LAPORAN PELITA DARI TANZANIA : PRESIDEN SOEHARTO INGATKAN DAMPAK PENYATUAN PASAR EROPA

LAPORAN PELITA DARI TANZANIA : PRESIDEN SOEHARTO INGATKAN DAMPAK PENYATUAN PASAR EROPA

 

 

Dar Es Salaam, Pelita

Presiden Soeharto di Dares Salaam, Tanzania, semalam mengingatkan dampak yang akan dialami dunia, khususnya Dunia Ketiga, akibat rencana penyatuan pasar raya Eropa yang secara penuh akan berlangsung tahun depan. Dari Dar es-Salaam, wartawan Pelita H. Azkarmin Zaini semalam melaporkan, Presiden Soeharto menilai perkembangan politik dunia yang menggembirakan belum diikuti oleh perubahan-perubahan di bidang ekonomi.

Berpidato pada jamuan santap malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Tanzania dan Ny. Sitti Mwinyi di Wisma Negara, Dares-Salaam, semalam, Presiden Soeharto mengatakan, penyatuan pasar Eropa itu di satu pihak diharapkan dapat meningkatkan lagi pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa tersebut. Tetapi di pihak lain, hal itu telah mendorong terbentuknya blok-blok perdagangan yang lain.

“Apabila blok-blok perdagangan tadi membuka diri terhadap produk-produk negara-negara yang sedang membangun serta saling menunjang maka perekonomian dunia akan cerah. Sebaliknya, jika blok-blok perdagangan tadi menutup diri dan saling berhadapan satu dengan yang lain, maka kepincangan dan ketidak adilan ekonomi dunia akan bertambah besar. Jika ini terjadi, maka kita memasuki awal bencana di masa datang,” ujarnya.

“Dalam pada itu, jatuhnya harga-harga komoditi yang berasal dari negara-negara Dunia Ketiga dan beban utang negara-negara sedang membangun masih tetap merupakan masalah dunia yang berat dan perlu diatasi bersama oleh semua bangsa.”

Pada bagian lain pidatonya, Kepala Negara menyambut lega saling pendekatan berbagai negara, dan upaya-upaya baru untuk menciptakan perdamaian di berbagai kawasan. Demikian pula perubahan-perubahan positif yang terjadi di Afrika Selatan, seperti pembebasan Nelson Mandela dan sejumlah tahanan politik, serta dihapuskannya sejumlah undang-undang yang merupakan pilar apartheid.

“Perkembangan positif tadi kita harapkan segera diikuti oleh langkah-langkah ke arah terciptanya penghapusan praktik-praktik apartheid secara menyeluruh dan tuntas. Kita juga menyambut gembira kemerdekaan yang diperoleh saudara-saudara kita di Namibia,” ujar Kepala Negara.

 

Sambutan Hangat Sekali

Presiden, Ny. Tien Soeharto, dan rombongan mendarat di Bandara Dares­ Salaam, Tanzania, pukul 14.50 waktu setempat (18.50 WIB), setelah terbang selama dua jam 25 menit dari Harare, Zimbabwe.

Kedatangan Kepala Negara di bandara disambut dengan upacara kebesaran rniliter, di mana telah menunggu Presiden Tanzania danNy. Sitti Mwinyi, para menteri dan pejabat tinggi setempat, parakorps diplomatik, pejabat-pejabat KDRI setempat, serta ratusan masyarakat Tanzania.

Sambutan di Dares-Salaam ini lebih hangat dan meriah lagi daripada di Harare. Ratusan remaja dan orang dewasa dengan kostum beraneka ragam dan corak, menyajikan nyanyian dan tarian tradisional mengelu-elukan kedatangan tamu dari Indonesia itu.

Lebih dari itu, di tepi kiri-kanan jalan sepanjang kurang lebih sepuluh kilometer dari bandara ke Wisma Negara di pusat kota, ramai masyarakat berdiri seraya melambai-lambaikan tangan. Ratusan ribu wargakota Dares-Salaam, tua-mudadan pria-wanita, berjejer memagari jalan yang dilalui iring-iringan kendaraan. Presiden Soeharto dan Presiden Ndugu Ali Hasan Mwinyi yang diarak dalam mobil dengan atap terbuka, tak henti-henti membalas lambaian tangan rakyat Tanzania.

Begitu ramainya masyarakat memberikan sambutan, yang semakin padat makin memasuki kota, sampai-sampai iring-iringan kendaraan terpaksa menempuh jarak 10 kilometer itu selama hampir satu setengah jam.

Presiden dan Ny. Tien Soeharto menginap di Wisma Negara, sedangkan para menteri dan rombongan lainnya di Hotel Kalimanjaro yang hanya sekitar tiga ratus meter letaknya dari Wisma Negara.

Peningkatan Kerjasama

Kepala Negara dan rombongan mengakhiri kunjungan kenegaraannya di Zimbabwe Kamis pagi. Pesawat DC-10 Garuda yang membawa rombongan lepas landas dari Bandara Harare pukul 11.35 waktu setempat (16.35 WIB). Di bandara, Presiden dan rombongan dilepas oleh Presiden Zimbabwe dan Ny. Sally Mugabe, para menteri dan pejabat tinggi setempat, para anggota korps diplomatik, dan pejabat­ pejabat KBRI Harare.

Seperti pada saat kedatangan Senin pagi lalu, upacara pelepasan kemarin juga dihangatkan oleh sekitar 200 pelajar dan ibu-ibu dengan nyanyi dan tari tradisional Zimbabwe.

Presiden Soeharto dan rombongan meninggalkan Zimbabwe dengan membawa sejumlah kesepakatan bersama yang berhasil dicapai kedua kepala negara.

Kedua pemimpin sepakat untuk segera menyusun perjanjian kerjasama ekonomi dan teknik kedua negara, sebagai “perjanjian payung” bagi peningkatan hubungan dagang dan teknik kedua negara. Kedua presiden juga sepakat mengenai pentingnya KTT Non Blok yang akan diselenggarakan di Jakarta tahun depan, dengan memberi arah dan tujuan bam bagi Gerakan Non Blok.

Di samping itu, kedua pemerintah juga sepakat untuk lebih meningkatkan lagi hubungan politik, meningkatkan kerjasama dalam rnenghadapi berbagai masalah di forum-forum internasional. Dalam kunjungan ini, baik Presiden Soeharto maupun Menlu Alatas telah pula menjelaskan duduk peristiwa Dilli 12 November, kepada Presiden dan Menlu Tanzania.

Pagi kemarin sebelum berangkat ke bandara, Menlu Ali Alatas mengadakan konferensi pers dengan para wartawan Zimbabwe dan para korespoden asing di Harare. Dalam konferensi pers di Harare Sheraton Hotel itu disamping hasil-hasil kunjungan kenegaraan di Zimbabwe, Menlu Alatas juga menguraikan secarakronologis Peristiwa Dilli. (SA)

 

Sumber : PELITA(06/12/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 320-322.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.