LAPORAN MENGIKUTI PRESIDEN KE LUAR NEGERI (2): HORMAT ARAFAT KEPADA PRESIDEN SOEHARTO

LAPORAN MENGIKUTI PRESIDEN KE LUAR NEGERI (2): HORMAT ARAFAT KEPADA PRESIDEN SOEHARTO

 

 

Jakarta, Media Indonesia

PRESIDEN Soeharto selaku Ketua Delegasi RI mendapat kehormatan sebagai pembicara pertama dalam acara perdebatan umum KTT OKI pada hari Rabu 10 Desember yang lalu.

Ketika Presiden Soeharto mengakhiri pidatonya semua delegasi tepuk tangan berkepanjangan. Tokoh legendaris Pemimpin Organisasi Pembebasan/Presiden Palestina Yasser Arafat langsung bangkit dari kursinya, memeluk dan menyalami Presiden Soeharto. “Presiden Soeharto adalah salah seorang pemimpin dunia, selain sebagai pemimpin yang berhasil membangun bangsanya,” ujar Yasser Arafat seperti dikutip Mensesneg Moerdiono.

Rasa hormat Yasser Arafat kepada Presiden Soeharto merniliki alasan yang kuat. Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto secara jelas dan tegas menyatakan dukungannya terhadap perjuangan sah rakyat Palestina.

Presiden Soeharto menyatakan bahwa yang paling disyukuri umat Islam adalah telah berakhirnya Perang Teluk yang terjadi karena invasi lrak terhadap Kuwait.

Dikatakan pula olehnya bahwa peperangan itu telah menimbulkan korban manusia dan menimbulkan kemsakan yang begitu besar, di samping melemahkan persatuan Arab dan umat Islam secara keseluruhan.

“Sekarang kita hams memusatkan perhatian pada pembinaan persatuan dan solidaritas umat Islam dalam menghadapi berbagai masalah dan akibat perang, termasuk berbagai aspek kemanusiaan,” ujar Presiden Soeharto.

Ditegaskan pula olehnya Israel agar menyadari kecenderungan sejarah yang tidak dapat dibendung lagi dan mereka harus membulatkan kemauan politik untuk mengesampingkan semua hambatan guna mencapai perdamaian yang adil dan langgeng di TimurTengah.

Presiden Soeharto juga menekankan perlunya ditegakkan kebebasan melakukan ibadah, hak-hak sosial, dan budaya umat Islam serta melindungi tempat-tempat ibadah mereka di bawah undang-undang dan hukum di negara tempat mereka menetap sebagai warga negara.

Konferensi Tingkat Tinggi (KIT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Dakar, lbu Kota Senegal diwarnai situasi hangat bahkan cenderung panas. Itu disebabkan pidato Emir Kuwait Sheikh Jaber al-Ahmad al-Sabah yang menggunakan kesempatan itu untuk mengecam Irak yang beberapa waktu lalu mencaplok Kuwait.

Emir Kuwait mendapat kehormatan menyampaikan pidatonya pada babak awal sebagai penghormatan kepadanya, sebab dialah tuan rumah KTT OKI yang lalu, tahun 1987.

Sang Emir pun mengimbau agar pasukan-pasukan Kuwait yang masih ditahan di berbagai penjara di Irak segera dibebaskan. Kepada para delegasi OKI Emir Kuwait berharap untuk bisa mengambil pelaj aran dari dampak perang yang telah teljadi itu. Pembicara berikutnya adalah Presiden Iran Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Baik sebagai mullah maupun politikus, di negaranya sendiri Rafsanjani dikenal sebagai tokoh moderat.

Sifat moderatnya itu tampakju ga dalam KTT OKI ini.Ia berusaha mendinginkan kembali suasana panas yang disulut Emir Kuwait. Caranya dengan sangat cerdas mengalihkan perhatian para delegasi terhadap masalah Afghanistan yang masih dikuasai kaum Marxis, masalah Kashmir dan pendudukan tidak sah Israel atas beberapa daerah di tanah Arab.

Sebagai negara yang pertama kali mengikuti KTT OKI, Iran tampil dengan kontingen terbesar 300 orang. Di lain pihak, Irak yang pemah menjadi musuh Iran dalam Perang Teluk tidak hadir. Sejak semula Irak memang menyatakan memboikot KTT OKI. Dengan demikian makian Emir Kuwait praktis tidak mendapatkan tanggapan Irak.

Dalam KTT ini kepada negara/pemerintahan 13 negara, yang berarti setengah dari seluruh jumlah anggota Liga Arab tidak hadir. Namun mereka tetap mengirimkan utusannya.

