LOEKMAN SOETRISNO : KEMISKINAN YANG LAIN PERLU DIPERHATIKAN

LOEKMAN SOETRISNO : KEMISKINAN YANG LAIN PERLU DIPERHATIKAN[1]

 

Yogyakarta, Suara Pembaruan

Penghargaan dari Program Pembangunan PBB (UNDP) yang diterima pemerintah Indonesia karena kesungguhanannya dalam menanggulangi kemiskinan memang tepat. Tetapi selanjutnya kita juga perlu memperhatikan masalah-masalah kemiskinan yang lain, diantaranya kesempatan untuk menikmati dan mengembangkan diri sebagai manusia seutuhnya yang hingga saat ini belum tercapai di Indonesia.

Hal itu diungkapkan pakar sosiologi pedesaan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof. Dr. Loekman Soetrisno kepada Pembaruan di kantornya Sabtu (14/6) siang, sehubungan dengan pemberian penghargaan UNDP yang akan diterima Presiden Soeharto. Loekman Soetrisno mengatakan, untuk keberhasilan penanggulangan kemiskinan secara absolut memang betul, tetapi kemiskinan bukan hanya itu.

“Masih ada kemiskinan lain yang cukup banyak jumlahnya karena kemiskinan itu sifatnya dinamik. Menurut UNDP di Indonesia jumlahnya masih 40%.” katanya.

Yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya kesempatan. Misalnya jumlah kematian ibu hamil dan melahirkan. Berdasarkan data dari Human Development Index, Indonesia berada di urutan ke-120. Begitu pula masalah human right.

Selain itu ukuran yang dipakai untuk menghitung jumlah orang miskin yang absolut masih menggunakan ukuran Sayogya (Prof. Dr. Ir. Sayogya guru besar di IPB) yaitu pendapatannya setara dengan 3 (X) kilogram beras per tahun.

Tetapi dengan dinamika pembangunan yang terus-menerus, kita harus ingat bahwa ukuran tersebut tidak mencukupi lagi.

Saat ini pegawai negeri golongan I dan II sudah masuk kategori golongan miskin, karena gajinya tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya.

Oleh karena itu menurut Kepala Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan (P3PK) UGM ini, meskipun pemerintah telah menerima penghargaan, hal tersebut harus dapat menjadi pemacu di dalam memperhatikan masalah-masalah kemiskinan lain, seperti disebutkan diatas.

Jangan

“Jangan takabur  dengan penghargaan  karena masih  banyak PR untuk penanggulangan kemiskinan yang lain.” katanya.

Tukang becak saja kini sudah mampu beli televisi. Tetapi kita harus tahu bahwa mereka juga mulai terdesak oleh yang macam-macam, oleh dinamika pembangunan yang lain.

Pada saat suatu bangsa mencapai kehidupan yang lain, sebagian yang semula masih ketinggalan juga kemudian menuntut yang lebih besar, seperti yang terjadi pada revolusi Prancis, kata Loekman Soetrisno. Revolusi itu timbul justru ketika orang­orang Prancis mulai menikmati kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik.

Oleh karena itu, untuk Indonesia yang paling penting dilakukan ialah, bagaimana menciptakan sistem politik yang bisa melestarikan dan mendukung di dalam kita memberantas kemiskinan, demikian Prof. Dr. Loekman Soetrisno.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (15/06/1997)

____________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 798-799.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.