KUNJUNGAN TAK TERDUGA PRESIDEN DI IBU KOTA MENINJAU KEADAAN PASARAN SANDANG MENJELANG LEBARAN

KUNJUNGAN TAK TERDUGA PRESIDEN DI IBU KOTA MENINJAU KEADAAN PASARAN SANDANG MENJELANG LEBARAN

Presiden Soeharto didampingi Gubernur Tjokropranolo secara mendadak meninjau peternakan sapi perah di Setiabudi, Kuningan, Pasar Tanah Abang dan sentra industri konfeksi di Kampung Pluis Sukabumi Udik. Dalam peninjauannya Presiden prihatin melihat kearifan pengusaha konfeksi di Kampung Pluis yang menyedihkan.

Kedatangan Presiden di Pasar Tanah Abang tidak terduga oleh pengunjung maupun pimpinan PasarTanah Abang. Beberapa pengunjung kaget ketika melihat Kepala Negara dengan rombongan langsung berdialog dengan pemilik kios di Tanah Abang.

Gubernur DKI Tjokropranolo sendiri baru memperoleh pemberitahuan Rabu pagi. "Saya baru tahu setelah ditelpon dari Cendana tadi pagi,"

Semula pemilik kios di Tanah Abang hanya mengenali Gubernur DKI Tjokropranolo. Setelah diberitahu yang datang presiden Soeharto, mereka terkejut.

Dalam tanya-jawab dengan pedagang, Kepala Negara memperoleh penjelasan keadaan pasar tekstil dan pakaian-jadi menjelang Lebaran.

"Dibanding tahun lalu bagaimana keadaan sekarang ini," tanya Kepala Negara kepada seorang pemilik kios sambil mengamati pakaian jadi yang dijual. ‘Tahun ini lebih baik pak," jawabnya. Sekaligus dijelaskan pemasaran tekstil dan pakaian-jadi di Tanah Abang ini tersebar keseluruh Indonesia

Dianjurkan Masuk Koperasi

Kepada pedagang itu juga ditanyakan wadah koperasi mereka. Kepada yang belum masuk koperasi, dianjurkan segera masuk koperasi. Lewat wadah ini Pemerintah mudah membinanya.

"Sudah masuk koperasi belum? "tanya Presiden kepada seorang lbu penjual tas.

"Belum pak, nanti kami akan masuk,"jawab pedagang itu malu-malu. Pernyataan ini disambut Kepala Negara dengan tersenyum.

‘Tas-tas ini dibuat sendiri? ”tanya Kepala Negara kembali kepada pedagang itu. Dijawab dengan anggukan.

"Berapa buruhnya sekarang, dan berapa gajinya ? "tanya Kepala Negara. "Sekitar 40 orang, rata-rata sekitar Rp. 20.000 sampai Rp. 30.000,- seminggu, pak"jawabnya.

"Cukup besar juga," komentar Presiden gembira.

Dalam peninjauan di pasar Tanah Abang yang penuh sesak pengunjung Kepala Negara juga sempat berdialog dengan beberapa pengunjung. Seorang nyonya dengan anaknya ditanya, apakah tekstil yang dibelinya dipakai sendiri atau dijual kembali.

"Dijual kembali pak jawab Nyonya agak kaget setelah mengamati yang menanyainya adalah Kepala Negara.

Pasar Tanah Abang selain merupakan pasar grosir tekstil juga merupakan pusat pasaran pakaian jadi produksi lokal dan tas yang dibuat oleh pengusaha di sekitar Jakarta dan daerah.

Rombongan sempat tertawa ketika Kepala Negara berdialog dengan seorang pemuda yang berdagang pakaian jadi wanita, ditanyakan apakah hasil yang diperoleh tiap hari di disisihkan untuk ditabung.

"Sebagian saya tabung, pak," jawab pemuda itu.

"Ditabung di bawah kasur atau di Tabanas?" susul Kepala Negara. "Ditabung Tabanas,"jawabnya kembali sambil tersenyum malu.

Di depan Kepala Negara dan Gubernur DKI Tjokropranplo, pedagang kaki-lima itu masih saja meneriakkan dagangannya ala pedagang kaki-lima.

