KTT OKI DIBUKA DAN BERJALAN LANCAR : PRESIDEN PERSINGKAT LAWATAN

KTT OKI DIBUKA DAN BERJALAN LANCAR : PRESIDEN PERSINGKAT LAWATAN

 

 

Dakar, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto memutuskan mempersingkat perlawatannya yang sedianya akan berakhir hari Sabtu 14 Desember mendatang. Namun Menteri Sekretaris Negara Moerdiono yang memberikan keterangan ini di Dakar, belurm memastikan kapan Presiden akan pulang.

Menurut Moerdiono, alasan memperpendek kunjungan itu adalah lancarnya sidang-sidang KIT VI OKI (Konferensi tingkat Tinggi VI Organisasi Konferensi Is­lam) yang berlangsung di Dakar, Senegal, dan berbagai tugas yang memerlukan keputusan dan kehadiran Presiden Soeharto di Tanah Air.

Mensesneg yang memberikan keterangan pers Senin petang waktu setempat (Senin tengah malam WIB) di hotel di mana Kepala Negara RI menginap menyebutkan, Presiden Soeharto hari Selasa masih menjadi pembicara ke-4 dalam perdebatan urnum sidang KIT VI OKI ini, juga akan menerima berbagai kunjungan kepala-kepala pemerintahan negara dan memenuhi permintaan wawancara dari seorang wartawati.

Ia mengungkapkan pula bahwa Presiden Soeharto hari Minggu telah memberikan briefing kepada delegasi Indonesia dan penasihat-penasihat delegasi, serta telah mendengar laporan dari pertemuan tingkat menteri luar negeri yang mendahului KIT OKI tersebut.

Kesepakatan-kesepakatan dalam garis besarnya sudah kelihatan, kata Moerdiono lagi. Dan setelah menyampaikan pidato pada acara pembukaan umum (Senin, 9/12), Presiden bisa menyimpulkan untuk memperpendek kunjungan dan segera kembali ke Tanah Air.

 

Pertimbangan  Lain

Pertimbangan lainnya, kata Mensesneg adalah tugas-tugas di Tanah Air yang harus diselesaikan, khususnya penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 1992/93, yang setiap tahun merupakan tugas berat yang memerlukan keputusan-keputusan dari Presiden sendiri. Saat ini, RAPBN tersebut terus digodok oleh para menteri di Jakarta, dan Presiden Soeharto setiap hari menerima laporan.

Sebelum RAPBN itu final, lanjut Mensesneg, dibawa dulu ke sidang kabinet paripurna dan sebelum sidang kabinet itu diperlukan persiapan-persiapan.

Selanjutnya, seperti lazimnya, Kepala Negara akan menyampaikan pidato tutup tahun tanggal 31 Desember, berisi evaluasi perjalanan bangsa dan negara selama satu tahun. Dan yang sangat penting, pada minggu pertama Januari, Presiden Soeharto menyampaikan pidato di depan sidang umum DPR menyampaikan Nota Keuangan dan RAPBN 1992/93.

Wartawan Pembaruan Moxa Nadeak sebelumnya juga melaporkan bahwa Presiden Soeharto terpilih sebagai wakil ketua Konferensi Tingkat Tinggi VI OKI yang dibuka Senin siang (9/12) di Kompleks Raja Fahd (King Fahd Complex) di Dakar. Di samping Presiden Soeharto, juga terpilih sebagai wakil ketua, masing-masing Presiden Syria Hafez Assad dan pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Yasser Arafat.

 

Dibuka

KTT VI OKI ini dibuka terlambat 2 jam 20 menit dari jadwal semula, yaitu pukul 12.20 waktu setempat (pukul 19.20 WIB) karena keterlambatan hadir beberapa delegasi di kompleks itu. Emir Kuwait Sheikh Jaber AI Ahmad Al-Jaber Al-Yabah, selaku mantan Ketua KIT V OKI empat tahun lalu di Kuwait kemudian membuka sidang dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur ‘an dilakukan oleh seorang pemuda.

Setelah itu Emir Kuwait menyampaikan pidatonya dan memimpin pemilihan Ketua KTT VI OKI yang secara aklamasi menetapkan Presiden Senegal Abdou Diouf. Selanjutnya Emir Kuwait menyerahkan kursinya kepada Presiden Abdou Diouf

Presiden Senegal itu membuka sidang pemilihan wakil-wakil ketua. Delegasi Aljazair yang dipirnpin oleh Presiden Chadli Bendjedid mengusulkan ketiga nama di atas, yang disetujui sidang secara aklamasi.

Ketua KTT VI OKI itu pun menyampaikan pidatonya dalam bahasa Perancis. Diouf mengatakan, OKI harus mendorong kelanjutan perundingan perdamaian Tirnur Tengah, dan di atas segalanya, harus terus diusahakan oleh orang-orang Palestina, yang membutuhkan dukungan lebih dari pada waktu-waktu sebelumnya. Kewajiban kita menyatakan solidaritas itu harus mendapat dukungan dari komitmen kita terhadap perdamaian.

Juga, kata Presiden Senegal itu, bagi Timur Tengah yang sangat dekat pada hati kita masing-masing, sumber dari agama-agama wahyu, kebutuhan akan perdamaian adalah masalah kita terus-menerus, sama seperti di mana pun, dan apa yang telah kita capai harus secara konstan dikonsolidasikan.

Untunglah, kata Diouf, keyakinan agama kita membuat kita mungkin berjuang mencapai cita-cita itu sesungguhnya lah Islam menyatukan kita mengusahakan perdamaian di mana perdamaian tidak ada, mempertahankannya pada saat ia terancam, dan mengkonsolidasikannya saat mana ia ada atau saat mana ia tumbuh.

