KUNJUNGAN KE AS UNTUK TEGASKAN KEMBALI PERSAHABATAN KEDUA NEGARA

KUNJUNGAN KE AS UNTUK TEGASKAN KEMBALI PERSAHABATAN KEDUA NEGARA

Presiden soeharto

Presiden mengatakan tujuan utama kunjungannya kali ini ke AS adalah untuk menegaskan kembali persahabatan antara kedua negara yang mempunyai dasar yang kuat karena adanya persamaan antara kedua bangsa mengenai nilai2 luhur yang dipegang teguh, seperti kemerdekaan dan kebebasan demokrasi dan kemanusiaan.

Presiden Soeharto mengemukakan hal ini dalam pidato balasannya pada jamuan makan malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Ronald Reagan, Selasa malam, di Gedung Putih Washington AS.

Bangsa Indonesia merasakan wujud persahabatan itu pada pengertian yang mendalam dan dukungan dari bangsa Amerika ketika Indonesia menegakkan dan mempertahanan kemerdekaan nasional 37 tahun yang lalu.

Pengertian yang dalam itu dirasakan lagi oleh bangsa Indonesia antara lain berupa kesediaan AS bersama-sama dangan negara2 IGGI lainnya dalam membantu ekonomi dan sosial Indonesia.

Untuk semuanya itu Presiden menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Amerika Serikat.

Indonesia menganggap bahwa masalah pembangunan yang kita hadapi sesungguhnya merupakan bagian dari masalah umat manusia.

"Jika sampai sekarang, dua pertiga umat manusia masih bergulat dalam perjuangan melawan kemiskinan, keterbelakangan, ketidaktahuan dan penyakit, ha! itu menunjukkan keadaan yang nyata dari yang sayakemukakan tadi," kata Presiden.

Karena itulah, kata Presiden Soeharto, diperlukan suasana yang memungkinkan kelancaran pembangunan semua bangsa.

"Namun dewasa ini suasana itujauh dari yang diharapkan," demikian Presiden Soeharto.

Dewasa ini dunia sedang dilanda resesi ekonomi yang berkepanjangan dan pergolakan2 yang timbul di berbagai kawasan.

Presiden mengakui telah banyak diusahakan langkah untuk mengatasi berbagai kemelut tersebut, tetapi hasilnya tidak menjamin penyelesaian secara tuntas.

Dalam rangka mengusahakan penyelesaian yang mendasar dan mencapai perbaikan keadaan yang menyeluruhan ketimpangan2 di dunia ini, maka satu2nya jawaban adalah agar semua bangsa, baik yang besar maupun kecil, yang kuat dan yang lemah, bersama2 berusaha dengan dilandasi oleh kemauan yang sungguh2 untuk membangun tata dunia baru yang menjamin keadilan politik, keadilan ekonomi dan sosial.

Ini tidak bisa lain harus merupakan sikap dan usaha bersama dari semua bangsa di dunia yang satu ini.

Dengan makin eratnya hubungan antara bangsa karena kemajuan yang dibawa oleh peradaban manusia sekarang dan seterusnya, maka mau tidak mau dunia harus dirasakan sebagai tanah air bersama oleh semua bangsa.

Namun demikian Presiden Soeharto mengakui bahwa membangun tata dunia yang baru itu tidaklah mudah.

Karena itu Presiden Soeharto menekankan harus ada langkah2 kongkrit yang setidak2nya dapat mencegah perkembangan dunia yang lebih buruk yang dapat membawa dunia kita yang satu ini jatuh ke dalam jurang mala petaka yang lebih besar, yang mungkin akan mengakhiri riwayat manusia dan kemanusiaan.

Dalam situasi dunia yang penuh dengan keprihatinan itu tentu saja pandangan dunia khususnya negara2 berkembang untuk kesekian kalinya tertuju ke AS.

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya di bawah kepemimpinan Presiden Ronald Reagan tidak akan henti2nya berusaha menegakkan keadilan dan perdamaian dunia serta mencegah timbulnya bencana bagi umat manusia.

Kekuatan bangsa yang besar ini, sejarah masa lampaunya yang penuh kegemilangan komitmennya pada kemanusiaan memberi peluang yang besar kepada Amerika Serikat untuk mengambil peranan yang penting dalam usaha seluruh umat manusia menciptakan dunia yang adil, damai dan sejahtera.

Dalam memikul tanggung jawab bersama untuk mewujudkan dunia yang demikian itulah Presiden menganggap kunjungan ke AS sebagai kesempatan yang sangat berharga untuk mengadakan tukar pikiran dengan Presiden Reagan danpara pemimpin AS lainnya.

Presiden Soeharto yakin kunjungan ini akan mempererat persahabatan, memperdalam saling pengertian antara kedua negara terutama di bidang ekonomi.

Pada awal amanat Presiden Soeharto menyatakan terima kasih atas kehangatan dan keramah tamahan yang diterimanya dalam kunjungannya ke AS untuk memenuhi undangan Presiden Ronald Reagan.

Presiden juga menyatakan bahwa kata-kata yang diucapkan Presiden Reagan sebelum memberikan kesan akan akrabnya persahabatan dan saling pengertian antara kedua negara.

Sambutan Presiden Reagan

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan mengatakan, Presiden Soeharto berhasil membawa bangsa Indonesia maju lebih jauh ke depan dan dia merupakan seorang pemimpin yang bijaksana dan mantap di Asia sejak 1966.

Presiden Reagan mengatakan hai itu dalam jamuan makan kenegaraan untuk menghormati Presiden Soeharto Selasa malam di Gedung Putih.

Ia menegaskan hubungan persahabatan Indonesia dan Amerika Serikat selama ini berurat akar dan berjalan erat serta tahan uji dalam menghadapi beberapa tantangan.

Reagan mengatakan, pembicaraan dengan Presiden Soeharto di Gedung Putih Selasa memperkuat kenyataan bahwa kedua belah pihak mempunyai pandangan yang sama dalam pelbagai hal.

Dalam sambutan itu Reagan mengungkapkan pula pengangkatan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia John. H. Holdridge, pembantu Menlu AS untuk urusan Asia Pasifik yang pernah menjabat sebagai Dubes AS untuk Singapura. Holdridge dilahirkan New York pada tahun 1924.

Dalam jamuan kenegaraan yang dihadiri oleh sekitar 124 orang tamu itu, kedua Presiden mengenakan "black tie" sedang Ibu Tien Soeharto mengenakan kain dengan kebaya berwarna ungu.

Presiden Soeharto duduk satu meja dengan Ny. Reagan dan Kepala Staf Angkatan Udara AS Marsekal Udara Gabriel bersama dengan dua orang wartawan masing-masing dari majalah Architecture dan New York Times. Sedang Ibu Tien Soeharto duduk bersama Presiden Reagan dan pejabat lainnya.

Jamuan makan berlangsung selama duajam itu ditutup dengan malam kesenian yang berupa pertunjukan opera.

Penjagaan pada jamuan kenegaraan itu, menurut laporan wartawan "Antara" AJ Makiwawu dari Washington, sangat ketat. Wartawan yang hadir diperiksa secara teliti disesuaikan dengan foto di kartunya.

Rabu pagi, sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat angkasaluar AS di Cape Canaveral, Florida, Presiden mengadakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia di New York.

Sambutan resmi di Gedung Putih Selasa pagi berlangsung tertib dan megah dengan 7 kali tembakan meriam dan defile. (RA)

Washington, Antara

Sumber : ANTARA (13/10/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 867-870.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.