MAHATHIR LEBIH LELUASA BERMANUVER POLITIK : LEE KUAN YEW MENILAI, SOEHARTO MUNDUR AKIBAT TEKANAN EKONOMI

MAHATHIR LEBIH LELUASA BERMANUVER POLITIK : LEE KUAN YEW MENILAI, SOEHARTO MUNDUR AKIBAT TEKANAN EKONOMI[1]

 

Jakarta, Merdeka

Pengunduran diri Soeharto dari jabatan presiden, mengandang komentar mantan PM Singapura Lee Kuan Yew. Menteri Senior Singapura ini menegaskan, Soeharto mundur lebih karena tekanan ekonomi daripada apa yang disebut dengan peoples power. Berikut intisari penuturan Lee Kuan Yew soal pengunduran Soeharto itu yang ditulis harian The Straits Times.

KESULITAN ekonomi mendorong Soeharto mundur. Bukan rahasia Iagi, kesulitan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini memang sangat serius. Bila harga­harga barang tidak dapat dijaga tetap stabil dan inflasi setiap bulan 10 persen tidak dapat dikendalikan, lalu pabrik-pabrik ditutup, pembangunan berbagai proyek dihentikan muncullah keresahan sosial.

Berdasarkan analisis seperti ini, kiranya mundurnya Soeharto lebih diakibatkan tekanan ekonomi tadi dibanding apa yang disebut dengan peoples power.

Pelajaran yang bisa dipetik dari Indonesia ini tidak lain, yakinkan terlebih dulu bahwa nilai mata uang kalian tidak limbung, perekonomian kalian tetap mantap, sehingga tingkat pengangguran tetap rendah dan kehidupan rakyat terjamin stabil.

Saya tidak sependapat dengan pandangan bahwa krisis ekonomi Asia terjadi karena kurangnya kehidupan demokrasi di wilayah ini. Filipina, misalnya, sering disebut sebagai model demokrasi Asia. Tetapi, toh negara itu dalam pengawasan Dana Moneter Internasional (IMF) selama 10 tahun.

Sekali lagi saya tegaskan, apa yang terjadi di Indonesia, Thailand dan Korea itu tidak lain pada supervisi sistem perbankan dan pengawasan keuangan. Selain itu, ada beberapa kemerosotan dalam menerapkan nilai-nilai Asia yang sebenarnya penting dalam memacu sukses Asia.

Kemerosotan inilah yang melandasi apa yang pernah saya sebut dengan nilai-nilai ‘Konfusianis’. Yang saya maksud, kewajiban kepada teman dan keluarga. Kalian memang harus menghidupi keluarga dan kerabat, serta harus loyal dan menopang teman-teman kalian. Tetapi, seharusnya dilakukan dari dompet pribadi. Bukan dari uang rakyat.

Kemudian bila suatu negara memiliki pemerintahan yang lemah dengan korupsi merajalela, maka kewajiban pribadi itu kerapkali dipenuhi dengan dana rakyat. Ini yang salah!

Bakal Korban

Pengunduran diri Soeharto membuat PM Malaysia Mahathir Mohammad menjadi sorotan. Para pakar politik Asia-Pasifik dan pers asing ramai menilai, Mahathir bakal menjadi ‘korban’ berikutnya yang bukan tidak mungkin dipaksa rakyatnya mundur. Sementara sebagian pakar politik menilai, pengunduran diri Soeharto membuat Mahathir justru dinilai akan semakin kuat mencengkeramkan pengaruhnya dalam diplomasi politik ASEAN.

Mahathir yang erat dijuluki dengan julukan ‘Little Soekarno’ berusia 72 tahun itu saat ini menjadi kepala pemerintahan paling senior di ASEAN.

“Dia sudah memainkan peranan yang efektif meski masih ada Soeharto. Saya kira, pengaruh politiknya akan makin besar pasca Soeharto.” komentar Chandra Muzaffar, profesor politik yang kini memimpin International Movement for a Just World di Malaysia.

Mundurnya Soeharto akan memberi Mahathir keleluasaan gerak dalam manuver politik. Mereka juga menolak bila Mahathir akan mengalami nasib seperti Soeharto. Ada beberapa faktor, Mahathir sudah menyiapkan suksesor wakilnya di UMNO, Deputi sekaligus Menkeu Anwar Ibrahim, yang sudah diketahui rakyat karena seringkali diumumkan.

Lagipula, tuduhan oposisi Malaysia yang mengatakan Mahathir terlilit praktik kapitalisme keluarga dan konco selama ini belum nyata terbukti.

Sumber : MERDEKA (25/05/1998)

________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 738-740.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.