"Ini murah, pak lumayan untuk Lebaran". teriak seorang pemuda sambil mengangsur tekstil ke hadapan Presiden. Begitu tahu kalau yang ditawari Kepala Negara, mereka tertawa.

"Ini pak, tekstil lebih bagus, susul pedagang di sebelahnya menarik perhatian Kepala Negara yang hanya bersafari abu-abu polos.

"Ramai ya sekarang ini," komentar Kepala Negara kepada pedagang yang tidak henti-hentinya berteriak menjajakan dagangannya.

"Lumayan pak untuk Lebaran nanti," jawab pedagang ini gembira.

Setelah rombongan Kepala Negara berlalu, pedagang yang usianya baru sekitar 20 tahunan itu, nyeletuk

"Kapan lagi menawari Presiden kalau tidak sekarang,".

Selama satu jam lebih Kepala Negara bersama Gubernur DKI keliling pasar Tanah Abang, selepas dari pasar ini rombongan melanjutkan peninjauannya ke pusat konfeksi darimana pakaian-jadi di Tanah Abang banyak diproduksi.

Dalam bertanya-jawab dengan para pedagang, kadang-kadang Kepala Negara harus mendekatkan telinganya karena pembicaraan sering terganggu oleh pengunjung yang semakin memenuhi sekitar rombongan. Petugas keamanan ikut kewalahan mengatasi desakan masa yang semakin ingin mendekat.

Ketika akan menuju kios lain, Presiden sempat melewati seorang remaja berumur sekitar 14 tahun, pedagang teh botol dingin. Sehari-hari melayani pedagang dan pengunjung pasar Tanah Abang.

"Berapa dapatnya sehari dari jualan teh botol ini." tanya Presiden tanpa diduga oleh yang ditanya.

"Limaribu pak," jawab remaja bemama Achmad asal Sumatra Barat, jebolan kelas 2 SD.

"Wah besar juga ya, lantas hasilnya untuk apa," Kepala Negara agak kaget mendengar penuturan Achmad.

”Dikirim ke kampung," jawab Achmad mantap sambil memperbaiki topinya yang mau jatuh.

Lalu Presiden menasehatkan kepada Achmad agar mulai menabung nantinya separuh penghasilannya dapat dipakai modal usaha.

"Kalau Rp. 2.500 saja ditabung, satu bulan bisa Rp. 75.000," kata Kepala Negara, "Jumlah itu besar dan kalau ditabung setahun bisa berapa ?"

Kaki lima

Dari kios-kios rombongan Kepala Negara langsung mendatangi pedagang kaki lima yang beljualan di pelataran parkir pasar. Mereka mendapat kesempatan berjualan di tempat itu selama musim Lebaran, selanjutnya harus dikosongkan kembali.

Menyedihkan

Melalui gang sempit dan kotor, rombongan Presiden menuju sebuah rumah petak terdiri dari tiga pintu, berlantai semen dan dinding bilik. Kondisi rumah -rumah tempat pengusaha konfeksi ini cukup menyedihkan.

Untuk memasuki rumah mereka, Presiden terpaksa menundukkan kepala karena pintunya rendah.

"Rumah ini kontrak ya, berapa setahun," tanya Presiden kepada penghuninya. "Tiga puluh ribu setahun, pak," jawabnya langsung sambil buru-buru mengenakan baju.

Pengusaha muda yang berumur sekitar tiga puluh tahun asal Comal itu sudah dua tahun berusaha di bidang konfeksi di Kampung Pluis RT 019 RW 05 Kelurahan Grogol Utara.

Dia terpaksa tinggal di rumah yang menyedihkan itu karena tidak mampu mengontrak rumah lebih baik, dan usahanya belum maju seperti pengusaha yang lebih lama umumya.

Melihat kondisi rumah yang menyedihkan itu, Kepala Negara memberikan petunjuk kepada Gubernur DKI Tjokropranolo agar ikut memikirkan masalah perumahan pengusaha kecil itu.

"Dipikirkan agar rumah susun empat tingkat di Jakarta itu, dua tingkat untuk pengusaha seperti ini," kata Kepala Negara.

Rumah susun yang dibangun Perumnas di daerah Tanah Abang, dan sekarang masih dalam tahap pembangunan, dinilai Kepala Negara tepat bagi penampungan pengusaha yang belum memiliki rumah sendiri. Potensi pengusaha konfeksi di Kampung Pluis itu pun cukup potensial.

