MANAJEMEN PRESIDEN SOEHARTO PADUKAN KEKUATAN EKONOMI DENGAN NILAI-NILAI BUDAYA JAWA

MANAJEMEN PRESIDEN SOEHARTO PADUKAN KEKUATAN EKONOMI DENGAN NILAI-NILAI BUDAYA JAWA[1]

 

Jakarta, Business News

Manajemen Presiden Soeharto memiliki kemampuan memadukan antara kekuatan ekonomi yang besar dengan nilai-nilai budaya Jawa. Demikian komentar Menteri Koordinator Produksi dan Distribusi, Hartarto, yang disampaikan dalam Dialog Manajemen yang diselenggarakan TPI (PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia) di Stasiun TVRI Pusat Jakarta. Selanjutnya Menko Prodis mengatakan, Presiden Soeharto mempunyai kekuatan tinggi dalam mengendalikan perekonomian Indonesia. Ini karena dalam diri Presiden terdapat tiga unsur SOB, yakni sabar, sareh, dan saleh.

Dalam buku Manajamen Presiden Soeharto, demikian Hartarto, tercermin adanya unsur kepemimpinan yang kuat. Selama dirinya membantu Presiden dari tahun 1960 an hingga sekarang, Pak Harto dikenal tidak hanya mengandalkan informasi dari pembantu-pembantu terdekatnya, tetapi juga dari tenaga-tenaga ahli luar. Presiden juga dinilai mempunyai insting yang jauh jangkauannya, dan ini jarang dimiliki orang kebanyakan.

Periode tahun 1966 sampai dengan tahun 1969 merupakan keputusan Presiden yang sangat besar bagi perekonomian bangsa Indonesia. Karena sejak saat itu Presiden memutuskan untuk menganut sistem ekonomi pasar. Dalam hal membuka diri ini, Myanmar dinilai masih kalah beberapa tahun dibandingkan dengan Indonesia.

Acara talk show yang dipandu oleh Tito Sulistyo, Direktur Keuangan PT Citra Lamtorogung Persada ini, selain menampilkan nara sumber utama Menko Prodis Hartarto, juga menampilkan Solikhin, editor buku “Manajemen Soeharto”.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah pakar bisnis dan ekonomi, seperti Tanri Abeng, Christian to Wibisono, dan Ketua Um um DPP IWAPI, Netty B. Rianto. Acara ini merupakan episode ke empat yang diselenggarakan oleh PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia.

Masih perlu digali

Menjawab pertanyaan Business News tentang bisa tidaknya menerapkan sistem Manajemen Soeharto ini di negara lain, Hartarto mengatakan sulit menjawabnya. Bagi bangsa Indonesia, menurut Hartarto, manajemen tersebut memang cocok untuk diterapkan, karena sesuai dengan asas Bhineka Tunggal Ika.

“Pada dasarnya, Manajemen Presiden Soeharto bersifat universal hanya kekuatannya diakarkan pada budaya bangsa.” ujar Hartarto.

Negara-negara lain yang juga menerapkan sistem manajemen yang sama adalah China, Jepang, maupun Eropa dan Amerika.

“Jadi ini merupakan suatu proses penggalian.” jelas Hartarto.

Karena itu, lanjutnya, Manajemen Presiden Soeharto masih perlu digali lebih dalam lagi, sehingga akhirnya bisa dikembangkan menjadi suatu manajemen yang memang sesuai dengan bangsa Indonesia dan untuk mempelajari ini memerlukan proses tahunan.

Sumber : BUSINESS NEWS (07/04/1997)

______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 305-306.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.