MAJALAH ‘TIME’ TENTANG BERAKHIRNYA SEBUAH ERA

MAJALAH ‘TIME’ TENTANG BERAKHIRNYA SEBUAH ERA[1]

 

Jakarta, Kompas

MAJALAH terbitan AS, Time dalam edisi terbaru tanggal 1 Juni menurunkan laporan utama berjudul ‘Habibie Takes Charge’ Dari enam artikel yang diterbitkan khusus mengenai Indonesia, salah satunya adalah tulisan Terry McCarthy berjudul ‘End of an Era’.

McCarthy menyebut tulisannya sebagai cerita di balik layar tentang bagaimana para jenderal, politikus dan mahasiswa, mengakhiri kekuasaan Presiden Soeharto selama 32 tahun Orde Baru. Lalu, McCartny melayangkan pertanyaan bagaimana caranya?

“Kadang kala dengan cara menunjukkan diri seolah-olah tidak tertarik dengan jabatan itu sampai menit terakhir.” katanya.

Wapres BJ Habibie baru saja menjabat selama sepuluh minggu, meneruskan pengabdiannya kepada Presiden Soeharto yang telah dilakukannya selama 24 tahun terakhir, sebuah pengabdian kepada orang yang disebutnya dengan singkatan SGS (Super Genius Soeharto).

Wapres (Habibie) memang memiliki suatu kualitas yang mungkin tidak dimiliki orang lain, yakni sikapnya yang sangat setia kepada Presiden. Dan ia menunjukkan kesetiaan itu, bahkan ketika mahasiswa menduduki Kompleks MPR/DPR, bahkan tatkala sekutu-sekutu Presiden sudah berulang kali mengemukakan pendapat agar Presiden mengundurkan diri saja.

Tanggal 20 Mei malam, setelah pimpinan MPR/DPR mulai membahas tentang Sidang Umum Istimewa, Pangab Jenderal TNI Wiranto datang ke kediaman Presiden di Jl. Cendana. Akhirnya Presiden mengundurkan diri dan Wapres menggantikannya.

Namun, dalam upacara yang nampaknya dipersiapkan secara mendadak di Istana Merdeka tanggal 21 Mei, Wapres tetap menunjukkan sikap loyalnya itu. Setelah Presiden mengucapkan pidato pengunduran dirinya, Wapres yang berdiri di samping kirinya nampak ragu-ragu. Presiden lalu menyilakannya seperti seorang ayah kepada anaknya yang nampak canggung, untuk mengucapkan sumpah Presiden.

Tak lama kemudian Presiden baru berjalan di belakang mantan Presiden, meninggalkan Pangab seorang diri yang lalu mengumumkan sebuah quid pro quo ABRI mendukung pengalihan jabatan Presiden dan siap melindungi keselamatan mantan Presiden beserta keluarganya. Sebuah deal telah disepakati.

Seperti Ayah-Anak

Tetapi apakah deal itu diterima orang-orang di luar Istana? Bagi para mahasiswa yang berpesta ria mengenang mantan Presiden di Kompleks MPR/DPR, pengalihan kekuasaan kepada Presiden baru bukanlah penyelesaian. Pengalihan itu malahan dianggap sebagai pewarisan sistem politik yang tertutup dan sistem ekonomi ala KKN. Kekuatan perubahan menghendaki bukan saja pergantian Presiden, tetapi juga pergantian sistem politik dan ekonomi yang diwarisinya. Untuk apa jatuhnya sekitar 500 korban kerusuhan, juga penembakan terhadap mahasiswa, jika pergantian itu belum terlaksana? Meskipun keinginan itu sejenak terlupakan oleh tekad menjaga stabilitas serta persatuan dan kesatuan yang dikumandangkan ABRI.

Dunia bereaksi dingin terhadap Presiden baru yang dinilai belum siap menyelamatkan Indonesia dari kehancuran ekonomi.

“Di Washington, pemerintahan Presiden Bill Clinton menganggap masa pemerintahan baru akan singkat waktunya.” tulis McCarty.

Presiden lama sebetulnya juga meragukan kemampuan Wapresnya. Tanggal 19 Mei pagi, ia memanggil sembilan tokoh agama/masyarakat dan seorang ahli konstitusi. Menurut Nurcholish Madjid, Presiden menawarkan penyelenggaraan pemilu serta suksesi secara bertahap. Itu belum cukup, kata mereka, sembari menambahkan :

“Apa yang dimaksud oleh setiap orang tentang reformasi adalah Bapak mengundurkan diri.”

Lalu Presiden bertanya,

“Apakah Anda semua bisa memberikan jaminan, jika saya mengundurkan diri dan Wapres menjadi Presiden, lalu kesulitan sekarang ini terpecahkan?”

Menurut Nurcholish, semua orang lalu terdiam. Tapi kemudian ia mencoba mengingat bahwa tidak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang setuju Wapres menggantikan Presiden.

Kata majalah mingguan berwibawa The Economist,

“Hubungan Presiden dan Wapres lama sejak dulu sudah seperti ayah dan anak. Dua hari sebelum dilantik, Presiden meragukan apakah mengalihkan kekuasaan kepada Wapres akan mengembalikan rasa percaya. Lalu mengapa Presiden memilihnya? Mungkin karena gaya Jawa adalah memerintah dan memecah belah (to rule and divide) dan jangan sampai dipilih orang yang menjadi penantang.”

ABRI dan Stabilitas

Majalah Inggris itu kemudian menulis, apa pun, yang terjadi kelak, ekonomi Indonesia sudah meleleh. Akibat dari pembakaran dan penjarahan akan semakin terasa dan berkepanjangan. Sulit diramalkan apakah modal lokal dan asing akan kembali masuk. Para pedagang besar dan kecil takut membuka toko dan gudang sehingga mengakibatkan rusaknya sistem distribusi.

Kini beredar dalil di dalam dan luar negeri bahwa stabilitas sangat diperlukan. Dan hanya ABRI yang dapat memberikannya. Pangab nampaknya seorang yang ‘elok laku’ yang dapat dipercaya untuk menjamin peralihan kekuasaan secara damai menuju sistem demokratis yang sesungguhnya, jika ia tidak terlalu diganggu oleh kritik internasional dan protes berkepanjangan di dalam negeri.

Sumber : KOMPAS (29/05/1998)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 627-629.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.