kata Presiden. Petani juga perlu diberi tambahan ketrampilan dalam teknologi lepas panen untuk menghindari kerugian-kerugian yang timbul.

Penyuluhan

Presiden dalam kesempatan itu juga mengingatkan pentingnya penyuluhan bagi petani. Menurut dia, untuk menarik partisipasi petani secara maksimal, penyuluhan harus terus-menerus dilakukan tanpa mengenal lelah.

"Berikanlah penyuluhan yang mudah, jelas meyakinkan dan menarik," kata Presiden. ”Yakinlah bahwa dengan mengikuti petunjuk-petunjuk penyuluhan itu produksi mereka akan naik, demi perbaikan tingkat hidup petani dan keluarganya.

Kepala Negara berpesan, para penyuluh hendaknya mencintai petani, sehingga penyuluhan dilakukan dengan penuh pengabdian dan tidak mengenal lelah.

Langkah penting lainnya adalah pengembartgan pola makan masyarakat. Karenanya dalam, peningkatan gizi masyarakat, hendaklah dikembangkan pola makanan yang tidak tergantung pada beras semata-mata.

Menurut Kepala Negara, demikian pentingnya masalah pangan ini, sehingga dalam Kabinet Pembangunan III ia mengangkat Menteri Muda Urusan Produksi Pangan yang secara khusus diberi tugas untuk menangani masalah tersebut sebagai koordinator operasional. Sedangkan tanggungjawab di daerah dipercayakan pada para gubernur.

"Saya akan mengikuti secara cermat, langkah-langkah operasional yang sedang berjalan di tingkat nasional maupun daerah" kata presiden.

Untuk itu Presiden memerlukan laporan yang teratur dan benar-benar berdasarkan kenyataan. Jika ada kesulitan, agar segera dilaporkan ke pusat. Dengan laporan yang berdasar kenyataan tadi, maka kesulitan yang timbul dapat segera diatasi bersama sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan. (DTS)

Semarang, Kompas

Sumber: KOMPAS (14/05/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 452-455.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.