KULTUS INDIVIDU

KULTUS INDIVIDU[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

PRESIDEN Soeharto kemarin meresmikan Jembatan Barito dan selesainya Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh dalam rangka Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional tahun 1996 di Desa Beringin, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Ada yang sangat menarik dalam pidato menjelang peresmian jembatan karya putra-putra Indonesia itu yakni penolakan Presiden Soeharto terhadap usulan nama “Jembatan Soeharto.” Pak Harto memilih nama “Jembatan Barito” dengan alasan,

“Pemberian nama jembatan dengan nama saya, saya khawatir dapat menimbulkan sikap kultus individu. Karena itu, pada peresmian sekarang jembatan ini saya beri nama Jembatan Barito.”

Sebelumnya DPRD Tingkat Kalimantan Selatan telah mengambil keputusan untuk mengusulkan pemberian nama Jembatan Soeharto kepada jembatan Barito ini. Presiden menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehormatan itu.

Peristiwa sederhana itu sebenarnya menyiratkan makna yang sangat dalam. Kita, segenap bangsa mestinya semakin memahami pribadi Pak Harto secara lebih utuh. Bahwa meskipun kita telah mencatat prestasi besar dalam memimpin bangsa, Pak Harto bukan tipe manusia ingin disanjung secara berlebihan. Bahwa kita diminta proporsional dalam memberikan penghargaan. Bahwa tidak ada keinginan Pak Harto untuk dikultus individukan.

Isyarat itu sangat jelas. Kiranya menjadi perhatian kita semua, jika secara pribadi tidak bersedia dikultus individukan, tentu Pak Harto juga tidak menghendaki sanjungan yang berlebihan kepada staff dan keluarganya.

Dalam buku otobiografinya “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya” mengakui selalu berpegang pada ajaran tiga “aja”, “aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh” Uangan kagetan, jangan heran, dan jangan mentang-mentang). Agaknya, keengganan untuk dikultus individukan itu sejalan dengan ajaran aja dumeh.

Masih dalam buku itu, Pak Harto menunjukkan dirinya bekerja tanpa pamrih.

“Sebagai Presiden, saya hanya merasa, bahwa saya memperoleh kepercayaan dari rakyat. Karena itu saya selalu ingin menghargai dan menghormati kepercayaan itu dengan bekerja sebaik mungkin,” tutur Pak Harto.

Kita yakin DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan sebagai wakil rakyat setempat mengusulkan nama “Jembatan Soeharto” dengan tulus dan berbagai pertimbangan. Tapi kita pun menghargai kearifan Pak Harto menolak namanya diabadikan untuk nama jembatan.

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap usulan DPRD Kalimantan Selatan, memang banyak di antara bangsa kita yang suka “latah”. Pernah misalnya nama Soekarno, Presiden pertama RI, dijadikan nama kota, Soekarno pura di Irian Jaya, tapi entah mengapa, dalam perjalanan zaman, nama itu diganti.

Kadang kala sulit dibedakan antara ketulusan dan kelatahan. Dalam konteks nama jembatan di atas sungai Barito itu, kita dapat memahami kearifan Pak Harto memilih nama lain, bukan nama “Jembatan Soeharto.”

Isyarat dari Pak Harto itu tentunya perlu menjadi bahan renungan kita di masa datang, bahwa segala upaya pengultusindividuan itu semestinya kita jauhkan dari wacana kehidupan berbangsa. Bahkan jika ada pihak-pihak yang berupaya, melakukan kultus individu patut kita curigai motivasinya .

Sejarah mencatat, baik di dalam maupun luar negeri banyak tokoh yang pada saat berjaya disanjung dan dikultus individukan, tapi karena perubahan situasi, tokoh-tokoh yang sama dilupakan, bahkan dicampakkan.” Kita tidak menginginkan kisah sedih itu terjadi di negeri tercinta.

Sumber: MEDIA INDONESIA (24/04/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 762-763.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.