MANUSIA ADA BATASNYA

MANUSIA ADA BATASNYA[1]

Jakarta, Republika

Presiden Soeharto (71) menyatakan, tidak mempunyai resep khusus agar tetap awet muda, kecuali menyadari batasnya sebagai manusia, yang tergantung pada kehendak Tuhan.

Dalam suatu kesempatan beberapa tahun yang lalu di depan para pemuda, Pak Harto pernah menyebut dirinya sudah TOPP (Tua, Ompong, Peyot, dan Pikun), tapi sampai sekarang Bapak masih segar bugar. Apa resepnya. Apakah karena Bapak suka tirakat? Ya, memang orang mengatakan bahwasanya saya itu memang “TOPP”. Tapi TOPP bukan arti yang tinggi, tapi “Topp” singkatan tua, ompong, peyot, dan pikun. Ini menurut hukum alam, to. Karena alam itu,kita harus menyadari bahwasanya hukum alam itu ndak bisa kita tentang.

Kita harus menyadari bahwasanya itu akan terjadi pada setiap manusia. Akan tua jelas, akan pikun jelas, peyot itu juga. Bu Tien menyela, “Tapi kalau bisa jangan pikun. Ada orang yang sudah tua sekali tapi nggak usah pikun.”

BJ. Habibie ikut memotong, “Begini, Bu, kalau orang itu terus sport, muscle-nya (otot, red) akan baik. Bapak berpikir terus, jadi tak akan pikun. Pikun itu kalau orang yang tak berpikir. Terus lbu juga.

Bu Tien, “Olah raga tapi nggak mau pikun.” Bagaimana dengan tirakat?

(Pak Harto tidak menjawab. Ibu Tien sarnbil menyenggolkan lengan tangan kanannya kepada Pak Harto, menjawab, “Ndak, ndak tirakat.”)

Ndak itu soalnya tahu akan ternpat dirinya dan menyadari kedudukan sebagai manusia. Manusia yang mempunyai keyakinan kepada penciptanya itu dengan sendirinya tahu akan batasnya. Dus lantas sekarang ya manusia yang tahu mengerti akan batasnya tidak mungkin segala sesuatu itu dikerjakan, tapi usahakan sebaik­ baiknya. Kalau kemudian lantas sekarang tidak bisa, ya itu memang kehendak daripada Tuhan. Tapi jangan sampai kemudian putus asa dijalanan. Nglokro. Ini sebetulnya ketidakpercayaan kepada Tuhan. Kita sebagai orang yang yakin kepada kekuasaan Tuhan dan bimbingannya, pasti akan ada jalan. Ini namanya pasrah yang aktif, didasarkan kepada iman percaya kepada Tuhan.

Lantas dalam rangka itu, perlu sumeleh tidak ngoyo. Oleh karena itu, kalau ada macam-macam ya masa bodoh. Tapi saya berusaha, lho, sepertinya mereka berhasil api ternyata kecele. Jadi tenang terus. Sehat terus, terus pikirannya klier, tidak dikotori. Kalau nelongso lantas putus asa, tidak bisa berusaha dong, terus mati ha… ha…. Tapi kalau saya sama ibu, kita itu memandang manusia ada batasnya, tapi juga ada manusia yang dicintai oleh Tuhan. Jadi kita berusaha dengan sekuat tenaga tapi kalau ternyata ya itu, ya sudah.

Karena itu, mungkin itu yang dikehendaki oleh Tuhan. Ada falsafah manusia berusaha, Tuhan yang menentukan. Kemudian kalau ada suara-suara lainnya, ya kita terima sebagai kontrol saja. Kalau nggak cocok, ya sudah biarkan saja. Nggak boleh sakit hati, ya kalau memikirkan mereka, masak kita harus pusing. Itulah kekuasaan dari Tuhan.

Sumber: REPUBLIKA (21/01/93)

____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 60-61.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.