LULUSAN SMTA TIDAK HARUS MASUK PT

LULUSAN SMTA TIDAK HARUS MASUK PT

PRESIDEN :

Presiden Soeharto Kamis kemarin di Bina Graha menegaskan, tidak semua orang (lulusan SMTA) harus masuk perguruan tinggi.

Penegasan Kepala Negara tersebut disampaikan setelah menerima laporan Mendikbud Nugroho Notosusanto mengenai besarnya jumlah lulusan SLTA yang mengikuti Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) tahun ini dibandingkan daya tampung perguruan tinggi yang tersedia.

Mendikbud menjelaskan, lulusan SLTA yang mendaftarkan mengikuti Sipenmaru mulai hari Senin lalu seluruhnya sebanyak 512.000 orang. Padahal daya tampung yang tersedia di seluruh perguruan tinggi di tanah air baik negeri maupun swasta hanya 323.100 orang.

Perguruan tinggi negeri 90.000 orang, Universitas Terbuka 60.000 orang, Perguruan Tinggi Seni (seni tari, seni musik dan sebagainya) 1.100 orang, politeknik yang dewasa ini berjumlah enam buah menampung 1.500 orang, IAIN yang di seluruh Indonesia kini berjumlah 14 buah bisa menampung 5.500 orang serta perguruan tinggi kedinasan seperti penerbangan, pos dan sebagainya sebanyak 5.000 orang. Perguruan tinggi swasta dapat menampung 160.000 orang.

“Dibandingkan dengan peminat sebanyak 512.000 orang, maka ternyata yang bisa ditampung tahun ini adalah 60 persen,” ujar Mendikbud.

Diharapkan, pers hendaknya dapat membantu meyakinkan masyarakat, orang-tua maupun anak, apa yang dikatakan Kepala Negara di atas, bahwa tidak semua orang harus masuk perguruan tinggi.

Wisuda Politeknik

Mendikbud di Bina Graha kemarin sekaligus telah meminta kesediaan Presiden untuk mewisuda lulusan pertama politeknik Universitas Indonesia.

“Dengan ini biar masyarakat tahu bahwa pendidikan melalui politeknik itu juga penting,” ujar Nugroho menegaskan.

Dikemukakan, jumlah lembaga politeknik di Indonesia dewasa ini memang belum begitu banyak. Tapi pada akhir Pelita IV nanti diharapkan sudah berdiri 34 politeknik di tanah air.

Wisuda pertama lulusan politeknik UI yang pertama oleh Presiden Soeharto nanti menurut menteri, diharapkan dapat dilakukan pada bulan September mendatang.

Penyediaan Alat Sekolah

Di tempat yang sama kemarin Menteri Perindustrian Ir. Hartarto telah melaporkan pula program pelaksanaan penyediaan dan penyaluran alat-alat sekolah dasar melalui koperasi.

Seperti diketahui, pada waktu lalu telah ditetapkan empat lokasi sebagai pilot proyek. Yaitu Pandeglang (Jawa Barat), Jakarta Utara, Gunung Kidul (Jateng), Blora (Jateng) dan Sumenep (Madura). Alat-alat sekolah yang disediakan di koperasi di kelima tempat tersebut adalah buku tulis, pensil dan bolpoin.

Dengan cara ini dimaksudkan tidak hanya menyediakan peralatan sekolah bagi anak-anak, tetapi sekaligus dikaitkan dengan pembentukan koperasi di sekolah-sekolah dan sekaligus pula mendidik anak-anak sejak kecil untuk belajar berkoperasi.

Penyaluran di tingkat kecamatan dalam cara ini dilakukan oleh Koperasi Pegawai Negeri. Meskipun di sana-sini masih terdapat sedikit hambatan, namun menurut Hartarto, dari pengamatan diketahui bahwa proyek ini telah berjalan baik.

Banyak tanggapan dari anak-anak sekolah menunjukkan bahwa proyek ini positif. Karena itu Presiden Soeharto di Bina Graha kemarin memberi petunjuk agar tahap kedua proyek ini dilebarkan lagi di daerah-daerah lain di Pulau Jawa, khususnya yang telah siap. Untuk itu akan diadakan kerja sama dengan pemda tingkat I.

Tetapi di samping di Pulau Jawa, ada propinsi lain di luar Jawa yang juga menyatakan sanggup melaksanakan program ini yaitu, Sumatera Barat dan Sulawesi Utara.

Untuk proyek yang sudah berjalan menurut Hartarto, investasinya disediakan kredit oleh IKPN (Induk Koperasi Pegawai Negeri) sebesar Rp 434 juta.

Tapi kalau mau dikembangkan di berbagai daerah Pulau Jawa lainnya, maka kredit yang diperlukan sekitar Rp. 8 milyar. Tapi karena pelaksanaannya bertahap, diperkirakan pada tahap pertama sekitar Rp. 5 milyar. (RA)

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (31/05/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 249-250.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.