KORSEL IMPORTIR TERBESAR KELIMA KOMODITI INDONESIA

KORSEL IMPORTIR TERBESAR KELIMA KOMODITI INDONESIA

Jakarta, Antara

Korea Selatan saat ini merupakan importir terbesar kelima bagi barang-barang Indonesia, yang dalam tahun 1987 nilai impornya mencapai 825,3 juta dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya 424 ,4 juta dolarAS.

Menurut data yang diperoleh ANTARA dari Kedubes Korea di Jakarta, minyak dan gas merupakan komoditas dominan impor negeri itu dari Indonesia yang dalam tahun 1987 mendekati jumlah 400 juta dolar AS.

Korsel juga mengimpor dari Indonesia komoditi kopi, rotan, minyak residu, karet, barang-barang kimia, sepatu olahraga, minyak masak, dan amonia .

Dalam periode Juli 1968-Juli 1988 tercatat 31 perusahaan Korea Selatan mengadakan investasi di Indonesia meliputi usaha kontraktor, kayu lapis, kayu log, bidang kehutanan, perminyakan, gas alam, sepatu olahraga, tekstil, pakaian jadi, plastik dan berbagai industri lainnya.

Dubes Korsel di Jakarta, Young Sup Kim ketika menyambut hari kemerdekaan negaranya tanggal 15 Agustus lalu mengemukakan, hubungan negaranya dengan Indonesia khususnya dibidang ekonomi selama 17 tahun telah berkembang mencapai rekor.

Volume perdagangan dua arah telah mencapai 1.065 juta dolar AS pada tahun 1987 dari hanya sebesar 15 juta tahun 1970, katanya.

Keberhasilan kerjasama ekonomi Indonesia – Korea Selatan yang ditandai antara lain dengan perdagangan bilateral yang mencapai lebih dari satu miliar dolar AS setahun patut menjadi contoh bagi hubungan Selatan – Selatan, kata Dubes Kim.

Arifin Siregar

Sementara itu Menteri Perdagangan Arifin Siregar dalam upaya peningkatan ekspor komoditi non migas Indonesia ke Korsel, akan memimpin delegasi ekonomi Indonesia berkunjung ke negara itu.

Keinginan Indonesia itu dijelaskan Menteri Perdagangan Arifin Siregar kepada wartawan sesudah bersama Menmud Perdagangan Soedradjat Djiwandono melapor kepada Presiden Soeharto tentang berangkatnya delegasi ekonomi Indonesia ke Korea tanggal 11 September mendatang.

Arifin Siregar mengemukakan tekad Indonesia untuk meningkatkan ekspor non migas ke Korea Selatan, yang merupakan salah satu dari negara industri baru, mengingat sebagian besar dari jumlah ekspor Indonesia ke Korsel bidang migas.

“Yang ingin kita usahakan agar ekspor non migas terus meningkat,” kata Arifin Siregar.

Indonesia, kata menteri, juga berusaha untuk menarik lebih banyak modal Korsel datang ke Indonesia. Dengan dicabutnya fasilitas GSP bagi Korsel oleh AS mulai tahun depan, maka banyak pengusaha Korsel bersedia menanamkan modalnya di sini.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana meyakinkan pengusaha Korea Selatan untuk bersedia menanamkan modalnya disini.

Hasil produksi tersebut bisa diekspor ke negara-negara lainnya seperti Amerika Serikat, dan kawasan-kawan lainnya selain dipasarkan di Indonesia sendiri. Sementara itu Menmud Soedradjat Djiwandono pada bulan September akan berangkat ke Teheran dan mungkin ke Uni Soviet dengan tujuan yang sama.

Kendari, ANTARA

Sumber : ANTARA (30/08/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 352-354.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.