LUAR NEGERI JADIKAN JAKARTA ‘PELAJARAN’

LUAR NEGERI JADIKAN JAKARTA ‘PELAJARAN'[1]

 

 

Canberra, Republika

Sejumlah negara menjadikan apa yang kini dihadapi dan dialami Jakarta sebagai pelajaran berarti yang tidak boleh ditiru. Presiden Filipina Fidel Ramos, misalnya, setelah menerima dengan baik pernyataan Soeharto untuk mengundurkan diri, segera memperingatkan calon penerusnya, Joseph Estrada, untuk tidak menciptakan situasi semacam Jakarta di Filipina.

“Pemilu bukan merupakan seluruh dan akhir usaha kita.” ujarnya.

Kepada Estrada, Ramos mengatakan bahwa situasi di Indonesia merupakan contoh yang saya maksud.

“Kita tidak boleh terlibat sebagai negara yang gagal, terpecah, atau kolaps karena kenyataannya memang tidak demikian.”

Mengambil krisis Jakarta sebagai pelajaran berhargajuga dilakukan Malaysia. Menurut Pemimpin oposisi Lim Kit Siang, Malaysia harus mengambil pelajaran dari Indonesia dengan cara melakukan reformasi untuk mendongkel korupsi, nepotisme, dan pelanggaran kekuasaan. Lim meminta pada pemerintah untuk menempatkan krisis pada daftar teratas agenda pertemuan kabinet nanti.

“Krisis mencuatkan ‘perlunya pemerintah mengadakan reformasi keuangan, ekonomi dan politik’. ujarnya.

“Reformasi harus memulihkan kepercayaan masyarakat dan kredibilitas pemerintah untuk menghapus korupsi, nepotisme, pelanggaran kekuasaan dan seluruh bentuk penyimpangan politik, ekonomi dan sosial yang memisahkan rakyat dari pemerintah.” tandas Lim.

Sedangkan Australia, seperti diungkapkan PM John Howard, mencatat janji Soeharto menuju reformasi dan suksesi secepatnya sebagai ‘saat bersejarah bagi Indonesia’.

Negeri ini sangat menekankan janji presiden bahwa pemilu segera digelar di Indonesia secepat-cepatnya.

“Australia menantikan pelaksanaan pemilihan umum dan pengangkatan Presiden dan Wapres baru secepatnya. Lebih cepat lebih baik, makin cepat makin besar kredibilitasnya.” kata Howard pada jumpa pers yang dihadiri koresponden Republika Allan Whykes, kemarin.

Howard berpendapat penundaan pemilu sampai satu atau dua tahun mendatang, seandainya terjadi, adalah hal yang kurang wajar.

Thailand sejauh ini lebih bersikap netral dan menegaskan tidak akan mencampuri masalah dalam negeri Indonesia. Jubir Kemlu Thailand Kobsak Chutikul menyatakan negerinya akan terus memonitor seluruh peristiwa di Indonesia dan meminta seluruh kelompok tetap bersabar dan menghindari kekerasan.

“Semuanya merupakan masalah dalam negeri Indonesia. Thailand akan terus memonitor situasi.” ujarnya.

ASEAN pun menempuh jalan serupa. Menurut seorang pejabat senior ASEAN, pergolakan politik di Indonesia merupakan masalah internal dan menyerahkan pemecahan masalah pada otoritas di Jakarta.

“Ini adalah masalah sensitif. Ini merupakan perkembangan politik internal. Saya yakin tak satupun negara ASEAN yang akan membesarkan masalah ini.” ujar Kemlu Filipina, Lauro Baja, pemimpin pertemuan para pejabat ASEAN.

Mereka bertemu untuk mendiskusikan isu regional, termasuk pemilu di Kamboja sekitar Juli mendatang, dan tes nuklir India.

“Saya pikir situasi Indonesia saat ini terkendali dan stabil. Tampaknya ini bukan forum yang tepat untuk membicarakan situasi internal anggota. Ini merupakan masalah internal negara berdaulat. Semua anggota akan memahami ini.” tutur Hadi Wayarabi, direktur Asia Pasifik pada Kemlu Indonesia.

Aksi tutup mulut juga dilakukan Cina. Namun, Negeri Tirai Barubu ini tetap meminta pemulihan suasana kacau di Indonesia.

“Ini merupakan masalah dalam negeri Indonesia dan kami tidak mau berkomentar tentang masalah dalam negeri negara lain.” ujar jubir Kemlu Cina Zhu Bangzao.

“Sebagai negara sahabat Indonesia, kami berharap situasi akan pulih secepat mungkin.”

PM Jepang Ryutaro Hashimoto mengungkapkan harapan pemilu untuk mencari pengganti Soeharto bisa meredakan kericuhan di Indonesia.

Sumber : REPUBLIKA (20/05/1998)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 423-424.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.