Delegasi Republik Indonesia untuk pertamakalinya dipimpin langsung oleh Presiden Soeharto, disertai Menlu Ali Alatas, Menteri Agama Munawir Sjadzali dan Mensesneg Moerdiono.

Salah satu ciri khas KTT yang sekarang ini adalah tampilnya Republik Azerbaijan yang diterima sebagai anggota ke-45 OKI. Republik Kazakhstan juga hadir, tetapi belum menyatakan keinginannya untuk menjadi anggota OKI.

Penerimaan atas Republik Azerbaijan merupakan fenomena menarik, di saat-saat semakin banyaknya negara-negara bagian yang melepaskan diri dari Federasi Uni Soviet.

Anggota delegasi Republik Doshazadeh Allashakoor mengatakan, diterimanya Azerbaijan sebagai anggota OKI merupakan pengakuan bagi kemandirian negara tersebut.

Dalam bentuk federasi lama Uni Soviet terdapat lima lagi negara bagian yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jika negara-negara itu kemudian juga bergabung, maka OKI akan semakin besar pengaruhnya di dunia ini.

Ciri lain yang juga menarik adalah hadirnya utusan Front Nasional Moro, gerakan Islam dari Filipina bagian selatan, walaupun kedudukannya hanya sebagai pengamat dan belum anggota OKI. KTT OKI yang dibuka tanggal 9 Desember dan berlangsung hingga 12 Desember 1991 itu menyusun beberapa mata agenda yang dipersiapkan sebagai bahan penyusunan resolusi.

Masalah-masalah utama yang tercatat sebagai bahan pembicaraan meliputi dukungan terhadap konferensi perdamaian Timur Tengah khususnya konflik Arab-Israel, mendukung posisi Libya dalam kasus peledakan pesawat Panama di Lockerbee (1988) dan mengecam serbuan Irak atas Kuwait.

Bisa dimengerti kalau Irak yang mungkin sudah mengetahui sebelumnya bahwa pihaknya bakal dikecam secara terbuka, pilih memboikot KTT OKI tersebut. Para delegasi KTT OKI juga melontarkan kecaman tajam terhadap India atas perlakuannya terhadap warga Muslim di Jammu dan Kashmir.

 

RI Wakil Ketua

Dalam KTT Organisasi Konferensi Islam ini Republik Indonesia mendapatkan kepercayaan sebagai Wakil Ketua Sidang OKI. Negara-negara lain yang menduduki posisi wakil ketua adalah Suriah yang mewakili negara-negara Arab.

Senegal selaku tuan rumah dan sekaligus merupakan wakil negara-negara Afrika tertunjuk sebagai Ketua Sidang KTT OKI, Palestina ditunjuk sebagai Wakil Ketua Tetap OKI. Penunjukannya itu berdasarkan latar belakang bahwa pembentukan OKI tahun 1970karena didudukinya Yerusalem sebagai kota suci Palestina, oleh Israel.

Terpilihnya RI sebagai Wakil Ketua OKI tentu saja tidak lepas dari pertimbangan bahwa umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Selain itu juga keberhasilan pembangunan di Indonesia di bidang pertanian dan kependudukan, yang bisa dijadikan model bagi negara-negara anggota OKI yang sedang bermusyawarah itu.

Kepercayaan OKI terhadap Indonesia jelas merupakan satu kehormatan tersendiri, namun sekaligusjuga merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk semakin meningkatkan peranannya bersama masyarakat Muslim sedunia.

Sekretaris Jenderal OKI Dr. Hamid Al Gabid dalam sambutannya mengatakan KTT VI OKI itu sangat penting artinya bagi masa depan umat manusia sedunia. Karena, katanya, KTT OKI berlangsung ketika dunia sedang berubah yang ditandai oleh runtuhnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur dan usainya Perang Dingin.

 

Konferensi Mekkah

Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto juga menyatakan dukungannya serta menyambut baik prakarsa Arab Saudi untuk menyelenggarakan konferensi internasional di Mekkah mengenai masyarakat dan minoritas Islam.

Berbicara masalah ekonomi, Presiden Soeharto menyatakan bahwa ekonomi dunia terns merosot, walaupun negara-negara maju telah mengulangi janjinya untuk menciptakan kehidupan ekonomi yang menguntungkan.

Ia memberikan rincian bahwa pertumbuhan ekonomi dunia menurun dari 3,2 persen menjadi 1,8 persen pada tahun lalu dan tahun ini menurun sampai 0,7 persen.

