LIPUTAN WASHINGTON POST SOAL SOEHARTO DICETAK DUA KALI

LIPUTAN WASHINGTON POST SOAL SOEHARTO DICETAK DUA KALI[1]

 

Jakarta, Merdeka

SETELAH kasus dana sumbangan James Riady kepada Presiden Clinton tahun 1996, belum pernah Indonesia mendapat perhatian khusus dari liputan media massa Amerika saat-saat menjelang jatuhnya Presiden Soeharto 21 Mei lalu. Indonesia kini bukan lagi nama yang terdengar asing di telinga orang Amerika. Berikut laporan wartawan Merdeka Irawan Nugroho dari Washington.

Rata-rata semua media massa, baik cetak maupun elektronik, terkemuka AS memberikan porsi yang sangat besar kepada Indonesia dalam beberapa hari belakangan ini. Sebut saja Washington Post, New York Times, Washington Times, Los Angeles Times, CNN, ABC, NBC dan CBS, semua memberikan porsi liputan yang besar kepada Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto mundur 2 1Mei, Washington Post melakukan cetak dua kali pada edisi 2 1 Mei. Edisi pertama dengan judul “Indonesian President Suharto Resigns” dan edisi berikutnya (final) dengan judul “Suharto Steps Down. Names Successor”.

Kedua edisi ini menempatkan berita ini sebagai berita utama dengan ukuran cetakan huruf (size) yang lebih besar daripada biasanya memenuhi seluruh kolom halaman muka.

Berita yang ditulis wartawan Washington Post di Jakarta Keith B. Richburg ini didampingi oleh dua buah foto yang berbeda. Pertama, foto Presiden Suharto membacakan pernyataan pengunduran diri, sedangkan pada edisi berikutnya pada hari yang sama ditempatkan foto para mahasiswa yang sedang bergembira sambil berangkulan setelah mendengar kabar Presiden Suharto mundur.

Pada kolom lainnya di halaman muka, juga muncul sebuah tulisan analisis dengan judul ‘Nepotism, Cronyism Undercut President’ yang ditulis oleh William Branigin. Pada halaman dalam, Washington Post menghabiskan dua halaman khusus mengenai Indonesia dengan bantuan wartawati lainnya di Jakarta Cindy Shiner.

Dalam beberapa hari belakangan ini, Washington Post memang memberikan porsi yang lebih besar kepada Indonesia daripada hari-hari biasanya. Dan semuanya mendapat tempat di halaman muka dengan sumbangan tulisan dari sejumlah wartawan mereka di Jakarta maupun di Washington.

Selain Richburg, Shiner dan Branigin, juga muncul tulisan-tulisan dari Paul Blustein yang setia memantau kebijaksanaan pemerintah AS terhadap Indonesia. Pada hari Jumat 22 Mei, liputan Washington lebih besar lagi mencakup sebuah tulisan di halaman muka, ditambah dengan empat halaman khusus di dalam dengan tema ‘The Suharto Resignation’.

Berbagai tulisan mencakup harta kekayaan Presiden Soeharto, keraguan soal dukungan rakyat terhadap Presiden BJ Habibie, profil Habibie, hubungan AS dan Indonesia, krisis keuangan yang membawa perubahan politik, keguncangan pasar uang akibat keraguan terhadap Habibie dan reaksi masyarakat Indonesia di Washington, D.C. Pada halaman komentar atau opini (Outlook) hari Minggu 24 Mei, muncul tulisan Fred Hiatt, editor halaman opini yang menulis soal jatuhnya Soeharto (Suharto’s Fall).

Intinya, Hiatt mengatakan bahwa pemulihan ekonomi memang tidak bisa berjalan tanpa reformasi politik.

“Perubahan demokratis bukanlah sebuah alternatif untuk mencapai stabilitas, ini hanyalah sebuah prasyarat yang diperlukan. Dan di Indonesia, pertikaian untuk mencapai perubahan seperti itu masih jauh ke depan.” tulis Hiatt.

Liputan Washington Post sejak awal Mei 1998 ini memang luar biasa, dengan menempatkan sejumlah besar berita mengenai Indonesia pada halaman muka setiap harinya, yang ditambah dengan beberapa halaman di halaman dalam.

Dari New York, harian terkemuka dan berpengaruh AS lainnya The New York Times turut menempatkan berita Soeharto pada halaman muka lengkap dengan fotonya.

Pada halaman dalam, New York Times menurunkan tiga halaman khusus mengenai Indonesia dengan tema “The Fall of Suharto”. Beberapa tema yang diangkat oleh New York Times antara lain mengenai langkah ABRI untuk mengambil alih kekuasaan, gerakan oposisi di jalan-jalan, kebijaksanaan AS terhadap Indonesia di masa mendatang, grafik perjalanan pemerintahan Soeharto, profil Habibie dan luapan kegembiraan rakyat di Jakarta.

Tulisan panjang beberapa wartawan New York Times juga ditempatkan pada tiga halaman khusus pada hari Jumat 22 Mei yang mengulas Indonesia pasca Soeharto dari beberapa  aspek.

Pada halaman editorial, muncul tulisan “Indonesia After Suharto” yang intinya menyebutkan bahwa Habibie tidak menyelesaikan masalah politik dan ekonomi Indonesia.

“Habibie bisa menunjukkan jalan dengan mengambil keputusan yang mantap untuk meninggalkan masa lalu dan mempersiapkan bangsanya untuk memilih penerus yang dipilih oleh rakyat.” Tulis New York Times.

Sumber : MERDEKA (28/05/1998)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 625-627.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.