KOREA UTARA BERMINAT MENGIMPOR MINYAK DAN GAS BUMI INDONESIA

KOREA UTARA BERMINAT MENGIMPOR MINYAK DAN GAS BUMI INDONESIA

Soeharto-Li Bicara Empat Mata

Kedua Negara Diharapkan Menggerakkan Non-blok

Peningkatan kerja sama ekonomi baik di bidang teknik maupun di bidang perdagangan antara Indonesia dan Republik Demokrasi Rakyat Korea (Korea Utara) dibicarakan oleh Presiden Soeharto dengan PM Li Jong Ok di Istana Merdeka, Kamis kemarin.

"Hasil pembicaraan itu masih harus diikuti suatu follow-up," kata Menteri Sekretaris Negara Sudharmono selesai pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit Menteri Perdagangan 4 Koperasi Radius Prawiro menambahkan, dengan rekannya dari Korea Utara dibahas peningkatan hubungan perdagangan antara kedua negara, seperti penjajagan terhadap impor beberapa komoditas dari Indonesia oleh Korea Utara. Negara tersebut memerlukan karet, konsentrat nikel, besi spon dan lada serta sedikit kayu lapis”, tambah Radius Prawiro.

Sebelum musim panas tahun ini Korea Utara akan mengirim misi perdagangannya ke Indonesia guna mengkonkritkan peningkatan hubungan perdagangan tersebut.

"Karena itu, maka saya memandang perlu untuk meminta perhatian mereka guna pengiriman misi ini untuk menjajagi pengimporan yang lebih besar”, ujar Radius Prawiro.

Hubungan perdagangan antara kedua negara belum begitu besar. Beberapa tahun lalu Indonesia pemah mengimpor beras dari Korea Utara. Setelah Indonesia dapat mencukupi kebutuhan dari produksi dalam negeri, impor beras dari Korea Utara dihentikan.

Akibatnya impor Indonesia dari negara itu hanya sekitar 21 juta dollar AS, terdiri dari bahan baku gelas serta beberapa bahan kimia. Sedang impor Korea Utara dari Indonesia hanya sekitar 1,4 juta dollar. Demikian Radius Prawiro.

Sebelumnya Sudharmono mengatakan, negara itu juga berminat untuk mengimpor minyak dan gas bumi dari Indonesia. Tetapi kesemuanya itu masih perlu diteliti lebih lanjut dengan pengiriman tim teknis atau misi ke Indonesia untuk mengkonkritkan keinginan tersebut.

Menggalang Non-Blok

Pembicaraan antara Presiden Soeharto dan PM Li Jong Ok bedangsung terpisah dengan kelompok lainnya, seperti kelompok politik, dan kelompok ekonomi.

Dari pihak Indonesia hadir dalam pembicaraan itu, Mensesneg Sudharmono, Sekretaris Kabinet Moerdiono, Menteri Pertanian Soedarsono Hadisapoetro, Menteri Perdagangan & Koperasi Radius Prawiro, Dirjen Politik Deplu Munawir Sadzali, Direktur Asia-Pasifik M. Satari dan Dubes RI di Pjongjang, Djundjunan Kusumahardja.

Sedang dari pihak Korea Utara hadir Menteri Perdagangan Luar negeri Choi Jang Gun, Menteri Hubungan Ekonomi Luar negeri Jong Song Nam, Wakil Menteri Luar negeri Jo Gyu II, Dubes Korea Utara di Jakarta Pak Min Sop dan Sekretaris Perdana Menteri, Kim Mun Hyop.

Sudharmono menambahkan, dalam pembicaraan antara Presiden Soeharto dan PM Li Jong Ok dikemukakan bagaimana menggalang Gerakan Non-blok, karena kedua negara sama-sama anggotanya.

Indonesia dan Korea Utara sama-sama menginginkan agar Gerakan Nonblok betul-betul non-blok, tidak terseret pada kepentingan sesuatu kekuatan atau sesuatu blok, tambah Sudharmono.

Dikatakan oleh Sudharmono, Presiden Kim II Sung mengirim surat kepada Presiden Soeharto yang disampaikan oleh PM Li Jong Ok. Tetapi Sudharmono tidak bersedia menjelaskan isi surat Presiden Kim II Sung tersebut. (RA)

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (05/02/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 980-982.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.