Akibatnya, menurut Presiden Soeharto, ekonomi negara-negara anggota OKI terhambat dan kemiskinan tetap tidak mengalami kenaikan.

Karena itu Presiden Soeharto menekankan pentingnya pemupukan kerjasama dan solidaritas anggota-anggota OKI yang merupakan kunci keberhasilan mengatasi masalah-masalah tersebut.

“Indonesia dengan senang hati akan membagi pengalamannya khususnya di bidang pertanian kepada negara-negara anggota OKI,” tutur Presiden Soeharto pula.

Sementara itu delegasi Arab Saudi dalam KTT OKI itu menyatakan bahwa negara yang kaya dengan minyak bumi itu memutuskan untuk membebaskan utang­utang negara miskin anggota OKI.

Sementara itu Presiden Iran Ali Akbar Hashemi Rafsanjani dalam pidatonya menyatakan bahwa perundingan damai Arab-Israel tidak akan bermanfaat dan menyerukan perang suci untuk membebaskan tanah Palestina yang diduduki Israel.

Sekretaris Jenderal OKI Dr. Hamid AI Gabid dalam pidatonya menjelaskan bahwa negara-negara anggota OKI hingga kini masih belum memanfaatkan sepenuhnya dana pinjaman dari Bank Pembangunan Islam (IDB) untuk membiayai sarana dan prasarana pembangunan.

Menurut Gabid, sejak didirikannya OKI pada tahun 1975 IDB memiliki aset dua milyar dinar atau sekitar 2,6 milyar dolar AS. Menurut Gabid IDB didirikan dengan tujuan penggalangan dana untuk meningkatkan kerja sama ekonomi di kalangan negara-negara anggotanya.

Dalam pelaksanaan kegiatannya IDB bertindak seperti bank biasa memberikan bantuan untuk kepentingan pembangunan dan teknologi namun tidak memungut bunga atas dana yang dipinjam para anggotanya.

 

Sibuk Sekali

Zimbabwe dan Tanzania merupakan dua negara yang sangat berpengaruh di kawasan Afrika. Dengan demikian kunjungan Presiden Soeharto ke negara-negara tersebut merupakan langkah yang sangat penting.

Selain untuk menghadiri Konferensi K-15 dan KTT OKI yang begitu penting, sekaligus juga merupakan momentum yang sangat tepat untuk betjumpa dengan tokoh- tokoh penting dari negara-negara anggota Gerakan Non Blok.

Maka tidak aneh bila kesibukan Presiden Soeharto sangat luar biasa. Dalam kesempatan bertemu mereka Presiden Soeharto menyampaikan undangan untuk menghadiri Indonesia.

Tidak hanya itu, selaku Ketua KTT Non Blok mendatang, Kepala Negara juga menimba masukan-masukan berupa sumbangsih pemikiran untuk menentukan arah baru petjuangan Gerakan Non Blok.

Selama di Dakar saja Presiden Soeharto antara lain menerima kunjungan pemimpin PLO Yasser Arafat, Putra Mahkota Persatuan Emirat Arab Sheikh Hamid Al Shag, Presiden Guinea Bisaau Jaco Remardo Viciero.

Dalam pertemuannya dengan Presiden Soeharto, Yasser Arafat menyampaikan rasa terima kasihnya sebab Indonesia pernah mengirimkan bantuan pangan disaat-saat PLO sedang mengalami kesulitan pangan yang amat serius di beberapa tempat.

Selain mengharapkan agar Indonesia sekali lagi memberikan bantuan pangan sekarang ini, Yasser Arafat juga meminta dukungan RI agar Palestina benar-benar bisa mendapatkan haknya menjadi negara merdeka dan berdaulat di atas tanah airnya sendiri Palestina.

Arafat temyata tidak bertepuk sebelah tangan. Selain menyatakan dukungannya terhadap perjuangan Palestina, Presiden Soeharto juga menyatakan akan mempertimbangkan secara sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan pangan lagi.

Sejarah mencatat bahwa pembentukan OKI dimulai dan diilhami oleh peristiwa yang menimpa Palestina, terutama didudukinya kota suci Yerusalem. Kejadian itulah yang menggugah negara-negara Islam untuk bersatu padu membulatkan tekad menjalin kerja sama dan solidaritas.

Maka siapa pun yang memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap Palestina adalah tindakan yang sangat proporsional.

 

 

Sumber : MEDIA INDONESIA (09/01/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 50-54.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.