“Realitas juga memerintahkan kita agar kita meneruskan usaha-usaha perdamaian, sebab itu adalah kondisi yang tidak terelakkan untuk keamanan dan stabilitas dari negeri-negeri kita, dan pula, untuk kesejahteraan yang merupakan aspirasi rakyat­ rakyat kita. Tanpa perdamaian, kita tidak dapat menikmati  ketenteraman yang diperlukan untuk mencapai mobilisasi yang efisien dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapkan kepada kita”.

 

Sambutan-sambutan

Setelah pidato Presiden Senegal itu,konferensi mendengar riga sambutan masing­ masing mewakili Asia, Afrika dan Arab TimurTengah. Asia diwakili Presiden Iran Ali Akbar Hashemi rafsanjani, Afrika diwakili Presiden Gambia Daouda Kiraba Diawara, danArab timur tengah diwakili Presiden Libanon Elias Hraoui.

Setelah itu berturut-turut sambutan dari Sekretaris Jenderal OKI Dr Hamid AI Gabid. utusan dari Sekretaris Jenderal PBB yang tidak bisa hadir, Sekretaris Jenderal Liga Arab , Sekretaris Jenderal Organisasi Persatuan Afrika (OAU) dan dari wakil Gerakan Nonblok.

Wakil Afrika. Presiden Gambia Daouda Kairaba Diawara dalam pidatonya memuji Senegal sebagai benteng Islam dan selalu memperjuangkan cita-cita Islam. Bukan secara kebetulan Senegal menjadi tempat KTT ini, katanya.

Pada bagian lain pidatonya dalam bahasa Inggris, Diawara juga menyinggung, bahwa lima tahun terakhir bukanlah tahun-tahun yang mudah bagi organisasi ini. Serangan Irak terhadap Kuwait dikatakannya telah merusak persatuan Islam, dan mengharapkan agar tidak ada lagi serangan serupa itu dari suatu negara Islam ke negara tetangganya.

 

Penjagaan Ketat

Penjagaan sangat ketat terlihat dan terasa Senin pagi sejak memasuki kompleks Raja Fahd yang amat luas itu. Setiap kendaraan, bahkan para pengawal atau pendamping tiap delegasi harus diperiksa. Pemeriksaan itu berlangsung berlapis­ lapis.

Pimpinan-pimpinan delegasi tiba dengan pakaian kebesaran negeri masing-masing khususnya yang berasal dari Afrika. Umumnya pakaian mereka berukuran besar dan longgar-longgar lengkap dengan asesorinya, Pemimpin PLO Yasser Arafat barangkali merupakan satu-satunya delegasi yang di pinggang kanannya tergantung senjata genggam pistol.

Dalam buku panduan untuk wartawan disebutkan, lokasi Palestina adalah negara yang diduduki disebelah barat Asia dengan laut Tengah disebelah paling barat, Mesir disebelah selatan, Jordania di sebelah timur, Libanon di sebelah utara, dan Syria di sebelah timur laut. Negara ini disebutkan mempunyai luas 27.090 Km persegi ,dengan penduduk 4.536.000 jiwa, di antaranya  86 persen beragama  Islam.

Tamu-tamu

Senin petang, Presiden Soeharto menerima PM Bangladesh dan PM Pakistan serta Presiden Senegal Abdou Diouf. Presiden Senegal dalam pertemuan itu meyampaikan terimakasih kepada Presiden Soeharto atas kunjungan ke KTT ini. Menurut Mensesneg Moerdiono , semestinya Presiden Soeharto yang melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Senegal itu.

Tamu tamu Presiden Soeharto lainnya adalah Presiden Yasser Arafat, pemimpin PLO, Presiden Iran, Rafsanjani, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Abdullah. Kemudian Wakil Presiden Uganda, PM Maroko dan Sekjen OKI. Masih ada tiga kepala negara yang meminta untuk bertemu dengan Presiden Soeharto hari Selasa, yaitu PM Kamerun,Presiden Afghanistan dan Wakil PM Malaysia.

Anggota-anggota OKI yang berjumlah 46 negara adalah (dengan tahun masuk menjadi anggota OKI Afghanistan (1969), Aljazair (1969), Bahrain (1970), Bangladesh (1974), Benin (1982), Burkina Faso (berbatasan dengan Mali, Nigeria, Benin, Togo, Ghana dan Cote) (1975), Brunei Darussalam (1984), Camerun (1975), Comoro (1976), Djibouti (antara Tanduk Afrika dan Teluk djibouti) (1978), Mesir (1979), Gabon (1974), Cambia (1974), Guinea (1969), Guinea Bissau(1974), Indonesia (1969), Iran (1969), Irak (1970), Jordania (1969), Kuwait (1969), Libanon (1969), Libia (1969), Malaysia (1969), Sudan (1969), Syria (1970), Tunisia (1969),Turki (1969), Chad (1969), Persatuan Emirat Arab (UEA) (1975), Yaman (1969),Maldives (di Lautan Hindia, disebelah barat India dan Sri Lanka) (1976), Mauritania (1909), Mali (1969), Maroko (1969), Niger (di Afrika Barat, berbatasan dengan Libia, Aljazair, Benin. Mali, Burkina-Faso dan Chad) (1969), Nigeria juga di Afrika Barat, berbatasan dengan Benin, Niger, Chad dan Camerun) (1986); Oman (1970), Pakistan (1969), Palestina(1969), Qatar(1970), Arab Saudi (1969), Senegal (1970), Sierra Leone (1970), Somalia (1969), Uganda (1974), Republik Arab Yaman(1969), dan Republik Demokratik Yaman (1969). (SA)

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN (10/12/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 356-359.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.