Ketika memasuki salah satu rumah, Presiden tertegun melihat seorang pemuda meringkuk berselimut sarung di lantai alas tikar.

"Kenapa dia, apa sakit malaria," tanya Presiden Soeharto mendekati pemuda bernama Noor itu.

"Tidak tahu pak, sudah tiga hari panas dingin,"jawab Noor yang sehari- harinya buruh penjahit. Dia langsung terbangun begitu tahu yang berdialog dengannya adalah Presiden Soeharto.

Seorang penjahit di Pluis rata-rata menghasilkan 3 sampai 6 potong celana pria perhari. Upahnya Rp. 300,-/potong. Pemasaran pakaian hasil konfeksi Pluis ini dijual langsung keseluruh pasar di Ibu kota. Selusin celana dijual Rp.50.000,-

Keadaan kampung Pluis semula sepi Namun begitu warga tahu, mereka langsung berhamburan keluar rumah menyambut kedatangan Presiden Soeharto dengan rombongan.

Presiden melihat kondisi mesin jahit milik pengusaha di sana, umumnya sudah dimakan umur. Disarankan agar Pemda memperhatikan para pengusaha itu. Gubernur DKI Tjokrpranolo menjanjikan akan membina dan membantu peralatan mesinnya.

Di Kampung Pluis ini terdapat 186 pengusaha konfeksi, dihimpun dalam wadah Hipkop Jaya, sebagian besar berasal dari daerah Comal, Pemalang (Jawa Tengah). Di antaranya baru 32 pengusaha memiliki rumah sendiri, lainnya masih kontrak.

Diminta untuk Ekspor

Dari Kampung Pluis, rombongan melanjutkan peninjauan ke Sentra konfeksi Sukabumi Udik.

Sukabumi Udik, tiga tahun lalu kehidupan pengusahanya juga Senin Kemis, seperti konfeksi Pluis. Tetapi kini berkembang lebih maju. Di sini terdapat 450 pengusaha konfeksi celana Jeans dengan 2000 buruh.

Rata-rata seorang buruh memperoleh Rp. 1.500,- sampai Rp. 5.000.-sehari, tergantung keahlian masing-masing.

Presiden Soeharto berdialog dengan Kosim yang bekerja di perusahaan Sofyan. Kosim bekerja dari pukul 07.00 WlB sampai pukul 17 .00 WlB diselingi istirahat dan memperoleh upah Rp.5.000,-/hari.

Kedatangan Presiden mendadak ini sempat mengagetkan pemilik usaha konfeksi yang sekaligus ruangannya menjadi satu untuk rumah tangga.

Nyonya Sofyan yang mewakili suaminya menjelaskan bahwa dia pernah diminta memenuhi kebutuhan ekspor oleh seorang pedagang. Permintaannya satu hari harus dapat menyiapkan 300 potong. Tapi kesanggupan usaha pak Sofyan ini hanya 200 potong.

"Kita tidak sanggup memenuhi permintaan sebanyak itu," jawab Ny. Sofyan kepada rombongan. Begitu melihat mesin-mesin milik Sofyan yang sebagian besar tergolong baru, langsung ditanyakan Presiden dari mana diperoleh modal membeli mesin-mesin itu.

"Apa darimodal sendiri,’ tanya Presiden Soeharto sambil mengamati mesin-mesin itu. "Semula dari pak Tjokro itu," ujar Ny.Sofyan menunjuk Gubernur DKI Tjokropranolo yang berdiri di samping Presiden.

Dibenarkan oleh Gubernur, Pemda DKI pernah memberikan bantuan kredit. Tapi bantuan itu hanya untuk membeli beberapa buah mesin saja, selanjutnya dari bantuan tersebut dikembangkan menjadi belasan mesin tersebut.

Pemda DKI Jakarta tahun lalu membantu kredit Rp. 95 juta untuk 80 pengusaha yang membutuhkan, seluruhnya telah dilunasi kembali.

Omzet penjualan di Sukabumi Udik tiap bulan Rp. 12 milyar, di antaranya Rp. 7 juta untuk membayar upah buruh, sisanya berupa keuntungan pengusaha dan untuk membeli bahan baku jeans. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (31/07/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 792-796.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.