KSAD Kolonel AH Nasution

KSAD Kolonel AH Nasution[1]

 

SETELAH dilantik menjadi KSAD, Februari 1950, Nasution mulai melakukan mutasi panglima. Panglima TT I Bukit Barisan Kolonel AE Kawilarang (KNIL, alumni KMA Bandung), dipromosi menjadi Panglima TT III Siliwangi. Sedangkan Panglima TT IV Diponegoro Kolonel Bambang Sugeng (PETA) diganti dengan Kolonel Gatot Subroto (KNIL+ PETA).

Selang dua tahun, pada Juni 1952, Panglima TT IV Diponegoro Kolonel Gatot Subroto diganti dengan Letnan Kolonel M Bahrum. Entah atas pertimbangan atau kriteria apa, KSAD Kolonel AH Nasution menetapkan Letnan Kolonel M Bahrum sebagai pengganti Gatot Subroto.

Bahrum dan Soeharto adalah alumni PETA sebagai Chudanco, dan sama-sama menjadi Komandan Brigade pada Divisi III pada waktu perang kemerdekaan.

Suasana kebatinan pada waktu itu tidak terlepas dari nuansa setelah perang kemerdekaan, jika yang dijadikan oleh Nasution sebagai kriteria atau bahan pertimbangan adalah perwira yang mengalami berbagai pertempuran dalam perang kemerdekaan dan memenangkannya, serta memiliki karakter kepemimpinannya yang kuat dan sudah teruji, maka sepatutnya Letnan Kolonel Soeharto yang menjadi panglima.

Adapun brigade Letnan Kolonel Soeharto yang berada di Yogyakarta, tentu Nasution sebagai Panglima Komando Jawa yang juga bermarkas di Yogyakarta, mengenal dengan tepat dan jelas tentang Letnan Kolonel Soeharto—mengetahui dengan persis kiprahnya selama perang kemerdekaan.

Sebagai Komandan Brigade X, Letnan Kolonel Soeharto berhasil menjaga keamanan dan ketertiban serta keberlangsungan jalannya roda pemerintahan di ibukota perjuangan Yogyakarta selama hampir empat tahun–menyelamatkan Republik Indonesia dari kudeta yang dikenal dengan peristiwa 3 Juli 1946, dan memimpin pertempuran penentuan Serangan Umum I Maret 1949. Serangan yang menghasilkan kemenangan strategis militer, sekaligus kemenangan politis diplomatis,

Menjadi pertanyaan, mengapa KSAD Kolonel AH Nusution malah memilih Letnan Kolonel M Bahrum sebagai pengganti Gatot Subroto, bukan Letnan Kolonel Soeharto? “Bunga Pertempuran” Jenderal Soedirman terpinggirkan.***

____________________________________________________________

[1]Noor Johan Nuh,  “Pak Harto dari Mayor ke Jenderal Besar”, Jakarta : Yayasan Kajian Citra Bangsa, hlm 28-29.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.